-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Kujur Nibung Sakti

Jumat, 29 Mei 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-29T01:50:49Z
Ilustrasi 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 


Sudah sejak lama orang-orang di kampung itu percaya bahwa kayu nibung bukan kayu biasa. Batangnya keras seperti besi dan tahan puluhan tahun walaupun terus kena air rawa. Karena itulah pelantaran tepian sungai, tiang rumah, sampai tonggak tambatan perahu banyak dibuat dari batang nibung. Namun bagi orang-orang tua, nibung bukan cuma kuat, melainkan juga menyimpan tuah tertentu kalau dijadikan senjata.


Senjata itu disebut kujur nibung. Bentuknya panjang seperti tombak, tetapi seluruh bagiannya dibuat dari kayu nibung tua yang keras dan liat. Mata tombaknya dibentuk langsung dari ujung batang nibung yang diraut tajam, sedangkan bagian lehernya dililit rotan supaya lebih kuat dan tidak mudah pecah saat digunakan. Orang-orang dahulu memakai kujur nibung untuk berburu, menjaga kampung, bahkan melawan binatang buas di rawa.


Karena berasal dari kayu nibung tua pilihan, kujur itu dipercaya punya kekuatan tertentu. Ada orang yang bilang kujur nibung bisa menembus kulit buaya besar. Ada pula yang percaya senjata itu tidak mudah patah walaupun dipakai menikam batang kayu keras. Makin lama cerita tentang kujur nibung makin bercampur dengan kisah-kisah mistis sampai banyak orang kampung menganggapnya sebagai senjata bertuah.


Suatu sore Penggawo Budin datang tergopoh-gopoh ke balai marga sambil membawa kabar yang wajahnya saja sudah kelihatan terlalu heboh. Bajunya masih basah kena air sungai dan napasnya turun naik seperti habis dikejar anjing. Baru sampai di tangga balai, ia langsung berseru keras sampai beberapa warga terkejut.


“Depati Leman! Kujur nibung sakti itu ditemukan!”


Depati Leman yang sedang minum kopi hampir tersedak mendengar teriakan itu. Hulubalang Karim yang duduk dekat jendela langsung menoleh cepat sambil memegang tombak panjangnya. Ketib Nurdin sendiri masih tenang duduk di sudut balai sambil mengipas bara rokok daun nipah perlahan. 


“Kujur apa lagi ini?” tanya Depati Leman sambil mengernyit.


Penggawo Budin langsung mendekat dengan wajah penuh rahasia.


“Kujur nibung peninggalan zaman dulu. Kata orang, senjata itu kebal dan ada penunggunya.”


Ketib Nurdin langsung memejamkan mata sebentar.


“Belum apa-apa sudah ada penunggunya,” gumamnya pelan.


Rupanya kabar itu berasal dari seorang pencari ikan bernama Wak Juri. Pagi tadi, waktu menebang semak-semak di tepian rawa dekat hutan nipah, ia menemukan sebuah kujur tua tertancap miring di bawah pohon nibung besar. Kayunya sudah hitam mengkilap dimakan usia, tetapi bentuk mata kujurnya masih tampak jelas. Lilitan rotan pada bagian lehernya juga masih utuh walaupun warnanya sudah tua kecoklatan.


Menjelang malam, cerita tentang kujur nibung itu sudah menyebar ke seluruh kampung. Makin lama ceritanya makin aneh. Ada yang bilang kujur itu milik hulubalang kerajaan zaman dulu. Ada yang bilang senjata itu pernah dipakai melawan buaya putih penjaga rawa. Bahkan Wak Senah sudah mulai yakin kalau kujur tersebut bergerak sendiri waktu malam.


“Semalam pasti ada cahaya merah di rawa,” bisik Wak Senah serius.


“Wak Senah tak lihat apa-apa pun tetap bisa bikin cerita,” kata Hulubalang Karim sambil tertawa kecil.


Namun diam-diam Hulubalang Karim sendiri mulai penasaran juga.


Keesokan paginya Depati Leman memutuskan pergi melihat kujur nibung itu langsung. Ia berangkat bersama Hulubalang Karim, Penggawo Budin, Ketib Nurdin, dan beberapa warga lain menyusuri jalan kecil menuju rawa belakang kampung. Lumpur masih basah bekas hujan malam sebelumnya dan agas mulai beterbangan dari semak-semak bawah pohon nibung.


“Belum sampai sudah dimakan agas,” gerutu Penggawo Budin sambil menepuk lehernya sendiri.


“Kalau lanun tak datang, agas memang pasti datang,” sahut Hulubalang Karim.


Beberapa warga langsung tertawa kecil.


Perjalanan menuju tempat kujur ditemukan ternyata cukup jauh. Mereka harus melewati jalan titian kayu sempit, kebun pisang, lalu rawa dangkal yang dipenuhi akar nibung dan nipah liar. Sesekali terdengar suara burung hutan dari kejauhan bercampur bunyi air lumpur diinjak kaki warga.


Akhirnya mereka sampai di bawah pohon nibung besar tempat kujur itu ditemukan. Senjata itu memang masih tertancap miring di tanah rawa. Batang nibungnya hitam mengkilap terkena air dan lilitan rotannya tampak masih kuat melekat pada bagian leher kujur.


“Hm…” gumam Depati Leman sambil mendekat perlahan.


Penggawo Budin langsung berbisik kecil.


“Hati-hati, Depati Leman. Kata orang kujur sakti kadang marah kalau disentuh sembarang.”


Ketib Nurdin langsung menatap Budin malas.


“Kalau semua benda marah, hidup ini susah.”


Depati Leman lalu mencoba menarik kujur itu keluar dari tanah. Namun baru beberapa kali menarik, senjata itu tetap tidak bergerak sedikit pun. Hulubalang Karim ikut membantu sambil menggertakkan gigi, tetapi hasilnya sama saja.


“Berat nian…” keluh Hulubalang Karim sambil terengah.


Warga mulai saling pandang.


“Nah kan…” bisik Penggawo Budin pelan. “Memang sakti.”


Mendengar itu, beberapa warga langsung mulai percaya bahwa kujur tersebut memang bertuah. Bahkan ada yang mundur sedikit karena takut terkena bala. Wak Senah yang ikut dari belakang sampai sibuk membaca doa sambil kipas-kipas muka sendiri.


Depati Leman yang mulai gengsi karena tidak berhasil mencabut kujur itu akhirnya membuka baju luarnya lalu mencoba menarik lagi dengan tenaga penuh. Mukanya sampai merah dan urat lehernya menegang.


“HAAAH!”


BRAK!


Tiba-tiba Depati Leman jatuh terlentang ke lumpur rawa. 


Warga langsung terdiam sebentar sebelum suara tawa pecah di mana-mana. Songkok batik Depati Leman terlepas dan mengapung pelan di genangan lumpur. Hulubalang Karim buru-buru menahan tawa sambil membantu depati berdiri.


Namun di tengah keributan itu, Ketib Nurdin malah jongkok memperhatikan bagian bawah kujur tersebut lebih dekat. Setelah beberapa saat, ia mendadak tertawa kecil sendiri.


“Pantas tak bisa dicabut."


Semua orang langsung menoleh.


Rupanya bagian bawah kujur nibung itu ternyata sudah dijepit kuat oleh akar pohon nibung besar yang tumbuh melilit batangnya selama bertahun-tahun. Jadi bukan karena sakti atau ada penunggunya, melainkan karena kayu kujur itu sudah menyatu dengan akar rawa.

Suasana langsung sunyi sebentar.


Penggawo Budin menggaruk kepala pelan. 


“Jadi… bukan kujur sakti?”


Ketib Nurdin tersenyum tipis.


“Saktinya cuma di cerita mulut kalian.”


Beberapa warga langsung tertawa keras. Bahkan Hulubalang Karim sampai harus membuang muka ke arah rawa supaya tidak ketahuan tertawa melihat lumpur di wajah Depati Leman.


Depati Leman cepat mengambil kembali songkok batiknya lalu membersihkan lumpur di bajunya sambil pura-pura tetap tenang. Walaupun mukanya masih merah malu, ia tetap mencoba menjaga suara beratnya di depan warga. 


“Hm… bagus juga kita periksa langsung,” katanya pelan. “Kalau tidak, kalian semua nanti makin banyak bikin cerita."


Wak Senah yang sejak tadi paling takut justru paling dulu tertawa sambil menunjuk lumpur di celana Depati Leman. Sedangkan Penggawo Budin diam-diam mulai bercerita lagi kepada warga lain bahwa walaupun tidak sakti, kujur nibung itu tetap punya “sedikit aura.” (***) 

×
Berita Terbaru Update