-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Purbaya Heran Rupiah Nyaris Rp17.800 per Dolar AS, Sebut Kondisi Ekonomi RI Masih Kuat

Kamis, 28 Mei 2026 | 06.30 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-27T23:30:00Z
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (foto: istimewa) 

Banyuasin Pos — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Menurutnya, kondisi ekonomi nasional saat ini justru masih berada dalam posisi yang cukup baik.


Pada perdagangan Selasa (26/5/2026), nilai tukar dolar AS tercatat menguat hingga berada di kisaran Rp17.795. Angka tersebut membuat rupiah kembali tertekan dan menjadi perhatian pelaku pasar maupun pemerintah.


Saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026), Purbaya mengatakan pelemahan tajam rupiah terasa tidak lazim karena biasanya penurunan kurs terjadi ketika kondisi ekonomi mengalami gangguan serius.


“Ekonomi kita sebenarnya bagus. Fundamentalnya juga masih kuat. Jadi kalau rupiah melemah sedalam ini memang terasa tidak masuk akal,” ujar Purbaya.


Meski begitu, pemerintah memastikan belum ada rencana melakukan simulasi ulang atau stress test terhadap APBN akibat tekanan nilai tukar tersebut. Purbaya mengaku pemerintah sebelumnya sudah menghitung berbagai kemungkinan, termasuk saat harga minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel.


Dengan nada bercanda, ia mengatakan justru dirinya yang mengalami stres menghadapi situasi pasar saat ini.


Menurut dia, skenario pelemahan rupiah sebenarnya sudah masuk dalam perhitungan pemerintah sehingga belum diperlukan perubahan besar terhadap postur anggaran negara.


Di sisi lain, pemerintah juga terus memantau pasar obligasi nasional. Purbaya menyebut imbal hasil atau yield obligasi Indonesia justru mengalami penurunan setelah pemerintah melakukan langkah stabilisasi melalui operasi pembelian Surat Berharga Negara (SBN).


Langkah itu dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor dan mengendalikan gejolak di pasar keuangan domestik.


Purbaya mengatakan kondisi pasar obligasi yang tetap stabil menjadi sinyal positif karena investor asing masih memiliki minat menanamkan modal di Indonesia. Bahkan, pemerintah mulai melihat adanya aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar obligasi dalam negeri.


Ia memastikan pemerintah akan kembali mengambil langkah lanjutan bila diperlukan untuk membantu menjaga kestabilan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.


Pelemahan rupiah belakangan ini juga memunculkan kekhawatiran publik terkait kemungkinan krisis ekonomi seperti tahun 1998. Namun pemerintah menegaskan kondisi saat ini berbeda karena indikator ekonomi nasional dinilai masih relatif terkendali (***) 

×
Berita Terbaru Update