![]() |
| Ilustrasi |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pemimpin Redaksi Banyuasin Pos
Di Tanah Melayu Banyuasin tahun 70-an sampai 80-an, orang-orang lebih sering menyebut Idul Adha sebagai Hari Raya Agung. Bukan Idul Adha. Bukan pula Lebaran Haji. Tapi Hari Raya Agung. Ada rasa besar yang menempel di nama itu. Seolah-olah langit sendiri sedang memakai pakaian terbaiknya, lalu turun perlahan ke kampung-kampung yang dikelilingi sungai, parit, rawa, dan hutan nipah.
Aneh memang jika diingat sekarang.
Karena pada masa itu, Hari Raya Agung justru lebih meriah daripada Idul Fitri. Orang boleh saja membeli baju baru saat puasa, tapi kegembiraan yang benar-benar panjang biasanya baru terasa ketika Hari Raya Agung datang. Bahkan anak-anak kecil pun hafal bahwa Idul Fitri cuma “rame sebentar”, sedangkan Hari Raya Agung bisa membuat kampung hidup sampai seminggu.
Dan orang-orang Melayu Banyuasin dulu punya cara sendiri untuk merayakan kebesaran.
Mereka tidak gaduh dengan pengeras suara. Tidak sibuk memotret sapi. Tidak pula berlomba menunjukkan siapa yang paling banyak menyembelih kambing. Kampung-kampung ketika itu masih miskin, tetapi kemiskinan zaman dahulu mempunyai sopan santun yang berbeda dengan kemiskinan sekarang. Ia tidak malu mengaku sederhana.
Orang-orang lebih sibuk menanak ketupat, memasak gulai, memanggang ikan sungai, membuat kue delapan jam, dodol, bolu kojo, dan menyimpan beras terbaik untuk tamu yang datang dari dusun lain. Sungai-sungai penuh perahu ketek. Anak-anak mandi beramai-ramai sejak pagi. Orang-orang tua duduk di lantai rumah panggung sambil bersarung dan bercakap sampai larut malam.
Hari Raya Agung adalah hari ketika kampung terasa lebih panjang daripada biasanya.
Waktu seperti melambat.
Kalau Idul Fitri kadang selesai dalam dua hari, Hari Raya Agung bisa empat hari paling cepat. Banyak pula yang merayakannya sampai seminggu. Bukan karena ada kalender resmi. Bukan karena keputusan pemerintah. Tetapi karena hati orang kampung memang belum rela cepat-cepat kembali bekerja.
Ada keluarga yang baru saling berkunjung pada hari ketiga. Ada yang baru memasak besar pada hari keempat. Ada pula yang sengaja menunggu sanak dari uluan datang naik perahu sehari semalam. Bahkan suara petasan bambu masih terdengar ketika orang kota mungkin sudah lupa bahwa lebaran belum lama lewat.
Dan lucunya, meskipun disebut juga hari raya kurban, pada masa itu penyembelihan sapi atau kambing justru relatif jarang.
Bukan karena orang Banyuasin tidak mengerti agama.
Mereka mengerti. Sangat mengerti. Tetapi kehidupan ekonomi masyarakat waktu itu belum memungkinkan. Seekor sapi bukan sekadar hewan ternak. Ia seperti tabungan berjalan. Seperti sawah hidup. Seperti masa depan keluarga. Menjual seekor sapi kadang dipakai untuk biaya sekolah anak, memperbaiki rumah, atau ongkos berobat ke Palembang.
Maka Hari Raya Agung lebih banyak dirayakan dengan kegembiraan sosial daripada kemeriahan penyembelihan hewan.
Masjid tetap ramai. Takbir tetap panjang. Orang tetap memakai pakaian terbaiknya. Tetapi jumlah hewan kurban bisa dihitung dengan jari. Kadang satu kampung hanya ada satu sapi. Kadang malah tidak ada sama sekali. Dan tidak seorang pun merasa imannya kurang gara-gara itu.
Karena agama pada masa itu tidak diukur dari banyaknya foto penyembelihan.
Orang Melayu Banyuasin dahulu mempunyai semacam kesadaran diam-diam bahwa kemeriahan agama tidak selalu harus berbentuk tontonan. Mereka lebih malu memperlihatkan ibadah daripada memperlihatkan kekurangan. Bahkan ada orang kaya kampung yang diam-diam membantu biaya kenduri tetangga tanpa pernah disebut-sebut namanya.
Hari Raya Agung waktu itu lebih mirip pesta batin.
Orang merasa dekat dengan keluarga. Dekat dengan kampung. Dekat dengan sungai. Bahkan dekat dengan suara alam. Malam-malam dipenuhi bunyi cengkerik dan suara dayung yang memecah air hitam. Lampu sentir bergoyang tertiup angin. Bau kayu bakar bercampur aroma santan dari dapur-dapur rumah panggung.
Anak-anak tidur kelelahan setelah berhari-hari bermain.
Orang dewasa lupa sejenak pada berat hidup.
Dan kampung-kampung Melayu Banyuasin pada masa itu seperti menemukan cara sederhana untuk mengatakan kepada langit: “Kami memang miskin, tapi kami masih tahu cara bergembira.”
Barulah sekitar pertengahan 1990-an sampai sekarang, penyembelihan hewan kurban mulai semakin ramai. Jalan-jalan mulai terbuka. Ekonomi berubah. Orang-orang merantau lalu pulang membawa penghasilan. Masjid bertambah besar. Syiar agama makin luas. Sapi dan kambing kurban makin banyak.
Hari Raya Agung perlahan berubah wajah.
Tetapi ada satu hal yang diam-diam hilang.
Dulu orang merayakan hari raya seperti sedang memeluk seluruh kampung. Sekarang kadang hari raya terasa seperti acara yang selesai sebelum sore. Dulu orang punya waktu untuk duduk lama tanpa tujuan. Sekarang bahkan saat bersilaturahmi pun tangan masih sibuk memegang telepon genggam.
Mungkin zaman memang harus berubah.
Tetapi kenangan tentang Hari Raya Agung di Banyuasin tahun 70-an dan 80-an tetap tinggal sebagai semacam suara jauh dari tepian sungai: tentang orang-orang sederhana yang tidak memiliki banyak sapi untuk dikurbankan, tetapi mempunyai hati yang lapang untuk memuliakan hari besar Tuhan (***)
