![]() |
| Ilustrasi |
Maria, namanya tetap terdengar lembut di telinga sejarah, meski ia berasal dari negeri yang jauh, Mesir. Dalam perjalanan hidupnya, ia menapaki jejak yang tak biasa bagi seorang wanita pada zamannya: menjadi hadiah, kemudian menjadi bagian dari keluarga seorang nabi.
Hidupnya dimulai dalam bingkai kesederhanaan dan kesetiaan kepada keyakinan yang baru ia kenal. Dari seorang budak yang dikirim sebagai hadiah, Maria melangkah ke dunia yang berbeda, Madinah, membawa hatinya yang masih polos dan mata yang penuh rasa ingin tahu.
Raja Muqawqis mungkin tidak pernah membayangkan bahwa perempuan yang dikirimnya akan memiliki peran yang begitu besar dalam sejarah umat manusia. Maria, dengan segala ketundukan dan kesabaran, menghadapi dunia baru dengan hati terbuka.
Ketika ia memeluk Islam, itu bukan sekadar sebuah nama atau ritual. Itu adalah pengakuan jujur dari hati yang telah lama mencari cahaya. Dari Mesir ke Madinah, perjalanan itu menandai awal sebuah kisah yang lembut namun penuh makna.
Ia bukanlah seorang yang lahir dalam kemewahan, bukan pula yang dibesarkan dalam pujian dan puja. Maria belajar arti cinta dan kesetiaan dari kehidupan sehari-hari, dari tatapan dan sentuhan seorang nabi yang memperlakukannya dengan hormat dan kasih.
Seringkali ia disebut “al-Qibtiyah”, seolah asal-usulnya selalu ingin diingatkan, tetapi Maria tak pernah membiarkan label itu menentukan siapa dirinya. Ia tetap Maria, seorang perempuan dengan iman, ketulusan, dan keberanian menghadapi dunia yang tak selalu ramah.
Ia tinggal di rumah yang jauh dari keramaian istri-istri Nabi, namun itu tidak membuatnya merasa terasing. Justru di kesendirian itu, ia menemukan ruang untuk mengasihi dan dicintai dengan cara yang sederhana namun tulus.
Dari pernikahannya lahirlah Ibrahim, putra yang membawa kebahagiaan tak terhingga bagi Nabi Muhammad. Bayi yang kecil itu menjadi sumber harapan dan sekaligus pengingat bahwa hidup selalu penuh kejutan.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Ibrahim meninggal dunia di usia yang masih sangat muda. Dunia Maria runtuh, bukan karena kehilangan seorang putra saja, tetapi karena kesedihan Nabi Muhammad yang begitu dalam ikut menembus hatinya.
Maria belajar merasakan kesedihan tanpa harus mengungkapkannya terlalu keras. Ia memahami bahwa cinta dan kehilangan berjalan berdampingan, dan bahwa kesetiaan adalah ketika hati tetap utuh meski teriris duka.
Di Madinah, setiap hari membawa pelajaran baru. Maria menatap wajah-wajah yang berbeda, mendengar kata-kata yang berbeda, dan belajar menempatkan dirinya di antara mereka dengan sabar, tanpa pernah kehilangan martabatnya.
Ia bukanlah sosok yang selalu terlihat dalam catatan sejarah yang ramai. Namun dalam diam, ia menorehkan kisah tentang keberanian, tentang iman yang tidak tergoyahkan, tentang ketulusan yang tak lekang oleh waktu.
Ketika Nabi Muhammad menatapnya dengan kasih, Maria belajar arti pengakuan dan penghormatan. Ia tahu bahwa ia bukan sekadar budak atau hadiah, tetapi manusia yang dihargai karena keikhlasannya.
Kehilangan Ibrahim menjadi ujian terdalam baginya. Tapi Maria tetap teguh, karena ia tahu bahwa hidup bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang kesabaran dalam menghadapi cobaan.
Ia mengajarkan kepada kita bahwa cinta tidak selalu harus terdengar keras; terkadang cinta hadir dalam bentuk pengorbanan yang tenang, dalam senyuman yang lembut meski hati merintih.
Maria juga menunjukkan bahwa identitas dan asal-usul tidak menentukan masa depan. Dari seorang Qibtiyah, ia menjadi bagian dari sejarah Islam yang abadi, pengingat bahwa iman mampu melampaui batas-batas duniawi.
Ketika Nabi wafat, Maria tetap hidup dengan kenangan yang begitu dalam. Ia menyimpan setiap momen, setiap kata, setiap senyuman, sebagai harta yang tak ternilai.
Maria mengajarkan kesetiaan: kesetiaan bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada keyakinan, pada nilai-nilai yang membuat kita tetap manusia di tengah kerasnya dunia.
Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan penuh warna, tapi tidak selalu terang. Ada duka, ada kehilangan, ada kesendirian. Namun dari semua itu, muncul kekuatan untuk tetap melangkah.
Dalam tiap langkahnya, Maria menyimpan pelajaran: bahwa kehidupan yang sederhana, hati yang tulus, dan iman yang kuat adalah puncak dari kebahagiaan sejati.
Maria al-Qibtiyah, seorang perempuan Mesir yang menjadi bagian dari sejarah Islam, meninggalkan pesan yang abadi: bahwa cinta dan kesetiaan mampu menembus waktu, bahwa kesedihan dan kehilangan adalah bagian dari hidup, dan bahwa keimanan mampu menjadi cahaya dalam kegelapan (***)
