-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (17)

Selasa, 27 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-27T02:00:00Z
Beremban Besi menarik napas panjang. Ia memandang rumah-rumah, ladang, dan wajah-wajah yang kini menjadi bagian hidupnya. Ia teringat masa kecilnya yang sepi, dan sadar betapa banyak yang sekarang harus ia jaga.

BAB V

Perang di Alur Nipah
(Bagian 1)

Pagi setelah bentrokan itu tidak membawa rasa lega sepenuhnya. Sungai Banyuasin memang kembali tenang, tapi ketenangan itu terasa rapuh. Seperti air yang kelihatan diam, padahal di bawahnya arus masih bergerak kuat.

Orang-orang kampung bangun dengan perasaan yang belum benar-benar aman. Tidak ada teriakan panik, tapi juga tidak ada tawa seperti biasa. Semua berjalan pelan, penuh waspada.

Beremban Besi bangun lebih siang dari biasanya. Tubuhnya terasa berat, bukan karena capek bekerja, tapi seperti habis menahan sesuatu yang besar. Ini bukan lelah badan, melainkan lelah di dalam dada.

Ia duduk di tepi dipan dan menatap kedua tangannya. Kulitnya masih utuh. Tidak ada luka, tidak ada bekas apa pun. Tapi ingatan tentang benturan pedang dan tombak masih jelas di kepalanya.

Sang kakek sudah bangun sejak subuh. Ia duduk di luar rumah, menghadap sungai. Punggungnya tampak lebih membungkuk dari biasanya, seolah sedang memikirkan hal yang tidak ringan.

“Kek,” sapa Beremban Besi pelan.

Sang kakek menoleh.
“Kau bangun.”

“Menurut Kek… mereka akan kembali?” tanya Beremban Besi tanpa berputar-putar.

Pertanyaan itu keluar dari rasa cemas yang jujur. Ia tahu, perompak jarang pergi hanya karena kalah sekali. Kadang mereka mundur hanya untuk kembali dengan cara lain.

Sang kakek menghela napas panjang.
“Orang seperti mereka tidak suka dipermalukan.”

“Berarti…” Beremban Besi menggantungkan ucapannya.

“Berarti sungai ini belum aman,” lanjut sang kakek.

Kalimat itu membuat dada Beremban Besi terasa mengeras. Ia mulai sadar, apa yang ia lakukan kemarin bukan akhir dari masalah. Itu baru permulaan.

Di kampung, orang-orang kembali berkumpul. Bukan untuk panik, tapi untuk berjaga. Lelaki dewasa bergiliran mengawasi sungai, sementara perempuan dan anak-anak bersiap jika sewaktu-waktu harus menyingkir.

Beremban Besi berdiri di antara mereka. Tapi rasanya berbeda. Orang-orang menatapnya dengan hormat yang bercampur sungkan. Tidak ada lagi sapaan santai seperti dulu.

Ia merasa agak terpisah, berdiri di tengah orang-orang yang baru saja ia lindungi.

“Kau tidak perlu selalu di depan,” bisik sang kakek.
“Biarkan orang-orang bernapas dulu.”

Beremban Besi mengangguk. Ia mundur selangkah. Tapi perasaannya tidak ikut mundur.

Menjelang siang, kabar datang dari arah hilir. Seorang nelayan datang tergesa-gesa, wajahnya pucat.

“Kapal itu tidak pergi jauh,” katanya.
“Mereka berputar-putar di muara.”

Kabar itu seperti batu dijatuhkan ke air tenang. Riak ketegangan langsung menyebar.

“Berarti mereka menunggu,” kata seseorang.

“Atau memanggil kawan,” sahut yang lain.

Beremban Besi menatap sungai. Kali ini, firasatnya lebih jelas. Rasa yang kemarin muncul kembali, tapi lebih kuat. Lebih mendesak.

“Kek,” katanya pelan, “kalau mereka datang ramai-ramai, kampung ini tidak akan sanggup.”

Sang kakek menatapnya lama. Di matanya ada pergulatan yang berat. Ia tahu betul apa arti melepas Beremban Besi melangkah lebih jauh.

“Ilmu dan kekuatan yang kau punya,” kata sang kakek akhirnya,
“bukan untuk membuatmu berdiri sendirian.”

“Aku tidak ingin sendirian,” jawab Beremban Besi.
“Aku hanya tidak ingin mereka kembali.”

Kalimat itu keluar tenang. Tidak meledak, tidak emosional. Untuk pertama kalinya, Beremban Besi berbicara bukan karena dorongan sesaat, tapi karena tanggung jawab yang sudah matang.

Sang kakek berdiri perlahan. Tubuh tuanya sedikit bergetar, bukan karena lemah, tapi karena menahan perasaan.

“Kalau kau melangkah lagi,” katanya pelan,
“langkahmu akan panjang.”

“Sejauh apa?” tanya Beremban Besi.

“Sejauh mereka lari,” jawab sang kakek.

Jawaban itu menandai perubahan besar. Ini bukan lagi soal menjaga tepi kampung. Ini soal mengakhiri ancaman sampai ke hulunya.

Beremban Besi menarik napas panjang. Ia memandang rumah-rumah, ladang, dan wajah-wajah yang kini menjadi bagian hidupnya. Ia teringat masa kecilnya yang sepi, dan sadar betapa banyak yang sekarang harus ia jaga.

“Aku akan naik ke hulu,” katanya akhirnya.

Beberapa orang yang mendengar terdiam. Ada yang kaget, ada yang lega, ada juga yang takut.

Sang kakek mengangguk pelan.
“Pergilah. Tapi ingat satu hal.”

“Apa, Kek?”

“Jangan bawa amarah,” kata sang kakek.
“Bawa kendali.”

Beremban Besi menunduk hormat. Ia tidak membawa senjata. Ia hanya membawa tubuhnya sendiri dan ketenangan yang sudah lama ia latih.

Saat ia melangkah menuju sungai, ia berhenti sejenak. Angin menyentuh wajahnya, air berkilau di hadapan.

Kalau aku tidak pergi, mereka akan datang lagi, pikirnya.
Dan kalau aku pergi, mungkin aku tidak akan kembali seperti sekarang.

Dadanya terasa sesak, tapi langkahnya tetap maju.

Aku bukan ingin dipuji, batinnya lagi.
Aku cuma tidak ingin kampung ini belajar takut.

Dengan pikiran itu, Beremban Besi melangkah menyusuri alur sungai. Bukan sebagai anak yang dulu hidup sendiri, dan bukan pula sebagai orang yang merasa paling kuat, tetapi sebagai seseorang yang sudah memilih menanggung akibat dari keputusannya sendiri (bersambung) 

×
Berita Terbaru Update