-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (10)

Selasa, 20 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-20T02:00:00Z
Di ladang, tanpa sadar, ia mulai menguji tubuhnya. Ia mengangkat beban lebih berat. Ia bertahan lebih lama di bawah panas matahari. Ia bekerja tanpa mengeluh.

Tulisan: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

BAB III

Tubuh yang Tidak Mengenal Luka
(Bagian 2)

Sejak kejadian jatuh dari pohon itu, Beremban Besi tidak lagi memandang tubuhnya seperti dulu. Ia tetap bekerja seperti biasa, tapi kini selalu ada rasa sadar yang mengikutinya. Tubuh yang dulu ia anggap sekadar alat untuk bertahan hidup, sekarang terasa seperti sesuatu yang harus ia pahami.

Ia mulai memperhatikan rasa sakit. Atau lebih tepatnya, ketiadaan rasa sakit. Setiap kali terbentur, tergores, atau terjatuh, ia menunggu sesuatu yang seharusnya datang.

Namun tubuhnya sering diam saja.

Hal itu membuatnya bingung.

Sang kakek tidak langsung membicarakan soal jatuh dari pohon itu. Ia memilih diam, seolah memberi waktu. Diamnya bukan karena menghindar, tapi karena tahu kapan harus menunggu.

“Kau belakangan ini banyak melamun,” kata sang kakek suatu pagi.

Beremban Besi mengangguk.
“Aku mikir.”

“Mikir itu bagus,” jawab sang kakek.
“Asal kakimu tetap jalan.”

Beremban Besi tersenyum kecil. Ia kembali bekerja, meski pikirannya masih berputar.

Di ladang, tanpa sadar, ia mulai menguji tubuhnya. Ia mengangkat beban lebih berat. Ia bertahan lebih lama di bawah panas matahari. Ia bekerja tanpa mengeluh.

Bukan karena ingin terlihat kuat, tapi karena ingin tahu. Ia ingin tahu di mana batas tubuhnya.

Suatu siang, sebuah parang tua terjatuh dari rak dan mengenai lengannya. Suaranya keras, membuat orang-orang di sekitar menoleh.

“Beremban!” teriak seorang tetangga.

Beremban Besi menoleh, melihat parang itu, lalu melihat lengannya. Ada garis tipis di kulitnya, tapi tidak ada darah.

Ia mengusapnya pelan. Tidak terasa sakit.

“Tidak apa-apa,” katanya datar.

Tetangga itu mendekat dan memperhatikan lengannya.
“Aneh,” katanya pelan. “Biasanya luka begitu berdarah.”

Beremban Besi tidak menjawab. Dadanya terasa hangat dan dingin sekaligus. Ia sadar, hal seperti ini tidak bisa terus tersembunyi.

Sore harinya, sang kakek mendengar cerita itu. Wajahnya tidak terkejut, tapi terlihat lebih serius.

“Kau tidak perlu mencoba-coba tubuhmu,” katanya.

“Aku tidak sengaja,” jawab Beremban Besi jujur.

Sang kakek menatapnya lama. Ia tahu cucunya tidak berbohong. Tapi ia juga tahu, rasa ingin tahu remaja sering berjalan tanpa disadari.

“Kau tahu kenapa aku banyak diam?” tanya sang kakek.

Beremban Besi menggeleng.

“Karena tubuhmu sedang bicara,” jawab sang kakek.
“Aku ingin kau mendengarnya dulu.”

Jawaban itu membuat Beremban Besi berpikir. Ia mulai mengerti bahwa tidak semua hal harus segera diberi nama.

Malam hari, ia kembali sulit tidur. Ia duduk di beranda, menatap gelap. Kali ini, kegelisahannya bukan soal aman atau tidak aman, tapi soal dirinya sendiri.

“Kek,” katanya pelan.

Sang kakek menghampiri.
“Kenapa?”

“Kalau tubuhku tidak sakit,” kata Beremban Besi ragu,
“itu berbahaya tidak?”

Pertanyaan itu keluar dari ketakutan yang jujur. Ia takut menjadi sesuatu yang tidak ia pahami.

Sang kakek duduk di sampingnya.
“Semua hal bisa berbahaya,” katanya pelan.
“Kalau tidak dijaga.”

“Kau takut?” tanya sang kakek.

Beremban Besi berpikir sebentar.
“Sedikit.”

“Tak apa,” jawab sang kakek.
“Takut itu tanda kau masih manusia.”

Jawaban itu membuat dadanya lebih tenang. Ia tidak ingin menjadi berbeda sampai kehilangan dirinya sendiri.

Hari-hari berikutnya, sang kakek mulai mengajaknya melakukan hal-hal yang lebih terarah. Tidak berat, tapi menuntut perhatian penuh.

“Kau jalan di depan,” kata sang kakek saat mereka menyusuri hutan kecil.

Beremban Besi berjalan pelan. Ia memperhatikan tanah, akar, dan cabang. Setiap langkah ia rasakan.

“Dengar langkahmu,” kata sang kakek.
“Kalau kau dengar, kau tahu kapan harus berhenti.”

Latihan itu bukan soal kebal atau tidak kebal. Itu soal kendali. Sang kakek ingin menanamkan pengendalian sebelum apa pun tumbuh terlalu jauh.

Perlahan, kegelisahan Beremban Besi berkurang. Rasa ingin tahunya tidak lagi mendesak. Ia mulai belajar memahami tanpa tergesa.

Ia berhenti menguji tubuhnya sembarangan. Ia mulai memperlakukan tubuhnya sebagai titipan, bukan alat coba-coba.

Namun perubahan itu mulai terlihat oleh orang lain. Beberapa orang kampung mulai berbisik.

“Anak itu jatuh tidak luka.”
“Terkena parang juga tidak berdarah.”
“Jangan-jangan…”

Kalimat itu sering berhenti sebelum selesai. Orang-orang masih berhati-hati. Mereka menghormati sang kakek dan tidak ingin sembarang menilai.

Sang kakek tahu arah pembicaraan itu. Ia sadar, cepat atau lambat, hal ini akan diketahui banyak orang.

Namun untuk sekarang, ia ingin cucunya tumbuh sebagai manusia biasa terlebih dulu.

Suatu sore, sang kakek berkata pelan,
“Apa pun yang kau punya, jangan kau pamerkan.”

Beremban Besi mengangguk.
“Aku tidak ingin terlihat aneh.”

“Berbeda itu kadang tidak bisa dihindari,” jawab sang kakek.
“Tapi niatmu bisa kau jaga.”

Kalimat itu menjadi pegangan. Beremban Besi mulai paham, apa yang ada padanya bukan hadiah untuk dibanggakan, tapi amanah yang harus dijaga.

Tubuh Beremban Besi makin matang seiring hari-hari yang ia jalani. Geraknya lebih tenang, napasnya lebih teratur, dan pikirannya tidak lagi berlari ke mana-mana. Ia belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang tumbuh di dalam dirinya, tetapi ia mulai merasakan bahwa hidupnya sedang diarahkan ke sesuatu yang lebih besar dari sekadar bertahan.

Beremban Besi belum pernah disebut sakti oleh siapa pun. Tidak ada yang mengangkat namanya, tidak ada pula yang menaruh harapan aneh padanya. Di mata orang-orang, ia masih anak pendiam yang rajin membantu dan jarang banyak bicara. Ia belum pernah berdiri di hadapan orang banyak, belum pernah diminta membuktikan apa pun, dan belum pernah diuji dengan sengaja. Kehidupannya tetap berjalan sederhana, mengikuti hari-hari di ladang, di rumah, dan di sekitar sungai, seolah tidak ada yang luar biasa sedang tumbuh di dalam dirinya.

Namun di balik kesederhanaan itu, satu hal perlahan menjadi nyata. Tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak lagi sepenuhnya tunduk pada hukum biasa yang dikenalnya sejak kecil. Luka yang seharusnya terasa, rasa sakit yang seharusnya datang, sering kali berhenti sebelum sempat benar-benar hadir. Bersamaan dengan itu, jiwanya pun seperti sedang dipersiapkan dengan cara yang sunyi—bukan lewat ajaran keras atau pengakuan, melainkan lewat pengendalian diri, kesabaran, dan kebiasaan mendengar sebelum bertindak. Ia belum memahami sepenuhnya apa arti semua itu, tetapi tanpa ia sadari, hidup sedang menuntunnya pelan-pelan untuk siap menerima sesuatu yang lebih besar dari sekadar kekuatan tubuh (bersambung) 


×
Berita Terbaru Update