-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Rupiah Melemah, Publik Butuh Penjelasan yang Menenangkan

Kamis, 28 Mei 2026 | 07.56 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-28T00:56:28Z
Pandangan Redaksi Banyuasin Pos
 

Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.800 per dolar AS sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” memperlihatkan satu hal penting: pemerintah tampaknya masih percaya diri terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia.


Di tengah kecemasan masyarakat melihat nilai tukar rupiah terus bergerak melemah, ucapan itu memang bisa dibaca sebagai upaya menenangkan pasar. Pemerintah ingin memberi pesan bahwa situasi hari ini berbeda dengan masa-masa krisis yang pernah menghantam Indonesia pada akhir 1990-an. Cadangan devisa masih tersedia, perbankan relatif stabil, dan pasar obligasi disebut tetap terkendali.


Infografis Banyuasin Pos 


Namun di sisi lain, publik juga membutuhkan penjelasan yang lebih membumi dan mudah dipahami. Sebab bagi masyarakat kecil, ukuran ekonomi tidak selalu dilihat dari istilah “fundamental kuat” atau “yield obligasi menurun”. Yang dirasakan langsung justru harga barang yang perlahan naik, biaya hidup yang makin berat, serta kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi keluarga.


Ketika rupiah melemah, dampaknya bisa menjalar ke banyak sektor. Harga bahan baku impor meningkat, biaya produksi ikut terdorong, dan pada akhirnya masyarakat menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan. Karena itu, pernyataan pemerintah sebaiknya tidak berhenti pada keyakinan bahwa ekonomi “baik-baik saja”, tetapi juga harus dibarengi langkah konkret yang benar-benar terasa manfaatnya.


Pernyataan Purbaya bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai simulasi sebenarnya memberi sinyal bahwa negara tidak tinggal diam. Itu penting. Pasar membutuhkan kepercayaan, dan kepercayaan lahir dari kesiapan pemerintah menghadapi kemungkinan terburuk.


Hanya saja, komunikasi publik juga perlu dijaga. Dalam situasi ekonomi sensitif, masyarakat biasanya lebih mudah tersulut oleh kepanikan, rumor, atau spekulasi. Karena itu, setiap pernyataan pejabat harus mampu menghadirkan ketenangan tanpa terkesan meremehkan kekhawatiran yang sedang dirasakan rakyat. 


Indonesia memang belum berada dalam situasi krisis seperti 1998. Kondisinya berbeda jauh. Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa rasa percaya diri yang berlebihan kadang bisa membuat pemerintah terlambat membaca kegelisahan publik di lapangan.


Saat ini yang dibutuhkan bukan sekadar optimisme, melainkan keseimbangan antara keyakinan, kewaspadaan, dan transparansi. Sebab stabilitas ekonomi tidak hanya dibangun oleh angka-angka di layar perdagangan, tetapi juga oleh rasa percaya masyarakat terhadap negara yang mengelolanya (***) 

×
Berita Terbaru Update