![]() |
| Beremban Besi tetap diam. Jantungnya berdetak jelas, tapi pikirannya tenang. Semua latihan menahan diri kini terasa bekerja. |
BAB IV
Kapal dari Hulu dan Ingatan yang Bangkit
(Bagian 4)
Keheningan di tepi sungai terasa berat, seperti udara yang ikut menahan napas. Beremban Besi berdiri berhadapan dengan para perampok, sementara orang-orang kampung membeku di belakangnya. Tidak ada teriakan, tidak ada aba-aba.
Seorang perompak menyeringai. Ia maju satu langkah dan mengangkat pedangnya santai, seolah yang dihadapinya hanyalah mangsa mudah. Tatapannya meremehkan, penuh rasa yakin.
“Kau terlalu tenang untuk orang yang akan mati,” katanya sambil memutar pergelangan tangan.
Beremban Besi tetap diam. Jantungnya berdetak jelas, tapi pikirannya tenang. Semua latihan menahan diri kini terasa bekerja.
Pedang itu diayunkan.
Gerakannya cepat dan terarah. Orang-orang kampung menjerit tertahan. Beberapa memejamkan mata.
Terdengar bunyi tumpul.
Beremban Besi tidak jatuh. Ia bahkan tidak bergeser. Pedang itu memantul, bergetar, lalu terlepas dan jatuh ke tanah.
Hening berubah menjadi kaget.
Perompak itu mundur setengah langkah. Matanya membelalak. Ia menatap pedangnya, lalu menatap kembali Beremban Besi.
“Apa kau?” gumamnya.
Beremban Besi menghela napas pelan.
“Pergilah,” katanya lagi.
Perompak lain maju dengan tombak. Tusukannya cepat dan kasar, diarahkan ke perut. Ujung tombak menghantam tubuh Beremban Besi dan patah.
Bunyi kayu retak terdengar jelas. Orang-orang kampung bergumam, tidak percaya.
“Tidak luka…”
“Benar-benar tidak luka…”
Sang kakek berdiri kaku. Ia sudah menduga, tapi melihatnya langsung tetap mengguncang. Ada bangga, takut, dan duka yang bercampur.
Para perompak mulai ragu. Tawa mereka hilang. Mereka saling pandang dan bicara cepat. Kepercayaan diri runtuh.
Satu perompak lain maju, tampak seperti pemimpin kecil. Amarahnya meledak. Ia mengangkat pedang besar dan mengayunkannya dengan tenaga penuh.
Beremban Besi tidak menghindar. Ia hanya mengangkat lengannya sedikit.
Pedang itu menghantam lengannya. Bunyi keras terdengar. Logamnya terpelintir, mata pedang retak.
Perompak itu terhuyung. Wajahnya pucat.
“Ini bukan manusia biasa,” katanya dengan suara bergetar.
Kalimat itu menyebar cepat. Rasa takut menggantikan keserakahan.
Orang-orang kampung mulai bergerak. Bukan menyerang, tapi berdiri lebih tegak. Keberanian mereka bangkit karena keyakinan.
“Pergi!”
“Pergi dari sungai kami!”
Suara-suara menyatu. Para perompak mundur, menarik perahu kecil kembali ke kapal besar.
Beremban Besi tidak mengejar. Ia berdiri memastikan mereka benar-benar pergi. Wajahnya tetap tenang, tapi tubuhnya mulai berat.
Saat perahu terakhir menjauh, ia menghembuskan napas panjang. Ketegangan runtuh. Ia berlutut.
Sang kakek berlari menghampiri.
“Beremban!”
“Aku baik,” jawab Beremban Besi cepat. “Cuma capek.”
Sang kakek memegang bahunya erat. Matanya basah, suaranya tertahan.
“Kau sudah melangkah jauh hari ini.”
Orang-orang kampung mendekat, tapi menjaga jarak. Tatapan mereka campur aduk: hormat dan gentar. Tidak ada sorak. Hanya kesadaran bahwa sesuatu besar baru saja terjadi.
“Dia menyelamatkan kita,” bisik seseorang.
“Dia bukan orang biasa,” sahut yang lain.
Beremban Besi mendengar. Kata-kata itu terasa lebih berat daripada senjata. Ia menunduk.
“Kek,” katanya pelan, “aku tidak ingin dipuja.”
Sang kakek mengangguk.
“Aku tahu.”
“Tapi ini sudah terjadi,” lanjut Beremban Besi.
“Ya,” jawab sang kakek. “Dan kita tanggung bersama.”
Malam itu kampung tidak merayakan apa pun. Orang-orang pulang dengan perasaan campur aduk: selamat dan gentar.
Beremban Besi duduk memandangi tangannya. Tangannya tidak luka, tapi jiwanya terasa berat.
Ia tahu, sejak hari itu, hidupnya tidak akan sama. Pintu yang terbuka hari ini tidak bisa ditutup kembali (bersambung)
