-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (20)

Jumat, 30 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-30T02:00:00Z
Beremban Besi berhenti di tepi air. Ia tidak mendekat. Ia hanya berdiri dan memperhatikan. Dari jarak itu, ia melihat perahu-perahu kecil dinaikkan dengan tergesa-gesa. Suara teriakan terdengar, tidak lagi lantang, lebih seperti panik yang ditahan.

BAB V

Perang di Alur Nipah
(Bagian 4)

Hujan berhenti menjelang malam. Kabut tipis menggantung rendah di antara batang-batang nipah yang masih basah. Suasana jadi sunyi, seolah alam ikut menahan napas setelah hari-hari panjang yang melelahkan.

Beremban Besi berdiri pelan-pelan. Tubuhnya gemetar, bukan cuma karena dingin, tapi karena capek yang akhirnya terasa penuh. Ia memutar bahu dan lehernya perlahan, memastikan tubuhnya masih bisa diajak bergerak.

Di sekelilingnya sudah tidak ada suara benturan. Tidak ada teriakan. Yang terdengar hanya tetes air dari daun nipah dan sesekali suara binatang malam yang mulai berani keluar.

Ia berjalan ke arah alur sungai yang lebih terbuka. Dari sana, ia bisa melihat ke kejauhan, ke muara kecil tempat kapal besar itu tadi berlabuh. Cahaya obor tampak bergerak-gerak samar.

Kapal itu sedang bersiap pergi.

Beremban Besi berhenti di tepi air. Ia tidak mendekat. Ia hanya berdiri dan memperhatikan. Dari jarak itu, ia melihat perahu-perahu kecil dinaikkan dengan tergesa-gesa. Suara teriakan terdengar, tidak lagi lantang, lebih seperti panik yang ditahan.

Para perompak itu sudah tidak tertawa. Gerakan mereka kacau. Tidak rapi. Seperti orang-orang yang ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang tidak lagi memberi rasa aman.

Tak lama kemudian, kapal besar itu berbalik arah. Dayung dan kemudi bergerak melawan arus, menjauh dari Sungai Banyuasin, kembali ke luar, menuju laut.

Beremban Besi menghembuskan napas panjang. Ia tidak merasa menang. Yang ia rasakan hanya satu hal: mereka tidak akan kembali dalam waktu dekat.

Ia menatap sungai. Airnya kembali tenang, seolah tidak pernah menyimpan amarah. Namun di tepinya, bekas-bekas peristiwa itu masih jelas terlihat.

Daun-daun nipah yang terinjak dan terendam hujan kini tampak berbeda. Warna hijaunya memudar. Beberapa berubah kuning, kusam, tidak segar seperti biasanya. Getah yang mengering meninggalkan warna aneh di batang dan daun.

Beremban Besi memegang satu daun nipah yang menguning. Teksturnya masih sama, tapi warnanya sudah berubah. Ia tidak tahu kenapa, tapi hatinya merasa perubahan itu bukan tanpa sebab.

Alam juga punya cara sendiri untuk mengingat.

Dengan langkah berat, ia mulai berjalan kembali ke arah hilir. Setiap langkah terasa membawa semua hari perkelahian itu bersamanya. Kaki dan punggungnya pegal, tapi pikirannya perlahan jadi lebih tenang.

Menjelang pagi, rumah-rumah kampung mulai terlihat. Asap dapur naik pelan. Tanda kehidupan mulai berjalan lagi. Orang-orang kampung sudah menunggu, tapi mereka menunggu dalam diam.

Saat mereka melihat Beremban Besi muncul dari arah hulu, tidak ada sorak. Tidak ada teriakan gembira. Yang ada hanya napas lega yang dilepaskan perlahan.

Sang kakek berdiri di depan rumah. Wajahnya tenang, tapi matanya merah karena kurang tidur dan cemas yang ditahan berhari-hari.

Beremban Besi berhenti di hadapannya.

“Mereka pergi,” katanya singkat.

Sang kakek mengangguk.
“Aku tahu.”

“Sebagian lari ke kapal,” lanjut Beremban Besi. “Sebagian masuk hutan.”

“Yang penting,” kata sang kakek pelan, “sungai ini selamat.”

Beremban Besi mengangguk. Lututnya terasa lemas. Sang kakek cepat memegang bahunya, menahan agar ia tidak jatuh.

“Masuk,” kata sang kakek.

Di dalam rumah, Beremban Besi duduk sebentar, lalu berbaring. Tubuhnya akhirnya menyerah pada lelah. Ia tertidur tanpa mimpi, tenggelam dalam keheningan panjang yang ia butuhkan.

Sementara itu, kabar menyebar pelan dari mulut ke mulut. Orang-orang kampung mulai berani keluar. Mereka melihat tepi sungai, nipah yang berubah warna, dan bekas-bekas perkelahian yang belum hilang.

“Nipahnya kuning,” kata seseorang.

“Belum pernah begini,” sahut yang lain.

“Di sinilah perangnya,” bisik seorang tetua.

Sejak hari itu, tempat itu tidak lagi disebut biasa. Talang itu dikenang sebagai tempat perlawanan panjang terjadi. Tempat di mana sungai dijaga.

Tidak ada pesta. Tidak ada perayaan. Orang-orang membersihkan sisa kerusakan, memperbaiki yang rusak, dan kembali menata hidup. Tapi di mata mereka, ada sesuatu yang sudah berubah.

Cara mereka memandang Beremban Besi tidak lagi sama.

Saat Beremban Besi terbangun menjelang sore, tubuhnya masih berat. Tapi pikirannya terasa lebih ringan. Ia duduk di ambang pintu, menatap sungai yang mengalir tenang.

“Kek,” katanya pelan.

“Ya.”

“Aku tidak ingin ini terulang.”

Sang kakek mengangguk.
“Itulah sebabnya kisah ini akan diingat.”

“Sebagai apa?” tanya Beremban Besi.

“Sebagai pengingat,” jawab sang kakek. “Bahwa sungai ini pernah dijaga.”

Beremban Besi menatap nipah di kejauhan, yang kini menguning di beberapa bagian. Ia paham, yang tertinggal bukan hanya cerita pada manusia, tapi juga jejak pada alam.

Dengan perompak yang pergi.
Dengan sungai yang kembali tenang.
Dan dengan seorang manusia yang telah melewati batas dirinya sendiri—
bukan untuk menjadi besar,
tetapi agar yang lain bisa tetap hidup (bersambung) 

×
Berita Terbaru Update