BAB I
Anak Gondrong dari Muara Tambang
(Bagian 4)
Pagi itu datang seperti pagi-pagi sebelumnya, tetapi Beremban Besi merasakannya berbeda. Cahaya matahari tetap jatuh di permukaan sungai dengan cara yang sama. Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak perlahan.
Ia berjalan menyusuri tepi sungai tanpa tujuan yang jelas. Kakinya melangkah ringan, seolah tubuhnya sudah tahu ke mana ia akan pergi. Pikiran Beremban Besi sendiri belum sepenuhnya menyusul.
Ia duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Batu sungai itu masih dingin ketika disentuh. Air mengalir pelan, seperti tidak peduli pada perubahan yang sedang terjadi dalam dirinya.
Biasanya, duduk di situ membuatnya tenang. Namun pagi itu, ketenangan terasa bercampur dengan rasa lain yang sulit dijelaskan. Rasa seolah-olah sesuatu akan berakhir, dan sesuatu yang lain akan dimulai.
Beberapa orang kampung melintas di belakangnya. Ada yang menyapanya singkat, ada yang hanya mengangguk. Semua berjalan seperti biasa.
Namun bagi Beremban Besi, Muara Tambang tidak lagi terasa sepenuhnya sama. Ia mulai menyadari bahwa tempat ini mungkin tidak akan selalu menjadi seluruh dunianya.
“Beremban.”
Suara itu datang dari arah belakang. Beremban Besi menoleh perlahan. Lelaki tua itu berdiri beberapa langkah darinya.
“Kek,” ucap Beremban Besi tanpa berpikir panjang.
Kata itu keluar begitu saja. Begitu sederhana, tetapi membuat dadanya bergetar.
Lelaki tua itu tersenyum kecil. Senyumnya tidak lebar, tetapi hangat. Ia tidak menyembunyikan rasa terkejut dan senangnya.
“Kau memanggilku begitu,” katanya pelan.
Beremban Besi menunduk. Ia merasa wajahnya panas. Ia sendiri tidak tahu sejak kapan kata itu siap keluar dari mulutnya.
“Aku sudah memikirkan banyak hal,” kata Beremban Besi setelah beberapa saat. Suaranya rendah, tetapi jelas. Ia ingin didengar, meski tidak sepenuhnya yakin.
Sang kakek mengangguk. Ia tidak memotong pembicaraan. Ia memberi ruang.
“Aku tidak tahu bagaimana hidup di hilir,” lanjut Beremban Besi. “Aku terbiasa sendiri.”
“Sendiri itu tidak salah,” jawab sang kakek dengan tenang. “Tapi kau juga berhak punya tempat untuk pulang.”
Beremban Besi meremas ujung bajunya. Kata-kata itu terasa benar, tetapi juga menakutkan. Selama ini, kesendirian adalah cara ia melindungi diri.
Kalau aku tidak sendiri lagi, apakah aku masih aman?
“Kalau aku ikut,” katanya pelan, “aku masih boleh ke sungai?”
Sang kakek tersenyum. “Sungai tidak pernah melarang siapa pun datang.”
Jawaban itu membuat Beremban Besi mengangguk. Dadanya terasa sedikit lebih lapang.
Mereka berjalan bersama menyusuri kampung. Kali ini langkah mereka sejajar. Tidak ada jarak di antara mereka.
Beberapa orang kampung memperhatikan.
“Itu anak gondrong itu.”
“Iya, sama orang tua itu lagi.”
“Katanya cucunya.”
Bisik-bisik itu terdengar jelas. Namun Beremban Besi tidak lagi merasa kecil. Ada sesuatu yang berdiri di sampingnya, memberi rasa aman.
Sebelum menuju perahu, Beremban Besi berhenti. Ia berdiri di bawah kolong rumah panggung tempat ia sering bermalam. Tempat yang mengenal tubuhnya lebih lama daripada siapa pun.
Ia memandangi tempat itu dalam diam.
“Kau ingin pamit?” tanya sang kakek.
Beremban Besi menggeleng. “Tidak ada yang perlu dipamitkan.”
Jawaban itu jujur. Dan justru karena itu terasa berat.
Sang kakek tidak berkata apa-apa. Ia memahami bahwa tidak semua perpisahan membutuhkan kata.
Beremban Besi membungkuk dan mengambil sebuah batu kecil dari tanah. Batu sungai yang licin dan halus. Batu itu sering ia genggam saat tidur.
Ia memasukkannya ke saku bajunya.
“Itu saja yang kau bawa?” tanya sang kakek.
“Iya,” jawab Beremban Besi singkat.
Mereka sampai di tepi sungai. Perahu kayu kecil bergoyang pelan, menunggu. Air memantulkan cahaya pagi.
Beremban Besi ragu sejenak. Kakinya berhenti tepat di tepi perahu.
Kalau aku naik, aku benar-benar pergi.
Kalau aku pergi, tidak ada jalan kembali seperti semula.
Sang kakek tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri dan menunggu.
Akhirnya, Beremban Besi melangkah. Satu kaki, lalu kaki yang lain. Perahu bergoyang sebentar, lalu tenang kembali.
Mereka mulai menyusuri sungai menuju hilir. Air membawa mereka perlahan menjauh dari Muara Tambang.
Beremban Besi menoleh ke belakang. Rumah-rumah panggung tampak mengecil. Tempat-tempat yang dulu menjadi seluruh hidupnya perlahan tertinggal.
“Tak apa menoleh,” kata sang kakek. “Yang penting kau tahu ke mana kau melangkah.”
Beremban Besi mengangguk. Ia tidak menangis. Ia juga tidak tersenyum. Ia hanya menyimpan semuanya di dalam hati.
Perjalanan berlangsung dalam diam yang nyaman. Angin menyentuh wajahnya. Bau lumpur dan dedaunan ikut terbawa.
“Kau akan belajar banyak hal,” kata sang kakek akhirnya. “Bukan hanya bekerja, tapi juga hidup bersama.”
Beremban Besi menatap air. “Aku akan mencoba.”
Bukan janji besar. Namun bagi anak yang selama ini hanya bertahan, kata mencoba adalah keberanian.
Menjelang sore, mereka tiba di hilir. Sebuah rumah sederhana berdiri di antara ladang dan pepohonan. Tidak besar, tetapi tampak kokoh.
“Inilah rumah kita,” kata sang kakek.
Beremban Besi berdiri di depan rumah itu. Dadanya terasa penuh. Ada rasa berat, tetapi juga hangat.
Ia melangkah masuk.
Malam itu, Beremban Besi tidur di dalam rumah. Atap melindunginya dari angin. Dinding menahan dingin malam.
Ia terbangun beberapa kali. Setiap kali membuka mata, rumah itu masih ada. Dan sang kakek masih di sana.
Untuk pertama kalinya, ia tertidur dengan perasaan bahwa esok hari mungkin tidak perlu ia hadapi sendirian (bersambung)


