-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Beduk Hilang

Jumat, 22 Mei 2026 | 10.44 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-22T03:44:55Z
Ilustrasi 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Sudah hampir tiga puluh tahun beduk tua di surau itu tergantung di serambi depan. Kayunya mulai menghitam dimakan usia, tetapi suaranya masih berat dan panjang kalau dipukul menjelang magrib. Orang-orang kampung bilang suara beduk itu bisa terdengar sampai ke ujung rawa ketika malam sedang sunyi. Bahkan anak-anak kecil yang sedang mandi di sungai pun tahu kapan harus pulang hanya dari bunyi beduk surau itu.


Karena itulah seluruh kampung geger waktu beduk itu tiba-tiba hilang pada suatu pagi. Ketib Nurdin yang pertama kali menyadarinya ketika hendak menyapu serambi surau sebelum matahari naik. Tali rotannya masih tergantung di tiang, tetapi beduk besarnya sudah tidak ada di tempat. Yang tersisa cuma bekas lumpur dan sedikit serpihan kayu di lantai papan.


“Astaghfirullah…”


Ketib Nurdin berdiri lama sambil memandangi tempat kosong itu. Mukanya langsung berubah tegang karena sepanjang hidupnya baru kali itu ada orang berani mencuri beduk surau. Ia segera memanggil beberapa warga yang lewat di jalan titian dekat surau. Tidak sampai setengah jam, berita itu sudah menyebar ke seluruh kampung lebih cepat daripada asap dapur pagi.


Wak Senah menjadi orang yang paling heboh mendengar kabar itu. Perempuan tua itu datang sambil membawa kipas anyaman dan mulutnya tidak berhenti bicara sejak turun dari rumah panggungnya. Menurut Wak Senah, kehilangan beduk surau bukan perkara biasa. Ia bahkan mulai menghubungkan kejadian itu dengan suara burung hantu yang terdengar semalam dekat pohon rambai belakang kampung.


“Aku bilang juga apa! Semalam pasti ada tanda!”

Warga mulai ikut berbisik-bisik.

“Apa mungkin dicuri orang kampung sebelah?”

“Atau dibawa setan rawa?”

“Mana ada setan maling beduk,” gerutu seorang warga.


Tidak lama kemudian Penggawo Budin datang tergopoh-gopoh ke surau sambil berkeringat. Seperti biasa, wajah Penggawo Budin tampak terlalu serius untuk urusan yang sebenarnya belum jelas. Baru melihat tiang beduk kosong saja ia langsung menarik napas panjang seperti baru melihat kapal karam di sungai.


“Ini gawat,” kata Penggawo Budin pelan.

“Yang hilang cuma beduk,” jawab Ketib Nurdin datar.

“Tapi ini beduk surau!”

Ketib Nurdin menghela napas kecil. 


Penggawo Budin memang terkenal paling pandai membuat suasana makin tegang. Kalau ada ayam hilang, ia bisa bicara macam kehilangan kerbau satu kandang. Kalau ada perahu bocor, ia bisa membuat orang kampung merasa sungai akan tenggelam seluruhnya.


Menjelang siang, Depati Leman akhirnya datang ke surau bersama Hulubalang Karim. Songkok batik Depati Leman tampak rapi seperti biasa, sedangkan Hulubalang Karim berjalan di belakang sambil membawa tombak panjangnya. Padahal semua orang tahu tombak itu tidak ada gunanya untuk mencari beduk hilang.


Depati Leman berdiri lama memandangi tempat beduk biasa tergantung. Kumisnya bergerak perlahan waktu ia berpikir. Di depan warga, ia berusaha terlihat sangat tenang dan berwibawa, walaupun sebenarnya ia juga bingung siapa orang yang cukup nekat mencuri beduk sebesar itu.


“Hm,” gumam Depati Leman. “Ini pasti kerja orang yang sudah biasa mengangkat barang berat.”


Hulubalang Karim langsung mengangguk cepat walaupun belum tentu paham.


“Betul, Depati Leman.”

Penggawo Budin ikut menimpali.

“Atau jangan-jangan ada komplotan.”

Ketib Nurdin melirik tajam.

“Maling beduk pakai komplotan apa pula?”


Namun karena Penggawo Budin sudah bicara, warga mulai ikut takut juga. Beberapa ibu-ibu bahkan mulai memeluk anaknya sendiri seperti ada perampok besar berkeliaran di kampung. Wak Senah paling sibuk menebak-nebak siapa pelakunya. Sebentar ia menuduh orang kampung seberang, sebentar ia curiga pada tukang rakit kayu yang lewat tiga hari lalu.


Depati Leman akhirnya memutuskan semua warga laki-laki ikut mencari beduk sampai ke tepian sungai dan rawa belakang kampung. Perintah itu langsung membuat suasana makin sibuk. Ada yang membawa obor walaupun hari masih terang, ada yang membawa parang, bahkan ada yang membawa jaring ikan lagi entah untuk apa.


Hulubalang Karim memimpin rombongan menuju rawa dekat kebun pisang. Penggawo Budin berjalan paling depan sambil terus memberi teori macam-macam soal pencuri beduk. Kadang katanya beduk itu mungkin dijual ke kampung lain. Kadang ia bilang mungkin ada orang mau membuat beduk rahasia di hutan.


“Mana ada beduk rahasia,” kata Hulubalang Karim sambil tertawa kecil.

“Siapa tahu,” jawab Penggawo Budin cepat.

Ketib Nurdin yang ikut berjalan di belakang hanya menggeleng pelan.


Matahari mulai condong waktu rombongan sampai di tepian rawa belakang kampung. Lumpur hitam terlihat tebal di mana-mana. Bekas pijakan kaki juga mulai sulit dibedakan karena terlalu banyak orang lewat sejak pagi. Penggawo Budin mendadak berhenti sambil menunjuk ke arah semak-semak nibung.


“Itu apa?”

Semua orang langsung diam.

Dari balik semak terdengar suara berat memukul sesuatu.


DUMM…

DUMM…

DUMM…

Warga langsung saling pandang.

Wak Senah yang ikut dari belakang sampai memegang lengan Ketib Nurdin.


“Itu suara beduk!”

Penggawo Budin langsung berbisik panik.

“Jangan-jangan pencurinya sedang latihan perang.”

Ketib Nurdin menutup mata sebentar karena mulai pening mendengar omongan itu.


Depati Leman mengangkat tangan memberi isyarat supaya semua diam. Dengan langkah perlahan, rombongan mulai mendekati semak nibung sambil menahan napas. Hulubalang Karim menggenggam tombaknya erat-erat walaupun tangannya mulai berkeringat.


Suara itu terdengar lagi.

DUMM!

DUMM!

Lalu semak-semak bergerak keras.

BRAK!

Semua orang mundur setengah langkah. 


Ternyata dari balik semak muncul tiga anak kecil dengan wajah kaget. Salah satunya membawa pemukul kayu, sedangkan beduk surau yang hilang ternyata tergeletak miring di atas batang kelapa tumbang.


Suasana langsung sunyi.

Ketib Nurdin memicingkan mata.

“Kalian?”

Anak paling besar menunduk pelan.

“Kami cuma mau main beduk…”


Rupanya malam sebelumnya mereka diam-diam menurunkan beduk dari surau lalu membawanya ke rawa belakang kampung supaya bisa dipukul sepuasnya tanpa dimarahi orang dewasa. Karena terlalu berat, beduk itu akhirnya ditinggalkan di situ sampai pagi. Ketika mendengar seluruh kampung sibuk mencari, mereka malah takut mengaku.


Penggawo Budin langsung melongo.

“Jadi… bukan komplotan?”

“Komplotan anak kecil,” jawab Hulubalang Karim sambil tertawa.


Warga yang sejak tadi tegang mulai tertawa satu per satu. Bahkan Wak Senah yang paling heboh sejak pagi ikut malu sendiri sambil kipas-kipas muka. Depati Leman berdeham panjang lalu membetulkan songkok batiknya supaya tetap terlihat berwibawa.


“Hm. Baguslah beduknya ketemu.”

Ketib Nurdin melirik ke arah Depati Leman.

“Dari tadi Depati Leman juga hampir percaya ada maling besar.”

Depati Leman langsung pura-pura melihat rawa.


Sedangkan Hulubalang Karim dan Penggawo Budin sudah menahan tawa sambil saling menyenggol pelan di belakang warga (***) 

×
Berita Terbaru Update