-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi

Minggu, 11 Januari 2026 | 19.02 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-11T12:16:06Z

Dari balik semak nipah, seorang lelaki tua muncul. Pakaiannya sederhana dan wajahnya tenang. Matanya menatap Beremban Besi dengan penuh perhatian.

“Budak,” kata lelaki tua itu pelan. Suaranya tidak keras, tetapi tegas. Beremban Besi berdiri dengan cepat.

“Jangan takut,” ujar lelaki itu sambil mengangkat tangan


BAB I

Anak Gondrong dari Muara Tambang
(Bagian 1)

Pada masa itu, Muara Tambang adalah kampung yang ramai dan hidup. Setiap pagi, perahu kecil bergerak menyusuri sungai membawa ikan, hasil kebun, dan barang keperluan rumah. Dari perahu-perahu itulah cerita ikut berpindah dari hulu ke hilir.

“Itu perahu Wak Jamin,” kata seorang ibu sambil menunjuk ke sungai. Ia berdiri di tepi air sambil menunggu suaminya pulang dari kebun. “Pasti bawa ikan banyak hari ini,” sahut ibu yang lain sambil tersenyum.

Rumah-rumah panggung berdiri di sepanjang tepi sungai dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Tiang-tiang kayu menopang rumah agar aman dari air pasang. Di kolong rumah, kayu disusun rapi dan anak-anak sering bermain hingga lupa waktu.

“Jangan main terlalu dekat sungai!” teriak Wak Saman dari atas rumahnya. Suaranya keras, tetapi penuh perhatian. Anak-anak hanya tertawa lalu berlari menjauh sebentar.

Bagi orang Muara Tambang, sungai adalah halaman depan rumah. Dari sanalah mereka saling melihat dan menyapa. Sungai juga menjadi tempat bertanya kabar dan berbagi cerita.

Namun, di tengah kampung itu, ada seorang anak yang sering terlihat sendirian. Ia lewat di depan rumah-rumah, tetapi jarang disapa lama. Banyak orang mengenal wajahnya, tetapi sedikit yang tahu kisah hidupnya.

“Itu budak gondrong,” bisik seorang perempuan kepada temannya. Suaranya tidak keras, tetapi cukup terdengar. “Iya, dia lagi,” jawab temannya sambil melirik sekilas.

Anak itu bernama Beremban Besi. Namanya dikenal oleh hampir semua orang di kampung. Namun, jarang ada yang memanggilnya dengan suara hangat.

“Siapa nama budak itu?” tanya orang luar kampung suatu hari. Wak Saman menoleh sebentar lalu menjawab, “Beremban Besi. Dia memang sering sendiri.” Jawaban itu terdengar biasa saja, seolah tidak ada yang perlu ditambahkan.

Sejak kecil, Beremban Besi terbiasa mengurus dirinya sendiri. Ia bangun pagi tanpa dibangunkan siapa pun. Ia juga tidur malam tanpa ditemani cerita atau nasihat.

“Budak itu tak pernah rewel,” kata Mak Itam suatu sore. Ia duduk di tangga rumah sambil menampi padi. “Mungkin sudah terbiasa,” jawab Mak Suri sambil mengangguk pelan.

Rambut Beremban Besi panjang dan jarang dipotong. Rambut itu kusut dan sering menutupi wajahnya. Karena itulah, anak-anak kampung sering memanggilnya anak gondrong.

“Eh, si gondrong datang,” kata Ujang sambil tertawa kecil. Beberapa anak lain ikut menoleh. Beremban Besi hanya menunduk dan terus berjalan.

Ia jarang ikut bermain dengan anak-anak lain. Jika mereka berlari dan tertawa, ia berdiri di pinggir sambil memperhatikan. Ia merasa lebih aman berada sedikit jauh.

“Ayo ikut main!” seru Jali suatu siang. Ia berhenti berlari dan menatap Beremban Besi. Beremban Besi menggeleng pelan tanpa berkata banyak.

“Kenapa kau diam saja?” tanya Ujang penasaran. Beremban Besi hanya menjawab, “Tak apa.” Jawaban itu selalu sama dan membuat percakapan berhenti.

Beremban Besi lebih suka mengamati. Ia melihat siapa yang mudah marah dan siapa yang suka menolong. Dari kejauhan, ia belajar memahami orang-orang di sekitarnya.

Kadang-kadang, ia duduk sendirian di tepi sungai. Ia melihat air mengalir pelan tanpa suara. Sungai itu tidak pernah bertanya, tetapi selalu ada.

“Budak itu betah benar duduk di situ,” kata Wak Jamin dari atas perahunya. Ia mendayung perlahan sambil memerhatikan sekeliling. “Biarlah,” jawab Wak Saman, “dia tak mengganggu siapa pun.”

Air sungai berwarna keruh, tetapi tenang. Beremban Besi sering mencuci kaki dan tangannya di sana. Dingin air membuat tubuhnya terasa segar dan ringan.

Setiap pagi, ia mencari makan sendiri. Kadang ia memetik buah liar di sekitar kampung. Kadang ia menangkap ikan kecil dengan tangan kosong.

“Kau dapat apa hari ini?” tanya Mak Suri suatu pagi. Beremban Besi mengangkat ikan kecil di tangannya. “Ikan,” jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.

Jika hujan turun, ia berteduh di kolong rumah yang kosong. Jika malam terasa dingin, ia menggulung tubuhnya rapat-rapat. Ia belajar bertahan tanpa banyak mengeluh.

Tak ada yang benar-benar mengajarinya. Semua ia pelajari dari pengalaman. Sedikit demi sedikit, ia menjadi terbiasa.

Orang-orang kampung sering melihatnya lewat begitu saja. Ada yang merasa kasihan, ada pula yang merasa heran. Namun, kebanyakan hanya diam.

“Kasihan juga budak itu,” kata Mak Itam suatu kali. “Tapi dia kuat,” jawab Wak Saman pelan. “Iya, tapi memang beda,” tambah yang lain.

Kata beda sering terdengar di telinga Beremban Besi. Ia tidak marah dan tidak membantah. Ia hanya menyimpannya di dalam hati.

Beremban Besi jarang menangis. Jika sedih, ia memilih diam dan duduk sendiri. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun.

Pada malam hari, suara sungai dan serangga menemani tidurnya. Angin malam kadang membuat tubuhnya menggigil. Namun, ia tetap berusaha tidur.

Jika terbangun, ia tidak memanggil siapa pun. “Tak ada gunanya,” gumamnya pelan. Ia lalu menunggu hingga rasa kantuk datang kembali.

Menunggu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ia menunggu pagi, menunggu hari berganti. Ia menunggu tanpa tahu apa yang akan datang.

Suatu siang, anak-anak kampung bermain di kolong rumah Wak Saman. Mereka berlari, tertawa, dan saling mengejar. Suasana menjadi ramai.

“Ayo kejar aku!” teriak Jali sambil berlari kencang. “Tunggu aku!” teriak Ujang dari belakang. Tawa mereka terdengar sampai ke tepi sungai.

Beremban Besi berdiri tidak jauh dari sana. Ia memperhatikan permainan itu dengan wajah tenang. Ia tidak ikut berlari.

“Kau tak ikut?” tanya Jali sambil terengah. Beremban Besi menggeleng pelan. “Tak apa,” jawabnya singkat.

Anak-anak itu kembali bermain. Beremban Besi tetap berdiri di tempatnya. Ia merasa lebih aman berada di situ.

Ia tidak merasa iri. Ia hanya belum tahu bagaimana rasanya punya teman dekat. Semua itu masih terasa asing baginya.

Baginya, hidup adalah tentang menjaga diri sendiri. Ia percaya bahwa itulah caranya bertahan. Ia belum mengenal arti bergantung pada orang lain.

Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan. Beremban Besi tumbuh sedikit demi sedikit. Ia menjadi anak yang peka dan waspada.

“Budak itu makin besar,” kata Wak Jamin suatu sore. Ia menambatkan perahunya di tepi sungai. “Iya, tetap pendiam,” jawab Wak Saman sambil tersenyum tipis.

Sore hari adalah waktu yang paling disukai Beremban Besi. Matahari mulai turun dan cahaya menjadi lembut. Angin sungai terasa sejuk di kulit.

Suatu sore, ketika ia duduk di tepi sungai seperti biasa, ia mendengar langkah kaki. Langkah itu terdengar pelan, tetapi jelas. Ia segera menoleh.

Dari balik semak nipah, seorang lelaki tua muncul. Pakaiannya sederhana dan wajahnya tenang. Matanya menatap Beremban Besi dengan penuh perhatian.

“Budak,” kata lelaki tua itu pelan. Suaranya tidak keras, tetapi tegas. Beremban Besi berdiri dengan cepat.

“Jangan takut,” ujar lelaki itu sambil mengangkat tangan. “Siapa namamu?” tanyanya kemudian. Beremban Besi menelan ludah sebelum menjawab.

“Beremban Besi,” katanya lirih. Ia menatap lelaki itu dengan hati-hati. Lelaki tua itu mengangguk pelan.

“Nama yang kuat,” kata lelaki itu akhirnya. Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi berbeda dari yang biasa ia dengar. Beremban Besi terdiam.

Saat itu, Beremban Besi belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ia merasakan sesuatu yang baru di dalam dadanya. Untuk pertama kalinya, ada orang dewasa yang benar-benar melihat dirinya (***) 

×
Berita Terbaru Update