-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bahasa Prancis di Sekolah: Membuka Jendela Dunia, Tanpa Menutup Jati Diri

Sabtu, 30 Mei 2026 | 07.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-30T00:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Keinginan Presiden Prabowo Subianto agar Bahasa Prancis diajarkan di seluruh jenjang pendidikan Indonesia menjadi salah satu pernyataan yang langsung menarik perhatian publik. Disampaikan di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, gagasan tersebut bukan sekadar soal menambah mata pelajaran baru di ruang kelas. Di baliknya terdapat pesan yang lebih luas tentang bagaimana Indonesia mempersiapkan generasi mudanya menghadapi dunia yang semakin terhubung dan kompetitif.


Selama ini, bahasa asing di sekolah Indonesia hampir identik dengan Bahasa Inggris. Sebagian sekolah juga mengajarkan Bahasa Arab, Mandarin, Jepang, atau Jerman sesuai kebutuhan dan ketersediaan tenaga pengajar. Karena itu, ketika muncul gagasan menjadikan Bahasa Prancis sebagai bagian dari pembelajaran nasional, wajar jika masyarakat bertanya-tanya: apakah langkah ini benar-benar mendesak, dan bagaimana penerapannya nanti di lapangan?


Di satu sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa Bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa internasional yang memiliki pengaruh besar dalam diplomasi, ilmu pengetahuan, budaya, ekonomi, dan hubungan antarnegara. Bahasa ini digunakan di puluhan negara di Eropa, Afrika, Amerika Utara, hingga kawasan Pasifik. Semakin banyak bahasa yang dikuasai generasi muda Indonesia, semakin luas pula peluang mereka untuk mengakses pendidikan, beasiswa, pasar kerja, dan jejaring global.


Namun di sisi lain, pemerintah juga perlu melihat realitas pendidikan di daerah. Masih banyak sekolah yang bahkan kekurangan guru mata pelajaran dasar, belum memiliki fasilitas pembelajaran yang memadai, atau masih berjuang meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Karena itu, kebijakan apa pun yang berkaitan dengan penambahan kurikulum harus disiapkan secara matang agar tidak menambah beban baru bagi sekolah dan tenaga pendidik.

Yang lebih penting lagi, semangat mempelajari bahasa asing hendaknya tidak membuat kita mengabaikan kekayaan bahasa yang sudah dimiliki bangsa ini. Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat. Di Banyuasin misalnya, bahasa dan dialek Melayu yang hidup di tengah masyarakat merupakan warisan yang tidak kalah berharga dibanding bahasa-bahasa besar dunia. Membuka diri terhadap bahasa asing harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga bahasa ibu agar tidak perlahan hilang dari kehidupan generasi muda.


Hubungan Indonesia dan Prancis yang semakin erat tentu patut diapresiasi. Kerja sama di bidang pertahanan, teknologi, pendidikan, dan kebudayaan membuka banyak peluang yang bermanfaat bagi kedua negara. Jika pengajaran Bahasa Prancis benar-benar diwujudkan, maka yang dibutuhkan bukan sekadar kebijakan simbolik, melainkan peta jalan yang jelas, realistis, dan berpihak pada kebutuhan pendidikan nasional.


Pada akhirnya, belajar bahasa baru bukanlah ancaman bagi identitas bangsa. Justru sebaliknya, bahasa adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan dunia yang lebih luas. Tantangannya adalah memastikan bahwa ketika anak-anak Indonesia diajak mengenal bahasa dunia, mereka tetap berdiri kokoh di atas akar budayanya sendiri. Sebab bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang menutup diri dari pergaulan global, melainkan bangsa yang mampu bergaul dengan dunia tanpa kehilangan jati dirinya (***) 

×
Berita Terbaru Update