-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (12)

Kamis, 22 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-22T02:00:00Z
Suatu malam, sang kakek mengajaknya duduk dekat api. Api kecil menyala pelan, cahayanya bergerak di dinding kayu.

Tulisan: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

BAB III

Tubuh yang Tidak Mengenal Luka
(Bagian 4)

Setelah kejadian di ladang dan kedatangan orang-orang tua kampung, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada yang tampak tegang, tapi keheningan itu terasa berbeda. Beremban Besi dan sang kakek sama-sama tahu, ada sesuatu yang sudah berubah.

Beremban Besi jadi lebih hati-hati dalam bergerak. Ia tidak lagi cepat-cepat membantu pekerjaan orang lain, dan tidak sering berada di tengah keramaian. Ia belajar menjauh sedikit, tapi tanpa benar-benar menghilang.

Namun menjauh bukan hal mudah bagi anak seusianya. Di dalam dirinya muncul perasaan yang saling tarik-menarik. Ia ingin berguna, tapi juga ingin aman. Perasaan itu membuatnya sering diam dan melamun.

Suatu malam, sang kakek mengajaknya duduk dekat api. Api kecil menyala pelan, cahayanya bergerak di dinding kayu.

“Kau kelihatan gelisah,” kata sang kakek.

Beremban Besi tidak langsung menjawab.
“Aku bingung,” katanya akhirnya. “Aku harus jadi apa.”

“Kenapa kau harus jadi sesuatu?” tanya sang kakek.

“Aku beda,” jawab Beremban Besi jujur. “Orang melihatku begitu.”

Sang kakek mengangguk pelan. “Beda itu bukan pilihanmu. Tapi sikapmu terhadapnya, itu pilihanmu.”

Kalimat itu membuat Beremban Besi berpikir. Ia mulai mengerti, jati diri bukan cuma soal apa yang dimiliki, tapi juga soal cara membawa diri.

“Kau ingin tahu?” tanya sang kakek setelah mereka diam sebentar.

Beremban Besi menoleh.
“Tahu apa?”

“Soal tubuhmu,” jawab sang kakek.

Beremban Besi duduk lebih tegak. Ia sudah lama menunggu pembicaraan ini, meski hatinya juga gentar.

“Aku tidak tahu semuanya,” lanjut sang kakek. “Dan mungkin sekarang belum waktunya.”

“Tapi ada satu hal yang aku tahu.”

Beremban Besi menunggu.

“Tubuhmu diberi daya tahan,” kata sang kakek pelan. “Bukan supaya kau merasa hebat. Tapi supaya kau tidak mudah jatuh saat orang lain butuh sandaran.”

Ucapan itu tidak terdengar seperti pujian. Lebih seperti amanah.

“Itu ilmu?” tanya Beremban Besi.

“Bukan ilmu yang diajarkan,” jawab sang kakek. “Lebih seperti titipan.”

Kata titipan terasa berat. Beremban Besi langsung merasa ada tanggung jawab besar di baliknya.

“Kalau titipan,” katanya lirih, “aku takut merusaknya.”

Sang kakek tersenyum tipis. “Takut itu justru tanda kau pantas menjaganya.”

Pembicaraan itu tidak panjang. Sang kakek tidak mengajarkan cara menguji tubuh, tidak juga memberi petunjuk aneh. Ia tahu, kalau hati belum siap, pengetahuan justru bisa mencelakakan.

Hari-hari setelah itu dijalani dengan lebih tenang. Banyak berjalan, banyak diam, dan banyak memperhatikan sekitar. Sang kakek lebih sering menekankan pengendalian perasaan daripada kekuatan tubuh.

“Kau boleh kuat,” katanya suatu hari. “Tapi jangan pernah merasa kebal.”

Kalimat itu disimpan Beremban Besi dalam-dalam.

Perlahan, cara pandangnya berubah. Ia tidak lagi melihat tubuhnya sebagai keistimewaan. Ia mulai melihatnya sebagai sesuatu yang harus dijaga agar tidak membawa masalah bagi orang lain.

Beberapa orang kampung masih memperhatikan dari jauh. Tapi karena sikap Beremban Besi yang tenang dan tidak menonjol, keadaan kembali seperti biasa. Orang-orang melanjutkan hidup mereka.

Sang kakek tahu, ini belum apa-apa. Baru angin kecil sebelum sesuatu yang lebih besar datang. Tapi ia juga tahu, kekuatan seperti itu tidak akan selamanya diam.

Suatu sore, sang kakek berkata pelan, “Kekuatan akan menemukan jalannya sendiri.”

“Ke mana?” tanya Beremban Besi.

“Ke tempat yang memang membutuhkannya,” jawab sang kakek.

Beremban Besi terdiam lama. Ia menatap sungai yang mengalir tenang. Sungai itu masih sama, tapi rasanya sudah berbeda.

Bukan lagi sekadar tempat menenangkan diri. Sungai itu kini terasa seperti jalan panjang yang suatu hari akan ia tempuh dengan peran yang baru.

Tubuh Beremban Besi mungkin tidak mudah terluka. Tapi hatinya sedang belajar sesuatu yang lebih penting, yaitu belajar tentang tanggung jawab (bersambung)  

×
Berita Terbaru Update