-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Lanun

Kamis, 28 Mei 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-28T02:00:00Z
Ilustrasi 

Musim angin sungai sedang keras waktu kabar tentang lanun mulai terdengar di kampung-kampung tepian. Perahu-perahu dagang dari hilir mulai jarang berani berlayar malam karena katanya ada gerombolan perompak sungai yang suka menghadang di tikungan rawa gelap. Orang-orang menyebut mereka lanun. Kadang mereka merampas barang dagangan, kadang hanya mengambil beras dan ikan salai, tetapi cerita tentang mereka sudah cukup membuat banyak orang takut turun ke sungai setelah magrib.


Kabar itu pertama kali dibawa seorang pedagang rotan yang singgah di pelantaran batang nibung dekat pasar tepian. Mukanya masih pucat waktu bercerita kepada warga sambil minum kopi panas. Katanya dua malam sebelumnya ia hampir dirampok di sungai kecil dekat hutan nipah. Kalau saja ia tidak cepat mendayung ke arah rawa sempit, mungkin seluruh barang dagangannya sudah habis dibawa lanun.


“Jumlahnya banyak?” tanya Penggawo Budin cepat.


“Tak sempat kuhitung,” jawab pedagang itu. “Yang jelas mereka bawa parang dan penutup muka.”


Penggawo Budin langsung menarik napas panjang seperti baru mendengar kabar perang besar.


Sore itu balai marga langsung ramai. Warga duduk bersila di lantai papan sambil membicarakan cerita lanun dari mulut ke mulut. Makin lama cerita itu makin menyeramkan. Ada yang bilang lanun itu berasal dari laut. Ada yang bilang mereka tinggal di rawa hitam tempat buaya besar bersarang. Bahkan Wak Senah sudah mulai yakin bahwa pemimpin lanun itu punya ilmu kebal senjata.


“Kalau malam matanya merah macam bara,” bisik Wak Senah serius.


Ketib Nurdin yang duduk dekat tiang balai langsung memejamkan mata sebentar.


“Setiap ada cerita, pasti matanya merah,” gumamnya pelan.


Depati Leman duduk di kursi kayu ukiran di ujung balai sambil mengelus kumis tebalnya perlahan. Di depan warga, ia berusaha terlihat tenang dan berwibawa walaupun sebenarnya ia juga mulai penasaran dengan cerita lanun itu. Hulubalang Karim berdiri di belakang kursi sambil memegang tombak panjangnya. Namun dari wajahnya kelihatan jelas bahwa hulubalang itu lebih banyak gugup daripada garang.


“Kita tidak boleh takut,” kata Depati Leman akhirnya. “Kalau kampung ini takut sedikit-sedikit, nanti lanun makin berani.”


Penggawo Budin langsung mengangguk cepat.


“Betul itu, Depati Leman!”


Padahal tadi pagi justru Penggawo Budin sendiri yang paling dulu bilang tidak mau turun ke sungai malam-malam.


Malam berikutnya Depati Leman memutuskan membuat ronda sungai. Beberapa warga laki-laki diminta berjaga di pelantaran batang nibung dekat tepian sambil membawa obor dan tombak. Hulubalang Karim ditunjuk menjadi pemimpin ronda malam, walaupun mukanya langsung berubah sedikit pucat waktu mendengar keputusan itu.


“Kalau lanunnya banyak bagaimana?” bisiknya pelan kepada Depati Leman.


“Namanya hulubalang memang harus di depan,” jawab Depati Leman bijak.


Hulubalang Karim langsung diam sambil menelan ludah.


Malam itu sungai terlihat gelap sekali. Angin bertiup pelan membuat air bergerak berkilat terkena cahaya bulan. Di kejauhan terdengar suara burung malam dan sesekali bunyi ikan meloncat di permukaan air. Warga yang berjaga duduk rapat sambil memegang tombak masing-masing walaupun sebagian sebenarnya sudah mulai mengantuk.


Belum lama ronda dimulai, agas mulai datang bergerombol dari arah rawa dan hutan nipah. Serangga kecil itu beterbangan mengerubungi muka, telinga, dan tangan warga yang duduk dekat obor. Orang-orang mulai sibuk menepuk-nepuk leher sendiri sambil menggerutu pelan.


“Aduh… agas lagi,” keluh seorang warga.


Penggawo Budin yang duduk paling dekat obor malah jadi orang paling sibuk menampar pipinya sendiri.


“Lanun belum datang, darahku dulu habis dimakan agas.”


Hulubalang Karim sampai mengibas-ngibaskan kain sampinnya ke udara seperti orang mengusir ayam.


Ketib Nurdin yang ikut ronda hanya tersenyum kecil sambil menggosok minyak kelapa ke tangannya supaya agas tidak terlalu menggigit.


Penggawo Budin malah terus bercerita tentang lanun tanpa diminta.


“Kata orang hilir, mereka bisa naik ke rumah tanpa bunyi.”


“Diamlah sedikit,” gerutu Hulubalang Karim sambil menggaruk lehernya.


“Kenapa? Takut?”


“Bukan takut. Kupingku panas dengar mulut kau… sama digigit agas.”


Beberapa warga langsung tertawa kecil.


Tengah malam mulai lewat ketika tiba-tiba terdengar suara dayung dari arah sungai gelap.


CIPAK…


CIPAK…


Semua orang langsung diam.


Hulubalang Karim cepat berdiri sambil menggenggam tombaknya erat-erat. Penggawo Budin langsung mundur sedikit mendekati tiang pelantaran nibung. Bahkan beberapa warga mulai saling pandang dengan muka tegang.


“Itu dia…” bisik seseorang.


Suara dayung makin dekat.


CIPAK…


CIPAK…


Lalu samar-samar terlihat sebuah perahu panjang bergerak pelan dari balik kabut sungai.


“Lanun!” teriak Penggawo Budin mendadak.


Suasana langsung kacau.


Ada warga yang buru-buru mengambil parang. Ada yang hampir menjatuhkan obor sendiri. Hulubalang Karim bahkan sempat salah memegang tombak sampai ujung tajamnya menghadap ke belakang.


Depati Leman yang sejak tadi duduk mencoba tetap tenang perlahan berdiri sambil membetulkan songkok batiknya. Walaupun dadanya mulai berdebar, ia tetap berusaha terlihat gagah di depan warga.


“Tenang!” bentaknya keras. “Kita hadapi bersama!”


Perahu itu makin mendekat.


Dari dalam gelap mulai terlihat beberapa sosok duduk di atasnya dengan kepala tertutup kain hitam. Warga langsung makin panik. Penggawo Budin bahkan sudah mulai membaca doa keras-keras sambil memejamkan mata.


Namun waktu perahu itu benar-benar merapat ke pelantaran batang nibung, suasana tiba-tiba berubah sunyi.


Orang-orang di atas perahu ternyata cuma rombongan nelayan dari kampung hilir yang sedang membawa ikan asin ke pasar pagi. Kain hitam di kepala mereka hanyalah penutup hujan karena angin sungai sangat dingin malam itu.


Seorang nelayan tua memicingkan mata heran melihat warga berdiri sambil membawa tombak.


“Ini kenapa ramai benar?”


Tidak ada yang langsung menjawab.


Hulubalang Karim perlahan menurunkan tombaknya sambil pura-pura batuk kecil. Penggawo Budin cepat-cepat membuka mata lalu tersenyum kaku seperti tidak terjadi apa-apa. Sedangkan beberapa warga mulai menahan tawa melihat muka panik mereka sendiri.


Ketib Nurdin akhirnya tertawa kecil lebih dulu. 


“Lanun dari mana?” katanya sambil menggeleng.


Warga lain langsung ikut tertawa bersamaan.


Depati Leman berdeham panjang lalu membetulkan songkok batiknya supaya tetap terlihat berwibawa. Walaupun wajahnya sedikit malu, ia masih mencoba mempertahankan suara beratnya di depan warga.


“Hm… bagus juga kita berjaga malam,” katanya pelan. “Artinya kampung ini tetap waspada.”


Hulubalang Karim langsung membuang muka ke arah sungai supaya tidak tertawa keras. Sementara Penggawo Budin buru-buru duduk lagi sambil menggaruk lengannya yang sejak tadi merah digigit agas (***) 


×
Berita Terbaru Update