-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (13)

Jumat, 23 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-23T02:00:00Z
Halaman rumah mendadak sunyi. Beberapa orang berkumpul. Wajah-wajah yang biasanya tenang kini terlihat tegang, seperti mengingat sesuatu yang lama terkubur.

BAB IV

Kapal dari Hulu dan Ingatan yang Bangkit
(Bagian 1)

Pagi itu Sungai Banyuasin mengalir seperti biasa. Airnya tetap keruh, arusnya pelan, dan tidak ada tanda apa pun yang terlihat aneh. Kalau dilihat sepintas, hari itu sama saja seperti hari-hari sebelumnya.

Beremban Besi berdiri di tepi sungai. Ia menatap air yang mengalir sambil merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan. Sejak beberapa hari terakhir, dadanya sering terasa tidak tenang. Bukan takut, tapi seperti ada sesuatu yang akan datang.

Perasaan itu asing baginya. Selama ini, kegelisahan selalu punya sebab yang jelas—lapar, hujan, atau badan capek. Tapi kali ini, perasaan itu muncul begitu saja, dari dalam.

“Kau sering ke sungai belakangan ini,” suara sang kakek terdengar dari belakang.

Beremban Besi menoleh.
“Airnya beda.”

“Beda bagaimana?” tanya sang kakek.

“Seperti sedang menunggu,” jawab Beremban Besi pelan.

Sang kakek berdiri di sampingnya. Ia ikut menatap sungai, matanya menyimpan banyak kenangan.

“Kadang sungai memang menunggu,” katanya akhirnya.
“Bukan airnya, tapi kejadian.”

Hari itu kampung tetap beraktivitas seperti biasa. Orang-orang ke ladang, anak-anak bermain di tepi sungai, dan perahu kecil lalu-lalang membawa hasil tangkapan. Tapi beberapa lelaki dewasa terlihat lebih sering berhenti dan menatap ke arah hulu.

“Kau dengar kabar?” tanya seorang lelaki.

“Kabar apa?” sahut temannya.

“Kata orang, ada perahu besar naik dari arah luar.”

Obrolan itu tidak keras, tapi cepat menyebar. Di kampung sungai, kata perahu besar bukan sekadar cerita biasa. Itu sering berarti masalah.

Sang kakek mendengar bisik-bisik itu saat duduk di beranda rumah tetangga. Wajahnya berubah, meski suaranya tetap tenang.

“Perahu besar jarang masuk ke sini,” katanya.
“Kalau datang, biasanya tidak membawa kebaikan.”

Beremban Besi memperhatikan raut wajah sang kakek. Ia jarang melihat lelaki tua itu tampak gelisah. Dadanya ikut mengencang.

Sore hari, seorang pemuda datang berlari dari arah hilir. Napasnya terengah, wajahnya pucat.

“Kek,” katanya, “dari hulu… ada kapal.”

Sang kakek langsung berdiri.
“Kapal siapa?”

“Kami tidak tahu,” jawab pemuda itu.
“Tapi besar. Bukan kapal orang sini.”

Halaman rumah mendadak sunyi. Beberapa orang berkumpul. Wajah-wajah yang biasanya tenang kini terlihat tegang, seperti mengingat sesuatu yang lama terkubur.

“Jangan-jangan mereka kembali,” bisik seorang perempuan.

“Ah, jangan ngomong begitu,” sahut yang lain, lalu terdiam.

Beremban Besi berdiri di antara mereka. Ia merasakan ketegangan yang berbeda. Ini bukan rasa cemas miliknya sendiri, tapi rasa cemas bersama.

“Kek,” tanyanya pelan, “mereka bicara soal apa?”

Sang kakek menatapnya lama.
“Perompak Selat Malaka.”

Nama itu diucapkan lirih, tapi berat. Seolah membawa luka lama yang belum sembuh.

“Mereka pernah datang dulu,” lanjut sang kakek.
“Merampas, membakar, dan membuat orang lari meninggalkan rumah.”

Beremban Besi menelan ludah. Ia tidak mengalami kejadian itu, tapi ia bisa merasakan ketakutan yang tersimpan di wajah orang-orang kampung.

“Kenapa mereka datang lagi?” tanyanya.

“Karena sungai ini makmur,” jawab sang kakek.
“Orang serakah selalu tahu ke mana harus datang.”

Kabar tentang kapal dari hulu menyebar cepat. Lelaki-lelaki kampung mulai berkumpul. Mereka membawa alat seadanya. Tidak ada kepanikan besar, tapi kewaspadaan terasa di udara.

Beberapa pasang mata menoleh ke arah Beremban Besi. Tatapan itu singkat, cepat dialihkan, tapi terasa berat.

Beremban Besi menyadarinya. Ia merasakan posisinya mulai berubah di mata orang-orang. Ia bukan lagi sekadar anak yang pendiam.

Hal itu membuatnya tidak nyaman.

“Kek,” katanya saat mereka berjalan pulang,
“aku tidak mau mereka berharap padaku.”

Sang kakek berhenti sejenak.
“Harapan orang tidak selalu bisa kita tolak.”

“Aku belum siap,” kata Beremban Besi jujur.

“Aku tahu,” jawab sang kakek.
“Itulah sebabnya sekarang kau harus lebih banyak mendengar, bukan bertindak.”

Malam itu kampung tidak benar-benar tidur. Suara orang berbincang terdengar dari rumah ke rumah. Lampu minyak menyala lebih lama dari biasanya.

Beremban Besi duduk di dalam rumah. Ia mendengarkan suara-suara itu sambil merasakan beban baru di dadanya.

Ini bukan lagi soal tubuhnya. Ini soal orang banyak.

Di luar, sungai tetap mengalir. Kapal dari hulu belum terlihat, tapi bayangannya sudah memenuhi pikiran semua orang (bersambung) 

×
Berita Terbaru Update