-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (22)

Minggu, 01 Februari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-01T02:00:00Z
Suatu pagi, Beremban Besi berdiri di tepi sungai bersama sang kakek. Air memantulkan cahaya langit, tenang dan luas.

BAB VI

Jejak yang Tidak Diminta
(Bagian 2)

Waktu berjalan tanpa penanda yang mencolok. Tidak ada hari istimewa yang membelah sebelum dan sesudah. Musim tetap berganti, hujan datang lalu pergi, dan ladang kembali menghijau seperti biasa. Namun bagi Beremban Besi, setiap hari kini terasa seperti ruang untuk menimbang apa yang telah terjadi.

Dulu aku hanya menghitung hari agar bisa bertahan, batinnya. Sekarang aku menghitung hari agar tidak lupa caranya hidup biasa.

Sang kakek semakin sering duduk diam di beranda. Ia masih mampu berjalan ke halaman dan ke tepi sungai, tetapi langkahnya kini lebih pendek, lebih hati-hati. Usia yang selama ini seolah disembunyikan oleh keteguhan akhirnya menampakkan diri pelan-pelan.

Beremban Besi melihat perubahan itu tanpa perlu diberi tahu. Ia bangun lebih pagi, mengambil alih pekerjaan yang biasanya dilakukan sang kakek, dan melakukannya tanpa banyak bicara.

“Kau tidak usah terburu-buru,” kata sang kakek suatu pagi ketika melihatnya memanggul alat ladang.

Beremban Besi berhenti sejenak.
“Aku tidak terburu-buru, Kek.”

“Kau ingin menggantikanku?” tanya sang kakek setengah bercanda.

Beremban Besi tersenyum tipis.
“Aku hanya berjalan di depan sedikit.”

Seperti dulu kau berjalan di depanku, batinnya.

Tidak ada pengumuman, tidak ada serah terima. Pergeseran itu terjadi begitu saja, seperti air yang perlahan mengubah alurnya tanpa suara keras.

Suatu sore, ketika matahari condong ke barat dan cahaya keemasan menyentuh permukaan sungai, sang kakek memanggilnya.

“Duduklah,” katanya.

Beremban Besi duduk di sampingnya. Angin sungai bertiup lembut, membawa bau lumpur basah dan daun nipah yang mulai mengering.

“Kau tahu,” kata sang kakek pelan, “aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi seperti sekarang.”

Beremban Besi menoleh.
“Aku hanya meniru apa yang aku lihat.”

Sang kakek tersenyum samar.
“Justru itu. Ilmu yang baik tidak membuat orang mengejar, tapi membuat orang berjalan.”

Mereka terdiam. Keheningan itu tidak canggung. Ia penuh oleh pemahaman yang tidak memerlukan penjelasan.

Berjalan, batin Beremban Besi mengulang. Bukan berlari, bukan meloncat jauh.

“Kek,” katanya setelah beberapa saat, “kalau suatu hari aku tidak ada di sini, apakah sungai ini tetap aman?”

Sang kakek tidak langsung menjawab. Ia menatap air yang mengalir, seolah bertanya pada sungai itu sendiri.

“Sungai tidak dijaga oleh satu orang,” katanya akhirnya.

“Lalu oleh siapa?” tanya Beremban Besi.

“Oleh ingatan,” jawab sang kakek. “Oleh cerita yang membuat orang berhenti sebelum merusak.”

Beremban Besi menunduk.
Jadi tugasku bukan berdiri selamanya, pikirnya. Tugasku memastikan orang lain mau berdiri sendiri.

Beberapa hari kemudian, sang kakek jatuh sakit ringan. Bukan sakit yang menakutkan, tetapi cukup membuatnya lebih sering berbaring. Beremban Besi merawatnya dengan sabar, menyeduhkan air, menyiapkan makan, dan duduk menemaninya tanpa banyak bicara.

“Kau sudah cukup,” kata sang kakek suatu malam. “Aku tenang melihatmu begini.”

Beremban Besi menatap wajah lelaki tua itu. Garis-garis di wajah itu seperti peta hidupnya sendiri.

Semua yang aku tahu tentang diam, aku belajar dari sini, batinnya.

“Jangan takut kalau aku tidak lagi banyak bicara,” lanjut sang kakek. “Yang perlu kau dengar sudah kau dengar.”

Beremban Besi mengangguk perlahan.
“Aku mendengarnya lama,” katanya lirih.

Di luar rumah, anak-anak sering bermain di tepi sungai. Suatu sore mereka menunjuk nipah yang berwarna kuning.

“Kenapa daunnya tidak hijau?” tanya seorang anak.

Seorang perempuan menjawab pelan, “Karena dulu di situ pernah ada kekacauan. Lalu ada yang menghentikannya.”

“Siapa?” tanya anak itu lagi.

“Orang yang tidak ingin disebut apa-apa,” jawab perempuan itu.

Beremban Besi mendengar percakapan itu dari kejauhan. Dadanya terasa hangat sekaligus berat.

Mereka tidak menyebut namaku, batinnya. Dan itu baik.

Cerita tentang dirinya mulai menemukan keseimbangan. Tidak lagi dibesar-besarkan, tidak pula dihilangkan. Ia menjadi bagian dari alur cerita, bukan pusatnya.

Suatu pagi, Beremban Besi berdiri di tepi sungai bersama sang kakek. Air memantulkan cahaya langit, tenang dan luas.

“Kau akan selalu diingat di sini,” kata sang kakek.

Beremban Besi menggeleng pelan.
“Biarlah sungainya yang diingat.”

Sang kakek tersenyum.
“Itu jawaban yang tepat.”

Hari itu, Beremban Besi berjalan menyusuri alur sungai sendirian. Ia tidak pergi jauh. Ia hanya ingin memastikan bahwa langkahnya kini tidak lagi dikejar bayang-bayang masa lalu.

Ia menyentuh batang nipah yang menguning. Kulitnya kasar, dingin. Ia melepaskannya kembali.

Aku tidak perlu membawa apa pun, batinnya. Jejak itu sudah cukup tinggal di tempatnya.

Ketika ia kembali ke kampung, senja mulai turun. Asap dapur naik perlahan, dan suara kehidupan kembali terdengar akrab—panci, tawa kecil, langkah kaki.

Di sanalah cerita tentang Beremban Besi benar-benar menjadi milik banyak orang. Bukan tentang tubuh yang tidak terluka, tetapi tentang sikap yang tahu kapan harus berdiri dan kapan harus kembali menjadi biasa.

Dan sungai terus mengalir, membawa cerita itu pelan-pelan,
tanpa menanyakan siapa yang pantas dikenang,
karena yang terpenting bukan nama,
melainkan ingatan yang membuat orang berhenti sebelum merusak (bersambung) 

×
Berita Terbaru Update