-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (18)

Rabu, 28 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-28T02:00:00Z
Ia mendayung tanpa tergesa. Setiap gerakan diukur. Ia tidak mengejar dengan amarah, tetapi dengan kesadaran bahwa waktu dan jarak adalah sekutunya. 

BAB V

Perang di Alur Nipah
(Bagian 2)

Beremban Besi menuruni tepian sungai dengan langkah mantap. Perahu kecil telah disiapkan oleh beberapa lelaki kampung tanpa banyak bicara. Mereka bekerja dalam diam, seolah paham bahwa kata-kata justru akan mengganggu keteguhan yang sedang dibangun.

“Jangan ikut,” kata sang kakek kepada mereka. “Ini bukan keberanian yang harus dibagi.”

Para lelaki itu mengangguk. Ada rasa lega dan rasa bersalah yang bercampur di wajah mereka. Mereka tahu, tidak semua tanggung jawab harus dipikul bersama.

Beremban Besi menaiki perahu. Dayung menyentuh air, menciptakan riak kecil yang segera hilang ditelan arus. Sungai membawanya ke hulu, ke arah yang selama ini hanya ia dengar dari cerita dan kabar.

Semakin jauh dari kampung, suasana sungai berubah. Tebing-tebing menjadi lebih rapat, hutan nipah mulai mendominasi pandangan. Akar-akar menjuntai ke air, seperti tangan-tangan tua yang menunggu.

Ia mendayung tanpa tergesa. Setiap gerakan diukur. Ia tidak mengejar dengan amarah, tetapi dengan kesadaran bahwa waktu dan jarak adalah sekutunya.

Tak lama kemudian, ia melihat jejak. Bekas dayung besar, potongan kayu hanyut, dan sisa abu di tepian menjadi tanda bahwa perampok itu memang belum pergi jauh. Mereka bergerak, tetapi tidak sepenuhnya menjauh.

Beremban Besi menepi dan melanjutkan dengan berjalan di sepanjang tepian. Tanah lembap, licin, dan dipenuhi daun gugur. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara.

Ia mendengar suara lebih dulu sebelum melihat. Tawa kasar, denting logam, dan bunyi kayu dipukul-pukul. Para perampok sedang beristirahat, yakin bahwa kampung di hilir tidak akan berani mengejar.

Beremban Besi berdiri di balik rumpun nipah. Ia memperhatikan dengan saksama. Jumlah mereka lebih banyak dari kemarin. Ada wajah-wajah baru, senjata baru, dan sikap yang lebih kasar.

Ia menarik napas panjang. Ini bukan satu pertempuran. Ini akan menjadi rangkaian.

Satu perampok melihat bayangan bergerak.
“Siapa itu?” teriaknya.

Beremban Besi melangkah keluar dari balik nipah. Ia tidak bersembunyi. Ia berdiri tegak, membiarkan dirinya terlihat.

“Dia lagi!” seru salah satu dari mereka. “Yang kemarin!”

Kepanikan kecil muncul. Beberapa mengangkat senjata, yang lain mundur refleks. Ingatan tentang pedang yang patah masih segar.

“Kau sendirian?” teriak seorang perampok dengan nada mengejek, mencoba menutupi ketakutannya.

Beremban Besi tidak menjawab. Ia melangkah maju satu langkah. Tanah di bawah kakinya berderak pelan.

Serangan datang lebih cepat kali ini. Dua perampok menyerbu bersamaan, satu dengan tombak, satu dengan parang. Gerakan mereka terkoordinasi, jelas berpengalaman.

Tombak menghantam dada Beremban Besi. Parang menyusul dari samping. Tubuhnya terdorong mundur setengah langkah, tetapi tetap tegak.

Bunyi benturan kembali terdengar tumpul. Ujung tombak retak, mata parang terpental. Kedua perampok itu terkejut dan terjatuh ke tanah.

Namun Beremban Besi tidak membalas dengan amarah. Ia hanya mendorong mereka menjauh, cukup keras untuk membuat mereka tak mampu berdiri cepat.

“Pergi,” katanya sekali lagi.

Jawaban yang ia terima adalah teriakan marah. Perampok lain menyerang bergantian. Mereka mencoba dari berbagai arah, mencoba menusuk, menebas, dan menjatuhkan.

Tubuh Beremban Besi menerima semuanya. Pukulan, sabetan, dan hantaman seolah berhenti di permukaan kulitnya. Namun setiap benturan meninggalkan getar yang merambat ke dalam tulang dan sendi.

Ia mulai merasakan lelah. Bukan luka, tetapi tekanan berulang yang menguras tenaga. Ia mengingat pesan sang kakek: bawa kendali.

Ia mulai mengatur napas, mengatur jarak, dan memanfaatkan momentum. Ia tidak menyerang sembarangan. Setiap gerakan bertujuan menjauhkan, melumpuhkan sementara, atau memecah barisan.

Perkelahian itu bergerak. Dari satu rumpun nipah ke rumpun lain. Dari tepian ke tanah yang lebih tinggi. Sungai menjadi saksi, hutan menjadi medan.

Para perampok mulai menyadari satu hal yang menakutkan. Mereka tidak bisa melukainya, dan mereka mulai kehabisan tenaga. Sementara pemuda itu, meski terengah, masih berdiri.

“Ini bukan manusia!” teriak seseorang.

Teriakan itu menyebar seperti api. Ketakutan mulai menggantikan keberanian. Beberapa mencoba melarikan diri ke perahu kecil, yang lain menarik diri ke hutan.

Beremban Besi tidak mengejar dengan membabi buta. Ia mengikuti arah mereka dengan tenang, memastikan mereka tidak kembali ke hilir. Setiap langkahnya mendorong mereka semakin jauh dari kampung.

Perkelahian berlanjut hingga senja. Cahaya matahari menyelinap di antara daun nipah, memantul di permukaan air yang kini keruh oleh pijakan dan pertarungan.

Di satu titik, Beremban Besi berhenti. Ia bersandar sejenak pada batang nipah. Napasnya berat. Tubuhnya tidak luka, tetapi tenaga terkuras.

Ia menatap tangannya yang bergetar ringan. Ia menyadari satu hal penting: kekebalan tidak berarti tanpa batas. Tubuhnya kuat, tetapi batinnya tetap harus dijaga.

Di kejauhan, ia mendengar suara perampok yang semakin menjauh. Mereka mundur, tidak dalam satu arah, tetapi tercerai-berai. Sungai dan hutan menelan langkah mereka.

Beremban Besi berdiri kembali. Ia tahu ini belum selesai. Ini baru awal dari pertempuran panjang yang akan menguji bukan hanya tubuhnya, tetapi kesabarannya.

Ia melangkah menyusuri alur nipah yang semakin rapat. Malam akan segera turun, dan perkelahian ini belum menemukan ujungnya.

Di situlah Bagian 2 berakhir.
Dengan pertempuran yang telah dimulai, tetapi belum mencapai puncak.
Dengan tubuh yang tak terluka, tetapi jiwa yang mulai merasakan beratnya perang yang sesungguhnya (bersambung) 

×
Berita Terbaru Update