-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Kambing Kurban

Rabu, 27 Mei 2026 | 10.23 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-27T03:23:25Z

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Beberapa hari menjelang Hari Raya Iduladha, kampung itu mulai sibuk seperti sarang lebah kena usik. Di tepian sungai, orang-orang sudah ramai membicarakan hewan kurban sambil duduk di pelantaran yang terbuat dari batang nibung tempat perahu biasa ditambatkan. Ada yang menawarkan sapi, ada yang sibuk mencari kambing gemuk, dan ada pula yang cuma datang untuk ikut memberi pendapat walaupun tidak membeli apa-apa. Anak-anak kecil paling senang kalau musim seperti itu datang karena mereka bisa melihat banyak kambing diikat di bawah rumah panggung.


Tahun itu Depati Leman berniat menyumbang seekor kambing kurban untuk surau kampung. Sejak beberapa hari sebelumnya, ia sudah berkali-kali mengatakan kepada warga bahwa kambing pilihannya harus besar, sehat, dan gagah supaya layak disebut kambing depati. Bahkan waktu minum kopi di balai marga pun ia masih sempat bicara soal kambing kurban sambil mengelus kumisnya perlahan.


“Kalau kambing kurban depati kecil,” kata Depati Leman serius, “nanti orang hilir ketawa.”


Penggawo Budin yang duduk dekat jendela langsung mengangguk cepat.


“Betul itu, Depati Leman. Minimal tanduknya harus kelihatan macam kerbau kecil.”


Ketib Nurdin yang sedang membaca kitab kecil di sudut balai hanya menghela napas pelan. Hulubalang Karim sendiri malah sibuk mengupas pinang sambil menahan senyum. Dalam hati, Hulubalang Karim merasa kambing kurban tetap kambing juga walaupun tanduknya sebesar apa pun.


Keesokan paginya Depati Leman pergi ke pasar hewan di kampung seberang bersama Hulubalang Karim dan Penggawo Budin. Pasar itu ramai sekali sampai suara kambing mengembik bercampur dengan teriakan pedagang dan bau rumput basah. Orang-orang berjalan berdesakan sambil memeriksa gigi kambing, memegang punggung sapi, dan menawar harga setengah mati.


Di tengah keramaian itu, seorang pedagang bernama Wak Jalil mendekat sambil menarik seekor kambing jantan besar berbulu putih kecoklatan. Tanduk kambing itu melengkung bagus dan janggutnya panjang sampai hampir menyentuh dada.


“Nah,” kata Wak Jalil bangga, “ini baru kambing pejabat.”


Mata Depati Leman langsung berbinar.


Kambing itu memang tampak gagah sekali dibanding kambing lain di pasar. Jalannya tegak dan dadanya bidang seperti tahu dirinya sedang diperhatikan banyak orang. Bahkan Penggawo Budin sampai mendekat sambil melongo kagum.


“Wah… ini kambing macam penghulu kambing.”


Hulubalang Karim tertawa kecil mendengar itu.


Wak Jalil lalu mulai memuji kambing dagangannya setinggi langit. Katanya kambing itu kuat naik bukit, makan apa saja, dan suaranya paling keras di antara kambing lain. Bahkan menurut Wak Jalil, kambing itu sangat pintar sampai bisa mengenali pemiliknya sendiri.


Depati Leman makin tertarik mendengar cerita itu. Ia lalu berdiri di depan kambing sambil memasang wajah berwibawa seperti sedang memeriksa prajurit kerajaan.


“Hm. Memang bagus.”


Kambing itu mendadak mendekat lalu mengendus ujung baju Depati Leman.


“Lihat!” seru Wak Jalil cepat. “Dia langsung hormat sama Depati Leman!”


Penggawo Budin langsung mengangguk-angguk.

“Nah, cocok itu.”


Padahal sebenarnya kambing itu cuma mencium bau pisang goreng yang masih terselip di saku baju Depati Leman sejak pagi tadi.


Tanpa berpikir panjang lagi, Depati Leman langsung membeli kambing tersebut walaupun harganya jauh lebih mahal daripada kambing lain di pasar. Hulubalang Karim sampai melirik diam-diam ke arah Penggawo Budin waktu melihat jumlah uang yang keluar dari kantong depati.


“Kalau kambingnya bisa bicara,” bisik Hulubalang Karim pelan, “mungkin dia sendiri kaget kenapa mahal nian.”


Penggawo Budin menahan tawa sambil pura-pura batuk.


Sesampainya di kampung, kambing itu langsung diikat di halaman balai marga supaya warga bisa melihatnya. Orang-orang pun ramai datang memperhatikan kambing kurban milik Depati Leman. Ada yang memuji tanduknya, ada yang bilang bulunya bagus, bahkan anak-anak kecil mulai memberi nama sendiri pada kambing itu.


Wak Senah yang datang sambil membawa kipas anyaman langsung berdiri lama di depan kambing.


“Matanya macam orang sombong,” gumamnya. 


Kambing itu memang agak aneh tingkahnya. Kalau ada orang lewat, ia suka mendadak menarik tali kuat-kuat. Kadang ia diam tenang seperti kambing alim, tetapi beberapa saat kemudian mendadak meloncat tanpa sebab jelas. Hulubalang Karim yang sejak awal kurang percaya pada kambing mahal itu mulai curiga juga.


“Depati Leman,” katanya pelan, “kambing ini jangan-jangan agak nakal.”


Depati Leman langsung mendecak.


“Kau iri saja karena kambing ini lebih gagah dari kau.”


Hulubalang Karim langsung diam sambil menahan senyum pahit. 


Masalah mulai muncul sore harinya.


Saat warga sedang ramai di balai marga membicarakan pembagian daging kurban, tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar.


MBAAAK!


BRAK!


Orang-orang langsung menoleh bersamaan.


Ternyata kambing kurban Depati Leman berhasil melepaskan tali ikatnya. Binatang itu berlari liar ke jalan titian sambil menabrak ember, bakul, dan jemuran warga. Anak-anak kecil langsung menjerit sambil berlarian ke pinggir jalan.


“Itu kambing depati lepas!”


Penggawo Budin langsung panik duluan.


“Kejar! Kejar!”


Hulubalang Karim segera melompat turun dari balai sambil mencoba menangkap tali kambing. Namun kambing itu malah makin liar dan berlari ke arah pasar tepian. Bahkan Wak Senah sampai hampir jatuh ke lumpur waktu kambing itu melintas di depan rumahnya.


“Ya Allah! Kambing setan!”


Depati Leman yang melihat semua itu langsung pucat. Dengan pakaian resmi hitam dan songkok batiknya, ia ikut turun mengejar kambing sambil memegang ujung bajunya supaya tidak tersangkut.


Suasana kampung mendadak seperti lomba lari besar. Orang-orang berteriak ke sana kemari sementara kambing itu terus meloncat liar seperti kerasukan semangat harimau. Ketib Nurdin yang baru datang dari surau sampai berhenti lama melihat keributan itu.


“Itu kenapa?”


“Kambing kurban Depati Leman lari!” jawab warga.


Ketib Nurdin langsung memijat dahinya sendiri.


Kejar-kejaran itu baru berhenti di tepian rawa belakang kampung. Kambing tersebut akhirnya tersangkut di semak-semak di bawah pohon nibung setelah terlalu lelah berlari. Hulubalang Karim berhasil menangkap talinya lebih dulu sambil terengah-engah.


“Dapat!”


Warga langsung bersorak lega.


Depati Leman datang paling belakang dengan napas ngos-ngosan dan songkok batik yang sudah miring sebelah. Bajunya penuh lumpur di bagian bawah karena tadi sempat terpeleset di jalan titian. Namun begitu melihat warga memperhatikannya, ia cepat-cepat membetulkan posisi songkoknya supaya tetap tampak berwibawa.


“Hm,” katanya sambil berdeham panjang. “Memang saya sengaja suruh kambing itu olahraga dulu.”


Hulubalang Karim langsung membuang muka ke arah rawa supaya tidak tertawa keras.


Sedangkan Penggawo Budin yang masih terengah-engah cuma bisa mengangguk sambil memegang lututnya sendiri (***) 

×
Berita Terbaru Update