-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kisah Puyuh yang Tak Lagi Menyentuh Langit: Sebuah Kisah dari Tanah Banyuasin

Minggu, 03 Mei 2026 | 10.08 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-03T03:08:25Z
Ilustrasi 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Dahulu kala, di Tanah Banyuasin yang hutan-hutannya masih lebat dan sungainya mengalir tenang, hiduplah berbagai macam binatang yang saling berbagi tempat. Di masa itu, burung puyuh belum seperti sekarang. Ia memiliki ekor panjang yang indah, halus seperti anyaman ilalang muda, dan sayapnya cukup kuat untuk terbang tinggi menyusuri langit.


Burung puyuh dikenal sebagai burung kecil yang lincah. Ia suka terbang dari satu dahan ke dahan lain, lalu tiba-tiba melesat tinggi, seolah ingin menyentuh langit. Walau tubuhnya kecil, ia punya kebanggaan yang besar.


“Lihat aku! Aku juga bisa setinggi kalian!” serunya suatu hari.

Burung punai yang sedang bertengger hanya melirik sebentar, sementara burung pergam mengepakkan sayapnya pelan tanpa banyak bicara. Mereka sudah tahu, si puyuh memang gemar membanggakan diri.


Tak jauh dari tempat itu, di daerah rawa yang tenang, hidup seekor kerbau besar. Tubuhnya hitam, tanduknya kokoh melengkung, dan langkahnya berat namun sabar. Kerbau itu dikenal tidak pernah mengganggu siapa pun. Ia hanya berjalan pelan, mencari rumput, lalu berendam di air.


Hari-hari di hutan berjalan seperti biasa, sampai suatu musim kemarau panjang datang. Air mulai surut, tanah menjadi keras, dan rumput-rumput banyak yang mengering. Binatang-binatang mulai kesulitan mencari makan.


Burung puyuh ikut gelisah. Ia terbang ke sana kemari, mencari tempat yang masih hijau. Namun karena terlalu sering terbang tinggi dan tergesa-gesa, ia sering melewatkan tempat-tempat yang sebenarnya masih cukup makanan.


Suatu hari, ia melihat hamparan rumput yang masih segar di pinggir rawa yang belum sepenuhnya kering. Tanpa berpikir panjang, ia segera turun.


“Ini tempatku. Tak ada yang tahu,” katanya pelan, penuh senang.

Ia mulai mematuk biji-bijian dengan lahap. Karena terlalu asyik, ia lupa memperhatikan sekeliling. Bahkan ekornya yang panjang menjuntai ke belakang, terseret di tanah tanpa ia sadari.


Di saat yang sama, kerbau datang ke tempat itu. Ia berjalan pelan seperti biasa, mencari sisa-sisa rumput hijau. Matanya tenang, langkahnya berat namun pasti.


Kerbau tidak melihat burung puyuh yang kecil itu. Rumput yang tinggi menutupi tubuh si puyuh yang sedang sibuk makan.


Sementara itu, burung puyuh masih tenggelam dalam keserakahannya.

“Semua ini untukku sendiri,” gumamnya.

Tiba-tiba—

“Krek!”

Langkah kerbau yang besar tanpa sengaja menginjak sesuatu.

“Aduh! Ekorku!” jerit burung puyuh.

Ia mencoba terbang, tetapi terlambat. Ekornya terjepit dan tertarik kuat. Sekali sentak, ekor panjang itu terlepas.

Burung puyuh terjatuh dan terguling di tanah. Ia terdiam, seolah tak percaya.

Kerbau terkejut dan segera mundur.

“Astaga, aku tidak melihatmu,” kata kerbau dengan suara menyesal.

Burung puyuh hanya bisa menangis.

“Ekorku hilang...”

Kerbau menunduk.

“Aku tidak sengaja. Kau terlalu kecil, dan rumput ini menutupimu.”

Burung puyuh mencoba mengepakkan sayapnya. Ia masih bisa terbang, tetapi tidak lagi tinggi. Tubuhnya terasa ringan, namun tidak seimbang seperti dulu.

Sejak hari itu, burung puyuh tidak pernah lagi menyentuh langit. Ia lebih sering berjalan di tanah, berlari di antara semak belukar dan rumput-rumput tinggi. Ia menjadi lebih waspada dan tidak lagi menyombongkan diri.


Kerbau pun berubah. Ia berjalan lebih pelan dari sebelumnya, selalu memperhatikan langkahnya agar tidak menyakiti makhluk kecil lain. Setiap melewati semak, ia akan berhenti sejenak, memastikan tidak ada yang tersembunyi di bawahnya.


Waktu berlalu. Generasi berganti.

Anak-anak burung puyuh lahir tanpa ekor panjang seperti leluhurnya. Mereka tumbuh sebagai burung darat, cepat berlari, dan pandai bersembunyi di antara rumput.


Sementara itu, kerbau tetap menjadi hewan yang sabar, seolah menyimpan ingatan lama dalam setiap langkahnya.

Orang-orang tua di Tanah Banyuasin sering berkata kepada anak-anak mereka,

“Kalau berjalan, lihat ke bawah.”

Dan kepada yang suka meninggikan diri, mereka berpesan pelan,

“Jangan seperti puyuh dulu. Terbang tinggi, tapi lupa pada tanah tempatnya berpijak.”

Sejak itulah, burung puyuh hidup dekat dengan bumi, seakan tak ingin lagi menjauh dari tanah yang pernah mengubah nasibnya (***) 

×
Berita Terbaru Update