-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (11)

Rabu, 21 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-21T02:00:00Z
Parang itu mengenai lengan Beremban Besi.
“Beremban!” teriak seseorang.
Namun yang terlihat membuat semua terdiam. Beremban Besi hanya terhuyung sedikit, lalu berdiri lagi. Parang jatuh ke tanah dengan bunyi keras.

Tulisan: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

BAB III

Tubuh yang Tidak Mengenal Luka
(Bagian 3)

Perubahan pada diri Beremban Besi perlahan mulai terlihat oleh orang lain. Kalau sebelumnya keanehan itu hanya ia dan sang kakek yang tahu, kini tanda-tandanya mulai muncul di depan banyak mata. Bukan karena ia ingin menunjukkannya, tapi karena hidup bersama orang lain membuat sesuatu sulit benar-benar disembunyikan.

Suatu pagi, sang kakek mengajaknya membantu memperbaiki pagar ladang milik tetangga. Pekerjaan itu dilakukan ramai-ramai oleh orang dewasa yang sudah terbiasa kerja berat. Beremban Besi ikut di antara mereka, membawa kayu dan tali.

“Kau pegang yang itu,” kata seorang lelaki sambil menunjuk balok kayu besar.

Beremban Besi mengangguk. Ia mengangkat balok itu dan berjalan membawanya. Balok itu berat, tapi langkahnya tetap mantap, seolah tidak ada yang menyulitkan.

Beberapa orang mulai melirik.

“Anak itu kuat juga,” kata seseorang.

“Masih muda, tapi tenaganya besar,” sahut yang lain.

Beremban Besi mendengar, tapi tidak menanggapi. Ia hanya meletakkan balok di tempatnya, lalu kembali bekerja seperti biasa.

Pekerjaan hampir selesai ketika kejadian kecil terjadi. Seorang lelaki terpeleset, dan parang yang dipegangnya terlepas. Parang itu melayang ke arah Beremban Besi.

Semua seperti berhenti sejenak. Parang itu mengenai lengan Beremban Besi.

“Beremban!” teriak seseorang.

Namun yang terlihat membuat semua terdiam. Beremban Besi hanya terhuyung sedikit, lalu berdiri lagi. Parang jatuh ke tanah dengan bunyi keras.

Ia menatap lengannya. Kulitnya tetap utuh.

“Tidak apa-apa,” katanya pelan.

Orang-orang mendekat. Mereka melihat lengannya dari dekat.

“Tidak luka?” tanya seorang lelaki, suaranya ragu.

Beremban Besi menggeleng.

Sang kakek segera melangkah maju. “Parangnya sudah tumpul,” katanya singkat.

Ucapan itu tidak sepenuhnya meyakinkan, tapi cukup membuat suasana mereda. Orang-orang kembali bekerja, meski perasaan mereka sudah tidak sama.

Setelah pekerjaan selesai, bisik-bisik mulai terdengar.

“Kalau tumpul pun harusnya lecet.”
“Aneh anak itu.”
“Kau lihat sendiri tadi.”

Beremban Besi berjalan pulang bersama sang kakek. Ia bisa merasakan pandangan orang-orang mengikuti langkahnya. Untuk pertama kalinya, keanehannya tidak lagi tersembunyi.

Ia merasa tidak nyaman.

“Kek,” katanya pelan, “mereka melihatku lain.”

Sang kakek mengangguk. “Itu memang akan terjadi.”

“Aku tidak mau begitu,” kata Beremban Besi jujur.

“Tidak semua hal bisa kita pilih,” jawab sang kakek. “Tapi sikapmu tetap bisa kau jaga.”

Jawaban itu sedikit menenangkannya. Beremban Besi mulai mengerti bahwa kelebihan sering membuat jarak.

Malam itu, beberapa orang tua kampung datang ke rumah sang kakek. Cara mereka sopan, tidak tergesa, tapi jelas ada maksud.

“Kami cuma ingin bertanya,” kata salah seorang dari mereka.

“Tanya apa?” jawab sang kakek tenang.

“Soal anak itu,” kata orang tua itu sambil melirik Beremban Besi. “Kami melihat sesuatu yang tidak biasa.”

Beremban Besi menunduk. Ia merasa seperti disorot terang, tanpa bisa bersembunyi.

Sang kakek tidak langsung menjawab. Ia menuangkan air, mempersilakan duduk, dan membiarkan suasana tenang lebih dulu.

“Anak ini masih belajar hidup,” kata sang kakek akhirnya. “Apa pun yang kalian lihat, jangan dibebankan padanya.”

Orang-orang tua itu saling pandang. Mereka mengangguk pelan.

“Kami tidak punya niat buruk,” kata salah seorang. “Kami hanya ingin tahu.”

“Cukup ingat satu hal,” jawab sang kakek. “Ia tetap manusia seperti kita.”

Percakapan itu tidak panjang. Mereka pamit dengan sikap hormat.

Setelah rumah kembali sepi, Beremban Besi duduk diam.

“Kau marah?” tanya sang kakek.

Beremban Besi menggeleng.
“Aku takut.”

“Takut apa?” tanya sang kakek.

“Takut tidak dianggap biasa lagi,” jawabnya lirih.

Sang kakek menatapnya lembut. “Biasa itu bukan tujuan hidup.”

Kalimat itu tidak menghilangkan rasa takut, tapi memberi arah. Beremban Besi mulai mengerti bahwa hidupnya bergerak ke jalur yang tidak sepenuhnya bisa ia atur.

Hari-hari berikutnya, sang kakek lebih menjaga jarak Beremban Besi dari keramaian. Bukan untuk menyembunyikan, tapi untuk melindungi.

“Kau tidak harus selalu di depan,” kata sang kakek.

Beremban Besi mengangguk. Ia mulai belajar menahan diri, bukan karena takut, tapi karena tanggung jawab.

Di dalam diri Beremban Besi tumbuh kesadaran baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mulai paham bahwa jika tubuhnya tidak mudah terluka, maka ia justru harus lebih tahu diri. Ia tidak bisa lagi bergerak sembarangan atau bertindak tanpa pikir panjang, karena setiap langkahnya kini punya dampak. Kekuatan, apa pun bentuknya, ternyata menuntut tanggung jawab yang lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Dan Beremban Besi, yang sudah menginjak usia remaja, mulai memahami satu hal penting: kekuatan tanpa kendali hanya akan membawa masalah (bersambung) 

×
Berita Terbaru Update