![]() |
| Ilustrasi |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pagi itu balai marga sudah ramai bahkan sebelum matahari naik tinggi. Warga berdatangan dari berbagai penjuru kampung sambil membawa macam-macam barang yang sebenarnya lebih cocok untuk berburu daripada menyelidiki sesuatu. Ada yang menenteng parang, tombak, kayu nibung, sampai jaring ikan besar seperti hendak menangkap buaya rawa.
Di dalam balai, suasana makin hiruk-pikuk. Suara orang bertumpuk satu sama lain sampai sulit dibedakan mana yang benar-benar bicara dan mana yang hanya ikut panik.
“Aku dengar matanya merah menyala macam bara api!”
“Kalau dia lewat, tanah sampai bergetar!”
“Kebun pisang Wak Jemin habis diinjak semalam!”
“Jangan-jangan itu penunggu rawa!”
Wak Senah jadi orang yang paling sibuk sejak tadi pagi. Mulutnya tidak berhenti mengomel sambil menunjuk-nunjuk ke arah rawa belakang.
“Aku sudah bilang dari dulu, rawa itu jangan sering diganggu! Sekarang lihat sendiri! Siluman keluar!”
Di ujung balai, Depati Leman duduk di kursi kayu ukiran sambil mengelus kumis tebalnya perlahan. Songkok bulat bermotif batik masih terpasang rapi di kepalanya. Tongkat kebesaran depati berdiri di samping kursi seperti biasa.
Wajahnya tampak tenang dan penuh wibawa, walaupun di dalam hati sebenarnya dia mulai penasaran juga mendengar cerita warga yang makin lama makin aneh.
“Apa sebenarnya yang kalian ributkan sejak tadi?” tanya Depati Leman akhirnya.
Wak Jemin langsung berdiri tergesa-gesa sampai hampir tersandung tikar pandan.
“Kerbau siluman, Depati!”
Balai marga langsung kembali heboh.
“Besar sekali!”
“Matanya merah!”
“Kalau malam suaranya menggelegar!”
“Semalam muncul dekat rawa!”
Hulubalang Karim yang berdiri di belakang kursi depati segera menegakkan badan. Wajahnya terlihat serius, walaupun sorot matanya mulai menunjukkan rasa takut.
“Mungkin itu jelmaan penunggu rawa, Depati,” katanya perlahan.
Penggawo Budin cepat-cepat mengangguk setuju.
“Betul! Orang kampung sebelah juga katanya pernah melihat!”
“Kampung sebelah yang mana?” tanya Ketib Nurdin sambil mengangkat alis.
Budin mendadak terdiam beberapa saat.
“Ya… pokoknya ada.”
Ketib Nurdin menghela napas panjang. Sejak pagi kepalanya sudah mulai pening mendengar cerita yang makin melantur ke mana-mana.
“Itu mungkin cuma kerbau orang yang lepas,” katanya tenang.
Wak Senah langsung mendecak kesal.
“Mana ada kerbau matanya merah?”
“Itu karena malam.”
“Mana ada suaranya macam petir?”
“Karena badannya besar.”
“Ketib ini kalau bicara selalu merusak seramnya cerita,” gerutu Wak Senah.
Beberapa warga kecil langsung tertawa.
Depati Leman kemudian berdiri perlahan sambil memegang tongkatnya. Seketika seluruh balai jadi diam.
“Baik,” katanya dengan suara berat dan penuh wibawa. “Kalau memang begitu, malam nanti kita periksa rawa itu bersama-sama.”
Warga langsung kagum.
“Wah…”
“Berani benar Depati…”
“Memang pemimpin sejati…”
Padahal di dalam hati, Depati Leman mulai menyesal karena terlalu cepat bicara.
Menjelang malam, rombongan mulai berjalan menuju rawa belakang kampung. Obor menyala di tangan warga. Cahaya api memantul di genangan lumpur dan air rawa yang hitam pekat.
Di depan rombongan, Depati Leman melangkah sambil menggenggam tongkatnya. Hulubalang Karim berjalan sedikit di belakang sambil membawa tombak panjang.
“Karim,” bisik Depati Leman pelan.
“Iya, Depati?”
“Kalau nanti kerbaunya muncul… kau maju dulu.”
Karim pura-pura batuk kecil.
“Kalau menurut adat… pemimpin memang harus di depan.”
Depati Leman melirik tajam.
“Kalau begitu jatah berasmu bulan depan saya kurangi.”
Karim langsung merapat lagi ke belakang depati.
Mereka terus berjalan melewati jalan tanah dan semak rawa. Tiba-tiba terdengar suara berat dari arah gelap.
“MBOOOOOOO…”
Semua orang langsung berhenti.
Wak Senah memegang lengan orang di sebelahnya.
“Itu dia!”
Penggawo Budin hampir menjatuhkan obornya sendiri.
Suara itu terdengar lagi.
“MBOOOOOOO!”
Kali ini terdengar lebih dekat.
Semak-semak berguncang keras.
BRAK! BRAK! BRAK!
Tiba-tiba seekor kerbau hitam besar keluar dari rawa. Tubuhnya penuh lumpur. Tanduknya panjang melengkung. Matanya tampak merah terkena cahaya obor.
“Astaghfirullah!”
“Siluman!”
“Lariii!”
Orang-orang langsung kacau balau.
Hulubalang Karim malah jadi orang pertama yang berlari sampai sandal sebelah kirinya tertinggal di lumpur.
Depati Leman ikut mundur cepat, tetapi kakinya tersangkut akar nibung.
BUK!
Dia jatuh terduduk ke lumpur rawa.
Kerbau itu menoleh perlahan ke arahnya.
“Karim!” teriak Depati Leman panik. “Adat apa hulubalang lari duluan?!”
Karim menjawab dari kejauhan.
“Adat menyelamatkan diri, Depati!”
Kerbau itu mulai mendekat sambil mendengus berat.
Depati Leman langsung membaca semua doa yang masih diingatnya.
“Audzubillah… bismillah… ya Allah…”
Kerbau itu makin dekat.
Lalu tiba-tiba—
HAP!
Lidah besar kerbau menjilat songkok Depati Leman.
Semua orang langsung terdiam.
Ketib Nurdin memegang dahinya sendiri.
“Ya ampun… itu kerbau Pak Mail.”
Pak Mail yang sejak tadi berdiri di belakang warga langsung maju perlahan.
“Iya… memang itu kerbau saya.”
Wak Senah melongo kebingungan.
“Lalu mata merahnya?”
“Kena asap obor.”
“Bunyinya macam petir?”
“Karena badannya memang besar.”
“Kenapa keluar dari rawa?”
“Karena dia memang suka berendam.”
Suasana mendadak sunyi.
Depati Leman perlahan berdiri sambil membersihkan lumpur di bajunya. Songkok batiknya sudah miring dan basah oleh air rawa, tetapi dia masih berusaha terlihat berwibawa.
“Nah,” katanya sambil berdeham panjang. “Inilah pentingnya pemimpin turun langsung. Kalau tidak, kalian semua pasti terus ketakutan.”
Hulubalang Karim yang masih berdiri jauh langsung bersuara.
“Padahal tadi Depati jatuh sambil teriak-teriak…”
“DIAM!” bentak Depati Leman cepat.
Warga langsung tertawa keras.
Wak Senah bahkan sampai memegangi perutnya sendiri karena terlalu geli.
Depati Leman pura-pura tidak mendengar. Dia kembali berjalan gagah hendak pulang ke kampung.
Namun baru dua langkah—
PLOK!
Kakinya menginjak kotoran kerbau.
Tubuhnya langsung tergelincir dan jatuh lagi ke lumpur untuk kedua kalinya.
Kali ini bahkan kerbaunya ikut mendengus panjang seperti sedang menertawakan depati mereka sendiri (***)
