![]() |
| Ia duduk perlahan di atas tikar pandan. Anyamannya terasa kasar di telapak tangannya, tetapi hangat. Tikar itu terhampar rapi, seolah memang disiapkan untuknya. |
Asuhan di Hilir Sungai
(Bagian 1)
Pagi pertama di rumah sang kakek terasa berbeda bagi Beremban Besi. Ia terbangun lebih cepat dari biasanya, bukan karena suara kampung, melainkan karena sunyi yang asing. Sunyi di hilir sungai terasa rapi dan teratur, tidak liar seperti di Muara Tambang.
Ia duduk perlahan di atas tikar pandan. Anyamannya terasa kasar di telapak tangannya, tetapi hangat. Tikar itu terhampar rapi, seolah memang disiapkan untuknya.
Beremban Besi menoleh ke sekeliling rumah. Dinding kayu berdiri kokoh, atap menutup rapat, dan angin malam tidak masuk begitu saja. Ada rasa aman yang muncul, meski ia belum sepenuhnya berani mempercayainya.
Ia berdiri dan melangkah pelan. Setiap langkah terasa hati-hati, seperti orang yang takut salah tempat. Anak yang lama hidup berpindah-pindah sering merasa dirinya hanya numpang di mana pun ia berada.
Di luar rumah, sang kakek sudah bangun. Lelaki tua itu duduk di bangku kayu, mengikat tali parang dengan tenang. Gerakannya pelan, pasti, dan tidak terburu-buru.
“Kau bangun cepat,” kata sang kakek tanpa menoleh.
Beremban Besi mengangguk.
“Iya, Kek.”
Suaranya masih terdengar ragu. Ia belum terbiasa memanggil seseorang dengan panggilan seperti itu. Kata kakek masih terasa baru di lidahnya.
“Di sini kita bangun pagi,” lanjut sang kakek. “Tubuh perlu kebiasaan.”
Beremban Besi mendengarkan. Ia tidak sepenuhnya mengerti maksud kata-kata itu, tetapi ia menangkap pesannya. Hidup di sini tidak dibiarkan berjalan semaunya.
Sang kakek berdiri dan berjalan ke dapur kecil di belakang rumah. Api sudah menyala sejak subuh. Bau kayu terbakar bercampur dengan aroma air panas.
“Makan dulu,” katanya singkat.
Beremban Besi duduk di dekat dapur. Ia menunggu seperti yang biasa ia lakukan. Namun kali ini, menunggu terasa lain.
Ia tidak menunggu sisa. Ia menunggu bagiannya.
Sepiring nasi dan ikan diletakkan di hadapannya. Sederhana, tetapi jelas. Makanan itu memang disiapkan untuknya.
“Makan,” ulang sang kakek.
Beremban Besi mulai makan perlahan. Ia masih membawa kebiasaan lama: tidak tergesa, selalu bersiap jika harus berhenti. Sang kakek memperhatikannya, tetapi tidak menegur.
Setelah makan, sang kakek mengajaknya keluar rumah. Tidak jauh dari sana, ladang terbentang luas. Tanahnya gelap dan subur, tanaman tumbuh dengan jarak teratur.
“Ini ladang kita,” kata sang kakek. “Kita hidup dari sini.”
Beremban Besi menatap ladang itu lama. Ada rasa kagum, tetapi juga rasa takut. Ia terbiasa bekerja serabutan, tetapi ladang adalah pekerjaan yang menuntut kesabaran.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.
Sang kakek tersenyum kecil. “Belajar.”
Kata itu terdengar sederhana. Namun bagi Beremban Besi, kata itu terasa berat. Selama ini ia belajar sendiri, tanpa petunjuk siapa pun.
Hari itu, sang kakek tidak memberinya pekerjaan berat. Mereka hanya berjalan menyusuri ladang, mengenali batas tanah, melihat tanaman, dan memperhatikan waktu.
“Tanah tidak suka dipaksa,” kata sang kakek sambil menunjuk tanaman. “Kalau tergesa, ia tidak memberi.”
Beremban Besi menyimpan kalimat itu. Ia terbiasa memaksa dirinya sendiri. Namun alam, rupanya, tidak bisa diperlakukan begitu.
Menjelang siang, mereka kembali ke rumah. Beremban Besi merasa lelah dengan cara yang berbeda. Bukan lelah badan, melainkan lelah menyesuaikan diri.
Ia duduk di beranda dan menatap sungai dari kejauhan. Sungai masih ada, mengalir seperti biasa. Namun kini, sungai bukan lagi satu-satunya tempat bergantung.
Perasaan itu membuatnya gelisah.
“Kau rindu sungai?” tanya sang kakek.
Beremban Besi diam sebentar.
“Sedikit.”
Sang kakek mengangguk. “Tak apa. Rindu itu tanda kau hidup.”
Jawaban itu membuat Beremban Besi merasa lebih tenang. Untuk pertama kalinya, perasaannya tidak dianggap lemah.
Sore hari, beberapa tetangga datang berkunjung. Mereka ingin melihat anak yang dibawa sang kakek dari Muara Tambang. Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu.
“Itukah cucumu?” tanya seorang lelaki.
“Iya,” jawab sang kakek singkat.
Beremban Besi berdiri di samping sang kakek. Dadanya berdebar, tetapi kakinya tetap di tempat. Ia tidak sendirian.
“Anaknya pendiam,” kata seorang perempuan.
“Pendiam itu tanda ia banyak memperhatikan,” sahut sang kakek.
Kalimat itu membuat dada Beremban Besi menghangat. Sesuatu dalam dirinya terasa diterima, meski tanpa banyak kata.
Malam pun tiba. Beremban Besi tidur lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh dengan hal baru.
Sebelum tertidur, ia menyadari sesuatu. Hari ini, ia tidak harus memutuskan segalanya sendiri.
Begini rasanya diatur, pikirnya pelan.
Dan bagi seorang anak yang selama ini hanya bertahan hidup, hari itu menjadi awal dari perubahan yang nyata (bersambung)


