![]() |
| Ilustrasi |
Di antara kisah para wanita yang mengisi sejarah Nabi ﷺ, nama Juwairiyah binti al-Harith selalu menghadirkan keheningan dalam hati. Sebuah kisah tentang kesabaran yang diuji oleh peperangan, kehilangan, dan akhirnya keberkahan yang tak terduga.
Juwairiyah lahir di tengah keluarga terpandang Bani Mustaliq. Ayahnya adalah pemimpin suku, seorang pria yang tangguh dan dihormati. Hidupnya sejak kecil diliputi kemewahan dan keamanan—hingga datang masa yang mengguncang dunianya.
Perang itu datang seperti badai yang tak diundang. Kaum Muslimin dan Bani Mustaliq bertemu di medan Muraisi’. Api peperangan membakar kehidupan, memisahkan keluarga, dan menorehkan luka yang dalam di jiwa seorang gadis muda.
Juwairiyah menjadi tawanan perang. Dari statusnya sebagai putri, ia kini tergantung pada belas kasih orang lain. Dunia yang dulu penuh warna, kini menjadi abu dan debu yang menempel di kulit dan hati.
Di antara tawanan lain, ia tampak tenang. Namun, di matanya tersimpan kesedihan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah kehilangan segalanya. Ia bukan sekadar tawanan fisik, tetapi tawanan takdir yang tak terduga.
Thabit bin Qais menjadi penanggung jawabnya. Ia adalah orang yang diberi wewenang, tetapi Juwairiyah tak memiliki kekuatan untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam senyap malam, ia menatap langit dan berdoa: "Ya Allah, bimbinglah langkahku."
Hati Juwairiyah berat. Ia ingin bebas, tetapi bagaimana mungkin seorang gadis terjebak di antara kepentingan politik dan peperangan bisa menentukan jalan hidupnya? Air matanya menetes di balik hijab kesabaran.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ datang menawarkan jalan keluar, ia tidak menyangka hidupnya akan berubah sedemikian rupa. Tawaran menikah bukan sekadar penyelamatan pribadi, tetapi jembatan bagi pembebasan seluruh sukunya.
Dalam ketundukan yang lembut dan tawaduk, Juwairiyah menerima. Ia sadar, keputusan itu adalah penyerahan diri yang sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dalam hati yang bergetar, ada ketenangan yang lahir dari keimanan yang teguh.
Peristiwa itu mengajarkan bahwa kadang, kebebasan datang dalam wujud yang tak pernah kita bayangkan. Ia tidak lagi hanya seorang tawanan; ia kini bagian dari keluarga Nabi ﷺ, Ibu Orang-orang Beriman.
Hidupnya pasca-pernikahan tidak melulu tentang kemewahan dunia. Juwairiyah dikenal sebagai wanita yang tekun beribadah, yang tetap menundukkan hati kepada Allah. Ia sering berdzikir, bahkan ketika seorang sahabat menatapnya, ia seperti berada dalam dunia sendiri.
Nabi ﷺ melihat ketulusan itu. Dalam kesunyian rumah tangga mereka, beliau mengajarkan dzikir yang penuh keberkahan. Kata-kata itu bukan sekadar bunyi, tetapi doa yang menenangkan jiwa dan menumbuhkan cahaya dalam hati Juwairiyah.
Setiap huruf dzikir yang ia lantunkan, menjadi penawar bagi luka masa lalu. Setiap hembusan nafasnya adalah bentuk syukur atas jalan yang Allah pilihkan, meskipun awalnya pahit dan menyakitkan.
Juwairiyah tidak pernah melupakan masa lalunya. Ia tahu bahwa derita pernah menghampirinya, dan ia menyadari bahwa kebahagiaan kini hadir bukan karena kebetulan, tetapi rahmat yang besar dari Allah.
Dalam lingkungannya, ia menjadi inspirasi. Wanita-wanita lain melihat ketabahan dan ketenangannya, dan belajar bahwa keikhlasan dan kesabaran bisa meredakan rasa sakit yang paling dalam.
Meski ia pernah menangis di tengah kehancuran sukunya, kini ia menangis dalam keikhlasan yang menyejukkan hati. Air mata itu bukan sekadar kesedihan, tetapi doa yang menembus langit, menyatu dengan dzikir yang ia lantunkan.
Kisah Juwairiyah adalah pengingat bahwa hidup sering membawa kita pada jalan yang tidak kita pilih. Namun, ketika kita menyerahkan diri pada kehendak Allah, jalan itu bisa berubah menjadi ladang berkah dan cahaya.
Ia wafat di Madinah, dimakamkan di Jannat al-Baqi’. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga teladan: tentang ketabahan, pengorbanan, dan keimanan yang tak tergoyahkan.
Hari-hari kita mungkin tidak seberat yang ia alami, tetapi dari kisah Juwairiyah, kita belajar bahwa setiap ujian membawa hikmah. Setiap kehilangan bisa menjadi pintu menuju rahmat yang lebih besar.
Dan ketika kita merenung, air mata Juwairiyah mengingatkan kita bahwa kesedihan dan keikhlasan adalah guru terbaik dalam hidup. Dalam heningnya, kita bisa mendengar bisikan doa dan dzikirnya, menyejukkan hati yang gundah.
Akhirnya, Juwairiyah binti al-Harith bukan sekadar nama dalam sejarah. Ia adalah cermin refleksi bagi siapa pun yang pernah kehilangan, dan bukti bahwa dari kegelapan, cahaya akan selalu lahir (***)


