Tulisan: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
BAB II
Asuhan di Hilir Sungai
(Bagian 2)
Hari-hari berikutnya berjalan dengan irama yang mulai bisa ditebak. Pagi selalu datang lebih awal di rumah sang kakek. Beremban Besi mulai mengenali suara ayam sebagai penanda waktu.
Setiap bangun tidur, ia masih terdiam sejenak. Matanya menelusuri dinding kayu, atap rumah, dan lantai tempat ia berbaring. Ia memastikan bahwa semua itu nyata.
Aku masih di sini, pikirnya.
Bukan di kolong rumah panggung.
Perasaan aman datang perlahan. Tidak sekaligus, tidak juga tetap. Kadang hadir, kadang menghilang.
Sang kakek tidak banyak bicara di pagi hari. Ia percaya pagi adalah waktu tubuh belajar bekerja. Lidah tidak perlu panjang.
Sikap itu sempat membuat Beremban Besi ragu. Namun lama-kelamaan, ia justru merasa lega. Tidak ada pertanyaan yang harus segera dijawab.
Pekerjaan pagi dimulai dengan hal-hal ringan. Menyapu halaman, mengambil air, membersihkan peralatan ladang. Semua dilakukan berurutan.
“Kita tidak mengejar waktu,” kata sang kakek suatu pagi.
“Kita berjalan bersama waktu.”
Beremban Besi mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti. Selama ini, ia merasa waktu selalu mengejarnya: lapar, hujan, gelap. Kini, ia diajak berjalan sejajar dengannya.
Di ladang, sang kakek mulai memberinya tugas kecil. Tidak berat, tetapi juga tidak main-main. Tugas-tugas itu membuat Beremban Besi belajar mengukur dirinya.
“Pegang cangkul begini,” kata sang kakek sambil memperagakan.
“Jangan melawan tanah. Ikuti arahnya.”
Beremban Besi meniru. Gerakannya kaku dan terlalu kuat. Cangkul menghantam tanah dengan suara keras.
Sang kakek menggeleng pelan.
“Tenang.”
Beremban Besi menarik napas dan mencoba lagi. Kali ini gerakannya lebih pelan. Tanah terbelah lebih rapi.
Dalam dirinya muncul kesadaran kecil. Kekuatan bukan soal seberapa keras, tetapi seberapa terkontrol.
Namun kebiasaan lama tidak mudah dilepas. Suatu siang, ketika sang kakek pergi sebentar ke rumah tetangga, Beremban Besi melanjutkan bekerja sendiri.
Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu. Ia bekerja tanpa berhenti, tanpa menengok waktu. Tubuhnya berkeringat, tangannya pegal.
Kalau cepat selesai, aku aman, pikirnya.
Kebiasaan lama itu kembali mengambil alih.
Ketika sang kakek kembali, ia mendapati Beremban Besi duduk terengah di tepi ladang. Tanah di sekitarnya berantakan, tidak seperti biasanya.
“Kau yang mengerjakan ini?” tanya sang kakek.
Beremban Besi mengangguk.
“Aku bisa.”
Sang kakek tidak marah. Ia duduk di samping cucunya dan memeriksa tanah itu perlahan.
“Kau kuat,” katanya.
“Tapi kau tidak mendengar.”
Kalimat itu membuat Beremban Besi terdiam. Ia merasa ditegur, tetapi tidak disalahkan. Itu pengalaman baru.
“Aku terbiasa begitu,” katanya pelan.
“Kalau tidak cepat, nanti habis.”
Sang kakek menatapnya lama.
“Di sini, tidak ada yang merebut dari tanganmu.”
Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dada Beremban Besi. Ia menunduk. Tubuhnya masih hidup dalam pola lama, meski tempatnya sudah berubah.
Sore hari, mereka duduk di beranda. Sang kakek mengasah parang dengan tenang. Suara gesekan batu dan besi mengisi udara.
“Kau tidak perlu membuktikan apa pun,” kata sang kakek tiba-tiba.
Beremban Besi menoleh.
“Aku hanya tidak ingin menyusahkan.”
“Menjadi anak bukan menyusahkan,” jawab sang kakek.
Kata anak terasa berat dan asing. Namun kali ini, Beremban Besi tidak menolaknya dalam hati.
Hari-hari berikutnya diisi dengan pekerjaan yang perlahan bertambah. Sang kakek mulai mengajarkan disiplin tubuh secara sederhana.
“Kau makan teratur,” katanya.
“Tidur teratur. Tubuh perlu diajar.”
Beremban Besi mengikuti, meski kadang melawan diam-diam. Ia masih sering terbangun malam dan duduk memandangi gelap.
Suatu malam, sang kakek memergokinya.
“Kau tidak bisa tidur?” tanya sang kakek.
Beremban Besi menggeleng.
“Biasa.”
“Kalau biasa, tak apa,” kata sang kakek.
“Tapi kau boleh duduk di dalam.”
Ia menepuk lantai di sampingnya. Undangan itu sederhana, tetapi bermakna. Beremban Besi duduk, menjaga jarak, namun merasa lebih tenang.
Perlahan, kehidupan sosial di hilir mulai mengenalnya. Anak-anak tetangga menyapa, meski masih canggung.
“Kau dari Muara Tambang?” tanya seorang anak.
Beremban Besi mengangguk.
“Di sana seram?” tanya yang lain.
“Tidak,” jawab Beremban Besi.
“Hanya sepi.”
Anak-anak itu terdiam. Mereka belum memahami sepi seperti yang ia maksud.
Dalam pertemuan kecil itu, Beremban Besi mulai belajar berbagi ruang. Ia tidak lagi sepenuhnya pengamat, meski masih banyak diam.
Sang kakek melihat semua itu tanpa banyak campur tangan. Ia tahu, perubahan tidak bisa dipercepat. Yang bisa dilakukan hanyalah menyediakan tempat yang aman.
Suatu sore, hujan turun deras. Air mengalir di parit-parit kecil. Beremban Besi berdiri di ambang pintu, menatap hujan.
“Dulu kau berteduh di mana?” tanya sang kakek.
“Di mana saja,” jawab Beremban Besi.
“Sekarang?” tanya sang kakek lagi.
Beremban Besi menoleh ke dalam rumah.
“Di sini.”
Jawaban itu singkat. Namun maknanya besar. Ia tidak lagi menyebut tempat, tetapi kebersamaan.
Di akhir hari itu, sang kakek menyadari perubahan kecil yang penting. Beremban Besi mulai berhenti sekadar bertahan. Ia mulai belajar tinggal.
Dan di situlah asuhan benar-benar bekerja, perlahan dan nyata (bersambung)


