-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (15)

Minggu, 25 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-25T02:00:00Z
Perampok itu melangkah maju dan menendang sebuah tempayan hingga pecah. Air dan pecahannya berhamburan. Itu tanda bahwa kesabaran mereka tipis. 

BAB IV

Kapal dari Hulu dan Ingatan yang Bangkit
(Bagian 3)

Kapal itu tidak lagi sekadar diam di tengah sungai. Dari atasnya, orang-orang bersenjata mulai bergerak rapi. Ada yang menurunkan perahu kecil, ada yang berdiri sambil mengamati tepian sungai dengan tatapan dingin.

Gerak-gerik mereka tenang, tapi jelas. Itu bukan gerakan orang yang ragu. Itu gerakan orang yang sudah terbiasa mengambil apa yang mereka mau.

Orang-orang kampung saling pandang. Tidak ada yang berteriak, tapi napas mereka terasa berat. Beberapa lelaki menggenggam senjata lebih erat, meski tahu betul mereka kalah jumlah.

“Mereka mau naik,” gumam seseorang dengan suara serak.

Sang kakek melangkah sedikit ke depan. Ia tidak mengangkat senjata. Tubuhnya tetap tegak, matanya tajam.

“Jangan terpancing,” katanya pelan tapi tegas.
“Kalau kita bergerak sembarangan, mereka yang untung.”

Namun ketenangan seperti itu sulit dijaga ketika ancaman semakin dekat. Perahu-perahu kecil dari kapal besar itu sudah hampir menyentuh tepian.

Beberapa perompak tertawa keras. Suara tawa mereka kasar dan menusuk. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak sepenuhnya dimengerti orang kampung, tapi maksudnya jelas.

Beremban Besi berdiri di antara para lelaki dewasa. Tubuhnya tegang. Bukan karena takut mati, tapi karena takut terlambat berbuat sesuatu.

Ia melihat seorang ibu menarik anaknya ke balik rumah. Seorang lelaki tua duduk diam di beranda, menggenggam tongkat dengan tangan gemetar. Pemandangan itu menekan dadanya.

“Kek,” kata Beremban Besi pelan,
“kalau kita terlalu lama menunggu, mereka masuk.”

Sang kakek menoleh. Wajahnya menunjukkan pergulatan yang dalam. Ia tahu ucapan cucunya benar, tapi ia juga tahu apa arti melepas sesuatu yang selama ini ia jaga.

“Kau ingat apa yang pernah kukatakan?” tanya sang kakek.

“Ilmu dan kekuatan akan mencari tempatnya sendiri,” jawab Beremban Besi.

“Dan tempat itu?” tanya sang kakek lagi.

Beremban Besi menarik napas panjang.
“Di sini.”

Jawaban itu keluar tenang. Justru ketenangan itu yang membuat sang kakek terdiam.

Sementara itu, satu perahu kecil sudah merapat. Seorang perompak meloncat ke darat, disusul dua orang lain. Pedang dan senjata tajam mereka berkilat terkena cahaya matahari.

“Hei!” teriak salah satu dari mereka.
“Mana kepala kampungmu?”

Tidak ada yang menjawab. Orang-orang kampung berdiri kaku. Suasana tegang seperti tali yang ditarik terlalu kuat.

Perompak itu melangkah maju dan menendang sebuah tempayan hingga pecah. Air dan pecahannya berhamburan. Itu tanda bahwa kesabaran mereka tipis.

Beberapa orang kampung mundur selangkah. Ada yang memejamkan mata, ada yang menelan ludah.

Beremban Besi melangkah setengah langkah ke depan, lalu berhenti. Ia menoleh ke sang kakek, meminta izin tanpa kata.

Sang kakek memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorot matanya berubah. Bukan marah, tapi pasrah yang penuh pertimbangan.

“Kalau kau melangkah,” katanya pelan,
“kau tidak lagi melangkah hanya sebagai dirimu.”

Beremban Besi mengangguk.
“Aku tahu.”

“Apa pun yang orang lihat nanti,” lanjut sang kakek,
“akan mereka ingat lama.”

“Aku tahu,” jawab Beremban Besi.

Percakapan itu singkat, tapi berat. Itu bukan izin berkelahi, melainkan tanda bahwa peran telah bergeser.

Beremban Besi menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah maju, kini benar-benar keluar dari barisan orang kampung.

Beberapa orang terkejut.
“Itu Beremban,” bisik seseorang.

Perompak yang paling depan menyadari pergerakan itu. Ia tertawa mengejek saat melihat seorang pemuda melangkah sendirian.

“Kau mau mati duluan?” ejeknya sambil mengangkat pedang.

Beremban Besi berhenti pada jarak aman. Ia tidak mengangkat senjata. Tangannya kosong.

“Aku cuma mau kalian pergi,” katanya tenang.

Perompak itu tertawa lebih keras.
“Dengan tangan kosong?”

Beremban Besi tidak menjawab. Ia berdiri tegak, tubuhnya rileks, napasnya teratur. Semua yang diajarkan sang kakek—menahan diri, mendengar tubuh, dan menjaga batin—kini menyatu.

Orang-orang kampung menahan napas. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Bahkan sang kakek pun tidak sepenuhnya tahu.

Namun satu hal sudah pasti. Keputusan telah diambil.

Dan di tepian Sungai Banyuasin itu, untuk pertama kalinya, Beremban Besi berdiri bukan sebagai anak yang diasuh, bukan sebagai cucu yang dilindungi, melainkan sebagai seorang pemuda yang memilih menanggung akibat dari pilihannya sendiri (bersambung) 

×
Berita Terbaru Update