Kapal dari Hulu dan Ingatan yang Bangkit
(Bagian 2)
Pagi berikutnya terasa lebih berat dari biasanya. Kabut tipis menggantung di atas sungai, membuat pandangan tidak terlalu jauh. Udara terasa lembap, dan suasana kampung tidak seramai hari-hari biasa.
Beremban Besi berdiri di tepi sungai bersama beberapa lelaki kampung. Tidak banyak yang bicara. Semua mata tertuju ke arah hulu, seolah berharap kabar semalam hanyalah cerita yang keliru.
Namun sungai tidak lama menyembunyikan kenyataan.
Dari kejauhan, muncul bayangan gelap yang bergerak pelan melawan arus. Awalnya hanya seperti titik hitam, lalu makin jelas bentuknya. Sebuah kapal besar, jauh lebih besar dari perahu kampung, bergerak mendekat dengan tenang tapi menekan perasaan.
“Itu dia,” kata seseorang dengan suara tertahan.
Beberapa perempuan yang ikut melihat segera menarik anak-anak mereka menjauh dari tepi sungai. Tidak ada jeritan, tapi gerakan mereka cepat dan penuh cemas.
Beremban Besi menatap kapal itu tanpa berkedip. Jantungnya berdetak kencang. Bukan hanya karena takut, tapi karena ia sadar, inilah peristiwa yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang-orang tua.
Kapal itu membawa ingatan lama.
“Bentuknya sama,” gumam seorang lelaki tua. “Seperti dulu.”
Sang kakek berdiri di samping Beremban Besi. Rahangnya mengeras, wajahnya tegang. Pandangannya tidak lepas dari kapal itu.
“Mereka datang lagi,” katanya pelan.
Kapal terus mendekat. Dari atasnya terlihat orang-orang bergerak. Mereka membawa senjata, dan cara mereka berdiri tidak menunjukkan niat baik.
Orang-orang kampung mulai berkumpul lebih rapat. Lelaki dewasa memegang parang, tombak sederhana, dan alat apa pun yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Tapi jumlah mereka jelas tidak sebanding.
“Kita tidak cukup orang,” bisik seseorang.
“Kita juga tidak siap,” sahut yang lain.
Rasa panik mulai merayap, tapi masih tertahan. Tidak ada yang lari sembarangan. Mereka tahu, kepanikan hanya akan memperburuk keadaan.
Beremban Besi kembali merasakan tatapan-tatapan itu. Tatapan penuh harap, ragu, dan takut. Tatapan yang tidak meminta dengan kata-kata, tapi terasa berat di dada.
Ia menelan ludah.
“Kek,” katanya pelan, “aku bisa bantu?”
Pertanyaan itu keluar dengan susah payah. Ia tidak yakin apa yang bisa ia lakukan, tapi ia juga tidak sanggup hanya berdiri diam.
Sang kakek cepat menoleh dan memegang bahunya.
“Membantu itu banyak caranya.”
“Apa aku harus maju?” tanya Beremban Besi.
“Belum,” jawab sang kakek tegas tapi tenang.
Jawaban itu membuat Beremban Besi merasa lega sekaligus gelisah. Di dalam dirinya, dua perasaan saling bertabrakan: ingin melindungi, tapi takut melangkah terlalu jauh.
Kini kapal itu cukup dekat. Lambungnya tinggi, warnanya gelap, dan benderanya tidak dikenal. Beberapa orang kampung tanpa sadar mundur selangkah.
“Kalau mereka naik,” kata seorang lelaki, “kita tidak bisa menahan.”
“Kita pernah menahan,” sahut yang lain, meski suaranya tidak yakin.
Beremban Besi mendengar semuanya. Ia merasakan beban masa lalu menekan dadanya. Ini bukan cuma tentang hari ini, tapi tentang luka lama yang kembali terbuka.
Sang kakek melangkah ke depan dan berbicara pada orang-orang.
“Jangan bergerak sendiri-sendiri,” katanya. “Tunggu.”
“Tunggu apa?” tanya seseorang dengan suara meninggi.
“Tunggu kepala dingin,” jawab sang kakek.
Kata-kata itu menahan kegaduhan. Orang-orang mengenal sang kakek sebagai orang yang tidak bicara sembarangan.
Sementara itu, kapal besar itu mulai memperlambat laju. Dayung dan kemudi bergerak rapi. Jelas mereka datang dengan tujuan.
Jantung Beremban Besi berdetak semakin cepat. Ia mulai sadar, peristiwa ini akan menuntut keputusan. Cepat atau lambat.
Ia menatap kedua tangannya sendiri. Tangan yang berkali-kali tidak terluka, tapi kini terasa berat oleh arti dan tanggung jawab.
“Aku takut salah,” katanya lirih.
“Takut itu baik,” jawab sang kakek. “Yang berbahaya itu merasa yakin tanpa mengukur.”
Kapal itu kini berhenti tidak jauh dari tepi. Beberapa orang di atasnya tertawa keras. Suara tawa itu memantul di air, terdengar seperti ejekan.
Beberapa anak kecil mulai menangis. Para ibu memeluk mereka erat, berusaha menenangkan meski suara mereka sendiri bergetar.
Beremban Besi mengepalkan tangan, lalu melepaskannya lagi. Ia mengingat semua yang diajarkan sang kakek: menahan diri, mendengar, dan menunggu.
Namun ia juga teringat satu kalimat lain: kekuatan akan mencari tempat yang membutuhkan.
Ia menatap sang kakek. Tatapan mereka bertemu lama, tanpa kata. Di sana ada pengertian yang belum diucapkan.
Belum sekarang.
Tapi sebentar lagi.
Dan sungai tetap mengalir. Namun kali ini, arusnya membawa lebih dari sekadar air. Ia membawa keputusan yang tidak bisa lagi ditunda terlalu lama (bersambung)
