![]() |
| Beremban Besi menatap makanan itu cukup lama. Tangannya tidak segera bergerak. Ia merasa ragu. |
BAB I
Anak Gondrong dari Muara Tambang
(Bagian 2)
Lelaki tua itu masih berdiri di hadapan Beremban Besi. Tatapannya belum berpaling, seolah sedang memerhatikan sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Beremban Besi merasakan dadanya sedikit sesak, bukan karena takut, melainkan karena merasa diperhatikan terlalu lama.
“Beremban Besi,” kata lelaki itu pelan. Ia mengucapkan nama itu seperti sedang memastikan bunyinya. Suaranya tenang dan tidak membuat Beremban Besi ingin mundur.
Anak itu tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya waspada, tetapi kakinya tidak melangkah pergi.
“Sejak kapan kau sering di sini?” tanya lelaki tua itu lagi.
“Lama,” jawab Beremban Besi. Ia tidak menambahkan apa pun. Bagi dirinya, kata itu sudah cukup.
Lelaki tua itu mengangguk pelan. Ia menatap sungai sebentar sebelum kembali melihat anak di depannya.
“Lama itu kadang artinya sejak tidak ada tempat lain,” katanya.
Beremban Besi tidak menjawab. Ia tidak sepenuhnya mengerti maksud kalimat itu, tetapi dadanya terasa hangat dan juga sedikit perih. Ia tetap berjaga-jaga.
Dari kejauhan, beberapa orang kampung mulai memperhatikan mereka. Biasanya, tidak ada orang dewasa yang berbincang lama dengan anak gondrong itu. Pemandangan ini terasa asing.
“Itu siapa?” bisik seorang perempuan.
“Entahlah,” jawab temannya. “Anak itu memang selalu sendiri.”
Lelaki tua itu seakan tidak peduli pada pandangan orang-orang. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada Beremban Besi. Tatapannya kini lebih lembut.
“Kau tinggal di mana?” tanyanya.
“Di sini,” jawab Beremban Besi. Ia lalu menunjuk ke arah rumah-rumah panggung. “Kadang di sana.”
Jawaban itu membuat lelaki tua itu menarik napas panjang. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi wajahnya berubah. Seolah ia baru memahami sesuatu yang selama ini tersembunyi.
“Sudah makan?” tanyanya kemudian.
Beremban Besi mengangguk ragu. Sebenarnya ia belum benar-benar kenyang, tetapi ia tidak ingin terlihat meminta. Ia terbiasa menahan diri.
“Ayo ikut aku sebentar,” kata lelaki tua itu.
Tubuh Beremban Besi menegang. Ia tidak langsung bergerak. Dalam hatinya muncul dua perasaan yang saling bertentangan.
Kalau ikut, bagaimana kalau terjadi apa-apa?
Tapi… suaranya tidak jahat.
“Aku tidak membawa apa-apa,” katanya pelan.
“Aku juga tidak meminta apa-apa,” jawab lelaki itu. Nada suaranya tetap tenang.
Beberapa detik berlalu. Akhirnya Beremban Besi melangkah, tetapi tidak sejajar. Ia berjalan satu langkah di belakang, menjaga jarak.
Mereka menyusuri tepi sungai. Langkah lelaki tua itu pelan dan teratur. Ia sesekali memperlambat langkahnya agar anak di belakangnya tidak tertinggal.
“Kau sering ke sungai?” tanya lelaki itu.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Tenang,” jawab Beremban Besi singkat.
Lelaki tua itu tersenyum tipis. Ia tidak bertanya lagi. Sungai memang sering menjadi tempat orang-orang menenangkan diri.
Mereka berhenti di sebuah pondok kecil. Seorang perempuan paruh baya keluar dan tampak heran melihat mereka.
“Siapa anak ini?” tanyanya.
“Cucuku,” jawab lelaki tua itu tanpa ragu.
Kata itu membuat Beremban Besi terdiam. Ia merasa kata itu terlalu besar dan asing. Dadanya bergetar tanpa ia mengerti sebabnya.
“Sejak kapan?” tanya perempuan itu.
“Sejak dulu,” jawab lelaki tua itu singkat.
Perempuan itu tidak bertanya lagi. Ia masuk ke dalam pondok dan kembali membawa sepiring nasi dan ikan.
“Makanlah,” katanya lembut.
Beremban Besi menatap makanan itu cukup lama. Tangannya tidak segera bergerak. Ia merasa ragu.
Bolehkah aku makan sebanyak ini?
Apakah nanti akan diminta kembali?
“Tak apa,” kata lelaki tua itu pelan. “Makan saja.”
Akhirnya Beremban Besi duduk. Ia makan perlahan, seolah takut makanan itu akan hilang. Setiap suapan terasa berbeda dari biasanya.
Lelaki tua itu memperhatikannya diam-diam. Cara anak itu makan membuat hatinya terasa berat.
“Orang-orang memanggilku Kek,” kata lelaki tua itu setelah beberapa saat.
Beremban Besi mengangguk. Ia belum berani memanggilnya begitu. Kata itu masih terasa asing.
“Kau tahu siapa aku?” tanya sang kakek.
Beremban Besi menggeleng.
“Aku ayah dari ibumu,” kata lelaki tua itu pelan.
Beremban Besi berhenti makan. Kata-kata itu terasa berputar di kepalanya. Dadanya terasa penuh.
“Ibumu sudah lama pergi,” lanjut sang kakek. “Aku kira kau juga sudah tidak ada.”
Ia tidak melanjutkan ucapannya. Keheningan terasa lebih kuat dari kata-kata.
“Aku tidak ingat apa-apa,” kata Beremban Besi lirih.
“Tak apa,” jawab sang kakek. “Nanti ingatan itu akan datang sendiri.”
Setelah makan, mereka duduk di tepi pondok. Sungai mengalir tenang di depan mereka. Tidak ada percakapan panjang, tetapi suasananya tidak canggung.
Beberapa orang kampung melintas. Mereka melirik sambil berbisik.
“Itu anak gondrong itu.”
“Katanya cucu orang hilir.”
Beremban Besi mendengarnya. Ia selalu mendengar. Namun kali ini, kata-kata itu tidak sepenuhnya melukai.
Apakah aku benar-benar punya keluarga?
Atau ini hanya sebentar saja?
Sore itu berlalu tanpa keputusan apa pun. Lelaki tua itu tidak memaksanya ikut. Ia tahu anak itu perlu waktu.
“Aku akan datang lagi besok,” kata sang kakek sebelum pergi.
Beremban Besi mengangguk. Ia tidak berkata apa-apa. Matanya mengikuti langkah lelaki tua itu sampai menghilang.
Malam itu, Beremban Besi sulit tidur. Kata-kata baru berputar di kepalanya: cucu, ibu, hilir. Ia mencoba memahami semuanya.
Ia belum tahu apa yang akan ia pilih. Namun satu hal ia rasakan dengan jelas.
Untuk pertama kalinya, ada orang yang melihatnya bukan sebagai anak aneh, melainkan sebagai bagian dari seseorang. Dan perasaan itu terasa sangat besar bagi anak yang selama ini tumbuh sendiri (***)


