-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (21)

Sabtu, 31 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-31T02:00:00Z
Ia kembali ke ladang. Tangannya kembali kotor oleh tanah. Ia kembali menyusuri sungai, mendayung seperti biasa. Tidak ada tanda yang ia pakai untuk membedakan dirinya.

BAB VI

Jejak yang Tidak Diminta
(Bagian 1)

Kepulangan Beremban Besi tidak disambut dengan sorak. Kampung menerimanya dengan sunyi yang rapi, seperti orang-orang yang paham bahwa ada peristiwa yang terlalu besar untuk dirayakan. Tidak ada yang berlari menyongsongnya, dan itu justru membuat dadanya terasa lebih ringan.

Syukurlah, pikirnya. Aku tidak tahu harus berdiri di mana jika mereka bertepuk tangan.

Orang-orang kembali ke kehidupan mereka perlahan. Ladang dibersihkan, perahu diturunkan, dan sungai kembali diperlakukan seperti hari-hari biasa. Namun cara mereka memandang air tidak lagi sama. Ada kehati-hatian yang menetap, seperti ingatan yang belum sepenuhnya mengering.

Beremban Besi lebih sering tinggal di rumah. Tubuhnya sudah tidak sakit, tetapi pikirannya masih menyimpan gema benturan, teriakan, dan langkah tergesa di antara nipah. Ia duduk di beranda, memandang alur sungai yang tenang.

Airnya sama, batinnya berkata. Tapi aku tidak lagi melihatnya dengan mata yang sama.

Beberapa orang datang ke rumah sang kakek. Mereka duduk sopan, berbicara pelan, dan tidak lama. Tidak ada permintaan, hanya ucapan terima kasih yang sederhana.

“Kami selamat,” kata seorang lelaki.
“Itu saja yang ingin kami sampaikan,” kata yang lain.

Beremban Besi mendengar dari dalam rumah. Kata-kata itu menekan dadanya lebih kuat daripada ancaman senjata.

Aku tidak menyelamatkan siapa pun, ia membatin. Aku hanya memastikan mereka tidak kembali.

Ia keluar dan berdiri di ambang pintu. Orang-orang terdiam. Tatapan mereka membuatnya canggung, seolah ia sedang dipindahkan ke tempat yang tidak ia pilih.

“Aku tidak melakukan apa-apa yang luar biasa,” katanya pelan. “Aku hanya menjaga agar sungai ini tidak rusak.”

Beberapa orang mengangguk. Mereka mulai mengerti bahwa pemuda di hadapan mereka tidak ingin ditempatkan lebih tinggi. Ia tidak mencari jarak, hanya keseimbangan.

Sang kakek mengamati dari sudut rumah. Ia tahu, ini adalah bagian tersulit dari semua yang telah dilewati. Menghadapi ingatan orang banyak jauh lebih berat daripada menghadapi musuh yang terlihat.

Hari-hari berjalan. Cerita mulai beredar, tetapi Beremban Besi tidak ikut membentuknya. Ada yang membesar-besarkan, ada yang menyederhanakan, dan ada yang hanya berkata bahwa sungai kini aman.

Biarlah, pikirnya. Cerita tidak perlu persetujuanku untuk hidup.

Ia kembali ke ladang. Tangannya kembali kotor oleh tanah. Ia kembali menyusuri sungai, mendayung seperti biasa. Tidak ada tanda yang ia pakai untuk membedakan dirinya.

Namun ia tahu, orang-orang melihat sesuatu yang lain. Bukan pada tubuhnya, melainkan pada caranya diam, pada cara ia berhenti sebelum marah, pada caranya berjalan tanpa tergesa.

Anak-anak sering duduk di dekatnya ketika ia beristirahat. Mereka tidak ribut, hanya penasaran.

“Apakah kau takut waktu itu?” tanya seorang anak.

Beremban Besi terdiam sejenak.
“Iya,” jawabnya jujur.

“Kenapa tetap maju?” tanya anak itu lagi.

Beremban Besi menatap sungai.
“Karena kalau aku tidak maju, ketakutan itu akan tinggal lebih lama.”

Anak-anak tidak sepenuhnya mengerti, tetapi mereka mengingat nada suaranya.

Malam hari, ia duduk sendiri di tepi sungai. Air mengalir tanpa suara keras. Nipah kuning berdiri di kejauhan, menjadi penanda tanpa meminta arti.

Jejak itu bukan milikku, batinnya. Ia akan ada meski aku tidak lagi berjalan di sini.

Ia tidak ingin dikenang sebagai apa pun. Jika namanya disebut suatu hari nanti, ia berharap orang mengingat satu hal saja: bahwa sungai pernah dijaga, dan penjagaan itu tidak perlu diulang dengan cara yang sama.

Beremban Besi berdiri dan kembali ke rumah. Di belakangnya, sungai terus mengalir, membawa cerita itu pelan-pelan, tanpa menanyakan siapa yang berhak memilikinya (bersambung) 


×
Berita Terbaru Update