![]() |
| Anime Obrolan Kaum Marjinal |
Pagi itu, seperti biasa, Mang Midun duduk di bangku kayu di bawah pohon beringin dekat pasar. Warungnya baru saja sepi setelah para pelanggan berangkat bekerja. Di sampingnya, Jek Pakis sedang menunggu penumpang yang belum juga datang sejak matahari naik. Sementara Mak Irah baru pulang dari berbelanja dengan tas yang terlihat lebih ringan daripada daftar kebutuhan yang dibawanya dari rumah. Obrolan mereka pun mengalir ke kabar yang sedang ramai diperbincangkan: rencana pengajaran Bahasa Prancis di seluruh sekolah Indonesia.
"Saya penasaran," kata Jek Pakis sambil menyeruput kopi dari gelas plastik. "Kalau nanti anak-anak kita belajar Bahasa Prancis, kalimat pertama yang mereka hafal apa?" Mang Midun tertawa kecil. "Mungkin bukan 'bonjour', tetapi 'harga kebutuhan pokok naik lagi'." Mak Irah langsung ikut tertawa. "Kalau menurut saya, yang paling penting justru kalimat 'maaf, uang belanja bulan ini tidak cukup'." Ketiganya tertawa bersama. Namun seperti banyak tawa orang kecil, ada sedikit rasa pahit yang ikut terselip di dalamnya.
Mang Midun kemudian menatap warungnya. Beberapa rak terlihat kosong karena ia mengurangi stok barang yang semakin mahal modalnya. "Belajar bahasa asing itu bagus," katanya pelan. "Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi saya kadang berpikir, masih banyak sekolah yang kekurangan buku, kekurangan guru, bahkan ada yang ruang kelasnya perlu diperbaiki. Jangan sampai kita terlalu sibuk melihat jauh ke luar negeri, sementara persoalan di depan mata belum selesai."
Jek Pakis mengangguk setuju. Ia teringat anak sulungnya yang sering mengeluh karena tugas sekolah semakin banyak. "Anak-anak memang harus siap menghadapi dunia," katanya. "Tetapi dunia yang mereka hadapi bukan hanya Paris atau Eropa. Mereka juga harus siap menghadapi biaya pendidikan yang terus naik, lapangan pekerjaan yang makin ketat, dan kehidupan yang tidak selalu ramah." Ia tersenyum tipis. "Saya hanya berharap nanti mereka tidak sekadar pandai mengucapkan kata-kata asing, tetapi juga mampu memperbaiki hidupnya sendiri."
Mak Irah yang sejak tadi mendengarkan kemudian menambahkan satu hal yang membuat suasana sedikit berubah. Menurutnya, mempelajari bahasa baru tentu penting, tetapi jangan sampai anak-anak justru semakin jauh dari bahasa dan budaya yang mereka miliki. "Saya melihat sekarang banyak anak lebih mengenal kata-kata dari internet daripada bahasa yang digunakan kakek dan nenek mereka," ujarnya. "Padahal bahasa daerah bukan sekadar alat bicara. Di dalamnya ada cara berpikir, cara menghormati orang lain, dan cerita panjang tentang siapa kita sebenarnya."
Beberapa saat kemudian, ketiganya kembali terdiam. Angin pagi menggerakkan daun-daun beringin di atas kepala mereka. "Pada akhirnya," kata Mang Midun sambil berdiri untuk membuka warungnya kembali, "belajar Bahasa Prancis mungkin memang bisa membuka jendela dunia." Jek Pakis mengangguk. Mak Irah tersenyum. Namun sebelum beranjak pulang, ia sempat berkata, "Jendela memang perlu dibuka lebar-lebar, tetapi jangan sampai rumahnya sendiri lupa dijaga." Ketiganya kembali tertawa. Kali ini lebih pelan. Sebab mereka tahu, di negeri ini, sering kali yang paling sulit bukan belajar bahasa baru, melainkan memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyongsong masa depan (***)
