![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
Di wilayah Melayu Banyuasin, nibung bukan sekadar tumbuhan rawa. Ia adalah bagian dari ingatan hidup masyarakat. Orang-orang tua dulu mengenal nibung bukan dari buku pelajaran, melainkan dari lumpur rawa, tepian sungai, dan suara kapak yang menebas batangnya di tengah hutan air. Di banyak kampung tua, terutama kawasan pesisir dan rawa pasang surut, nibung pernah menjadi penyangga kehidupan: menjadi pelantaran, tiang rumah, pagar, jembatan kecil, bahkan menjadi bagian dari senjata tradisional yang dikenal sebagai kujur nibung Banyuasin.
Nibung atau Oncosperma tigillarium adalah sejenis palma rawa yang tumbuh di kawasan Asia Tenggara, termasuk Sumatera dan wilayah pesisir Banyuasin. Pohonnya tinggi lurus, berumpun seperti bambu, dan dipenuhi duri hitam keras di batang maupun pelepahnya. Dalam keadaan alami, nibung tumbuh di daerah rawa air payau, dekat mangrove, serta kawasan tanah basah yang berlumpur.
Bagi masyarakat Banyuasin, nibung dikenal karena kekuatan batangnya. Kayunya keras, tahan air, dan tahan rayap. Karena itulah sejak dulu nibung menjadi pilihan utama untuk tiang rumah di atas air. Di kampung-kampung tepian sungai, orang dahulu sering menanam tiang nibung langsung ke dasar lumpur. Anehnya, semakin lama terendam air, kayu nibung justru semakin kuat. Banyak rumah tua di daerah rawa yang tiangnya masih bertahan puluhan tahun karena menggunakan nibung.
Selain untuk rumah, nibung juga digunakan sebagai pelantaran. Dalam tradisi masyarakat rawa Banyuasin, pelantaran adalah jalan kayu sederhana yang dibangun di atas tanah becek atau rawa agar orang dapat berjalan tanpa tenggelam lumpur. Batang nibung yang lurus dan tahan lembab sangat cocok dipakai untuk kebutuhan ini. Ketika air pasang naik dan tanah berubah lunak, pelantaran nibung tetap kokoh dipijak.
Namun, salah satu penggunaan nibung yang paling khas di Banyuasin adalah sebagai bahan membuat kujur nibung Banyuasin. Kujur adalah senjata tradisional berbentuk tombak panjang yang dahulu digunakan masyarakat untuk berburu, menjaga kampung, maupun sebagai simbol keberanian. Batang nibung dipilih karena ringan tetapi kuat. Seratnya rapat sehingga tidak mudah patah saat digunakan. Dalam beberapa kisah lisan masyarakat OMB, kujur nibung bahkan sering disebut sebagai senjata para pendekar sungai dan penjaga dusun pada masa lalu.
Ada sesuatu yang menarik dari hubungan masyarakat Melayu Banyuasin dengan nibung. Mereka tidak memandangnya hanya sebagai kayu. Nibung adalah tumbuhan rawa yang ikut membentuk cara hidup. Ia hadir di halaman rumah, di jembatan kecil menuju rakit, di lantai pondok kebun, sampai pada alat pertahanan diri. Dalam kehidupan masyarakat pesisir, tumbuhan ini seperti teman lama yang selalu ada ketika manusia berhadapan dengan air dan lumpur.
Secara fisik, nibung memang memiliki karakter unik. Batangnya dapat mencapai puluhan meter, tumbuh tegak tanpa banyak cabang, dengan rumpun yang rapat. Daunnya menyerupai palem dan bagian batangnya dilindungi duri hitam panjang yang sangat tajam. Karena itu, menebang nibung bukan pekerjaan mudah. Orang tua dahulu biasanya memakai kain tebal atau kulit untuk melindungi tangan ketika membersihkan durinya.
Di beberapa daerah Nusantara, nibung juga dipakai untuk bahan atap, anyaman, hingga tiang perangkap ikan di perairan dangkal. Bahkan ada daerah yang menjadikan nibung sebagai simbol persaudaraan dan semangat hidup masyarakat pesisir.
Sayangnya, hari ini pohon nibung mulai semakin jarang ditemukan di beberapa kawasan rawa. Pembukaan lahan, perubahan bentang alam pesisir, dan berkurangnya hutan rawa membuat habitat nibung ikut menyusut. Padahal tumbuhan ini bukan hanya penting secara ekologis, tetapi juga menyimpan jejak kebudayaan masyarakat Melayu pesisir, termasuk di Banyuasin. (online-journal.unja.ac.id)
Di tengah zaman yang semakin modern, nibung sebenarnya masih menyimpan banyak pelajaran. Ia tumbuh di tempat yang dianggap sulit oleh banyak tumbuhan lain: rawa, lumpur, dan air payau. Tetapi justru dari tempat seperti itulah nibung menjadi kuat dan berguna. Mungkin karena itu pula orang-orang tua Banyuasin dahulu menyukai nibung. Ia keras, tahan lama, tidak mudah rebah, dan diam-diam menopang kehidupan banyak orang tanpa banyak bicara (***)
