![]() |
| Ia berhenti di tepi sungai, berlutut, lalu meneguk air secukupnya. Air itu dingin dan pahit, tetapi cukup menyadarkannya. Ia menutup mata sejenak, mengatur napas, mengingat pesan sang kakek. |
BAB V
Perang di Alur Nipah
(Bagian 3)
Malam turun tanpa benar-benar menghentikan perkelahian. Gelap hanya mengubah cara orang bergerak dan bernapas. Di bawah cahaya bulan yang kadang tertutup awan, Sungai Banyuasin tampak seperti ular panjang yang berkilau, meliuk di antara hutan nipah.
Beremban Besi terus melangkah mengikuti jejak yang tersisa. Daun nipah yang patah, lumpur yang teraduk, dan bekas pijakan tergesa menjadi penunjuk arah. Ia tidak mengejar satu orang, melainkan arah pelarian yang terpecah.
Ia mendengar suara lebih dulu. Batuk tertahan, langkah tergesa, dan bisik marah bercampur takut. Para perompak itu tidak lagi bergerak sebagai kelompok. Mereka tercerai, masing-masing hanya ingin selamat.
Di satu titik, dua orang menghadangnya dari balik batang nipah. Serangan datang mendadak, seperti binatang terpojok yang memilih menggigit. Parang diayunkan, tombak didorong tanpa aba-aba.
Tubuh Beremban Besi menerima benturan itu. Ia terdorong mundur, menginjak lumpur hingga hampir tergelincir. Ia menahan tubuhnya dengan satu tangan, lalu bangkit kembali.
Ia tidak membalas dengan amarah. Ia menangkis dengan lengan, mendorong dengan bahu, lalu menjauhkan mereka dari jalur kembali ke hilir. Salah satu perompak terjatuh ke air dangkal, yang lain lari tanpa menoleh.
Waktu bergerak lambat. Satu jam terasa seperti sehari. Setiap langkah menguras tenaga yang tersisa.
Beremban Besi mulai merasakan dingin malam menembus tubuh. Otot-ototnya menegang, napasnya berat. Ia sadar, kekebalan tidak melindunginya dari lelah, lapar, dan haus.
Ia berhenti di tepi sungai, berlutut, lalu meneguk air secukupnya. Air itu dingin dan pahit, tetapi cukup menyadarkannya. Ia menutup mata sejenak, mengatur napas, mengingat pesan sang kakek.
Jangan bawa amarah. Bawa kendali.
Fajar datang perlahan. Cahaya tipis menyibak kabut. Dengan datangnya pagi, perkelahian tidak berakhir. Justru ia berlanjut dengan wajah yang berbeda.
Para perompak yang tersisa mencoba berkumpul kembali. Mereka bergerak ke arah yang mereka kenal, menuju wilayah Talang Gelumbang. Daerah itu lebih terbuka, dengan jalur-jalur kecil yang memungkinkan bergerak cepat.
Beremban Besi mengikuti dari jarak aman. Ia tidak lagi memaksa bentrokan setiap kali bertemu. Ia belajar menunggu, memotong jalur, lalu memecah kembali kelompok yang mencoba menyatu.
Hari pertama berlalu dengan benturan-benturan singkat. Siang yang panas menguras tenaga semua pihak. Malam kembali menutup medan dengan gelap dan nyamuk yang menggigit tanpa henti.
Hari kedua dimulai dengan tubuh yang lebih berat. Beremban Besi bangun dari tidurnya yang singkat di bawah pohon nipah. Punggungnya pegal, sendinya kaku. Ia menggerakkan tubuh perlahan agar tidak kehilangan keseimbangan.
Ia sadar, perang ini bukan soal siapa paling kuat, tetapi siapa paling mampu bertahan. Ia tidak kebal terhadap kelelahan. Ia hanya kebal terhadap luka.
Di Talang Gelumbang, perkelahian kembali pecah. Medannya berbeda. Tanah lebih padat, jalur lebih sempit, dan nipah tumbuh rapat. Daun-daunnya menggores wajah dan lengan setiap kali bergerak.
Para perompak menyerang bergantian. Bukan lagi dengan keberanian, melainkan dengan putus asa. Mereka tahu, jika tidak menembus, mereka akan terus didorong semakin jauh dari sungai besar.
Beremban Besi menerima serangan demi serangan. Tubuhnya terhuyung beberapa kali, tetapi tidak jatuh. Ia merasakan getaran keras di tulang, hentakan di dada, dan tekanan di kepala.
Pada satu benturan kuat, pandangannya berkunang. Ia berlutut, menahan diri agar tidak roboh. Tanah terasa berputar.
Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, dan mengingat satu hal sederhana.
Berdiri.
Ia berdiri kembali.
Melihat itu, semangat para perompak runtuh. Mereka berteriak, saling menyalahkan, lalu mundur tanpa arah jelas. Sebagian lari ke hutan, sebagian mencoba kembali ke sungai dengan tergesa.
Hari ketiga datang bersama hujan. Air turun deras, membasahi nipah, tanah, dan tubuh yang telah lelah. Lumpur menjadi licin, langkah makin berat.
Namun hujan juga menghapus jejak. Beremban Besi harus mengandalkan pendengaran dan firasat. Ia bergerak lebih lambat, lebih hati-hati.
Perkelahian kecil masih terjadi. Tidak lagi ramai, tetapi cukup untuk menjaga jarak. Setiap benturan di tengah hujan terasa lebih berat, lebih menguras.
Di sela hujan itu, Beremban Besi melihat perubahan pada alam. Daun nipah yang semula hijau tampak kusam, sebagian mulai menguning. Getah bercampur lumpur, air hujan, dan jejak kaki manusia.
Ia tidak memahami maknanya saat itu. Ia hanya tahu, perkelahian ini meninggalkan tanda. Bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada tempat.
Menjelang senja hari ketiga, suara perompak hampir tidak terdengar lagi. Yang tersisa hanyalah keheningan panjang dan suara hujan yang melemah.
Beremban Besi berdiri di tengah nipah yang basah. Tubuhnya gemetar oleh lelah, bukan oleh takut. Ia menatap sekeliling, memastikan tidak ada lagi yang tersisa untuk kembali ke hilir.
Ia tahu, sebagian telah lari ke kapal besar. Sebagian lain menghilang ke hutan. Yang jelas, ancaman langsung telah dijauhkan.
Ia duduk di tanah, membiarkan sisa hujan membasahi wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, ia membiarkan tubuhnya benar-benar lelah.
Kalau ini harga menjaga orang banyak, pikirnya dalam hati, aku harus sanggup.
Perang ini belum sepenuhnya berakhir. Namun puncaknya telah terlewati. Yang tersisa adalah akibat—pada manusia, pada sungai, dan pada nipah yang perlahan berubah warna (bersambung)
