![]() |
| Rumah Pak Tua tidak jauh dari ladang. Bangunannya tua, tetapi bersih dan terawat. Di beranda, lelaki sepuh itu duduk membersihkan jaring ikan. |
Tulisan: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
BAB II
Asuhan di Hilir Sungai
(Bagian 3)
Perubahan terbesar dalam hidup Beremban Besi tidak langsung terlihat pada tubuhnya. Yang lebih dulu berubah adalah caranya memandang orang lain. Jika dulu manusia baginya hanya latar atau ancaman, kini ia mulai melihat mereka sebagai bagian dari dunia yang perlu dipahami.
Perubahan itu tidak datang sekaligus. Ia tumbuh perlahan, mengikuti hari-hari yang kini berjalan teratur. Setiap hari memberi ruang bagi Beremban Besi untuk belajar mengenal orang di sekitarnya.
Sang kakek mulai mengenalkannya pada lingkungan sekitar. Tidak dengan pertemuan besar atau cara yang ramai. Ia melakukannya lewat kunjungan kecil dan langkah sederhana.
“Hari ini kita silaturahim ke rumah Pak Tua,” kata sang kakek suatu pagi.
Beremban Besi mengangguk.
“Untuk apa?”
“Silaturahim,” jawab sang kakek singkat.
Kata silaturahim terdengar asing bagi Beremban Besi. Selama hidupnya, ia jarang datang ke rumah orang hanya untuk bertemu dan berbincang. Ia lebih sering dilihat dari jauh, tanpa benar-benar diajak mendekat.
Rumah Pak Tua tidak jauh dari ladang. Bangunannya tua, tetapi bersih dan terawat. Di beranda, lelaki sepuh itu duduk membersihkan jaring ikan.
“Assalamualaikum,” sapa sang kakek.
“Waalaikum salam,” jawab Pak Tua sambil menoleh.
“Siapa anak ini?”
“Cucuku,” jawab sang kakek.
Beremban Besi berdiri kaku. Ia menundukkan kepala sedikit, meniru sikap sang kakek.
“Matanya baik,” kata Pak Tua sambil tersenyum.
“Banyak melihat.”
Beremban Besi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
“Tak apa diam,” lanjut Pak Tua.
“Orang diam biasanya menyimpan banyak.”
Kalimat itu membuat dada Beremban Besi menghangat. Ia mulai memahami bahwa diam tidak selalu berarti kosong.
Mereka duduk sebentar di beranda. Sang kakek dan Pak Tua berbincang tentang ladang, hujan, dan sungai. Beremban Besi mendengarkan dengan saksama.
Dari percakapan itu, ia belajar sesuatu yang baru. Orang dewasa tidak selalu berbicara untuk memerintah atau menilai. Mereka juga berbagi cerita dan pengalaman hidup.
Dalam perjalanan pulang, Beremban Besi bertanya, “Kenapa kita harus silaturahim?”
Sang kakek menjawab pelan, “Karena hidup tidak dijalani sendiri.”
“Apa gunanya?” tanya Beremban Besi jujur.
Sang kakek berhenti berjalan.
“Agar kau tahu,” katanya,
“kalau suatu hari kau lemah, ada orang yang datang.”
Kalimat itu masuk ke dalam pikiran Beremban Besi perlahan. Ia mulai memahami arti hubungan timbal balik, sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Hari-hari berikutnya, sang kakek semakin sering mengajaknya bersilaturahim. Kadang ke rumah tetangga, kadang ke ladang bersama orang lain. Setiap pertemuan menjadi pelajaran kecil.
“Kalau bertemu orang tua,” kata sang kakek suatu kali,
“tundukkan kepala sedikit. Bukan karena takut, tapi hormat.”
Beremban Besi mempraktikkannya. Awalnya kaku, lama-lama menjadi kebiasaan.
Suatu hari, seorang anak tetangga mendekatinya.
“Ayo ke sungai,” kata anak itu.
Beremban Besi terkejut. Ia menoleh ke arah rumah, mencari sang kakek dengan pandangan.
“Pergilah,” kata sang kakek dari kejauhan.
“Aku di sini.”
Kalimat itu memberi izin sekaligus rasa aman. Beremban Besi pun mengikuti anak-anak itu ke sungai.
Mereka bermain sederhana. Berenang, tertawa, dan mengikuti arus air. Beremban Besi awalnya canggung, tetapi tubuhnya cepat menyesuaikan.
“Kau kuat berenang,” kata salah satu anak.
Beremban Besi mengangkat bahu.
“Biasa.”
Namun kali ini, kata itu tidak menciptakan jarak. Ia mulai merasa menjadi bagian.
Ketika pulang, pakaian Beremban Besi basah dan tubuhnya kotor. Ia menunggu reaksi sang kakek, seperti dulu ia menunggu penilaian orang dewasa.
“Kau senang?” tanya sang kakek.
Beremban Besi mengangguk.
“Bagus,” jawab sang kakek.
Tidak ada marah. Tidak ada larangan. Hanya penerimaan.
Malam hari, sang kakek mulai bercerita. Cerita tentang orang-orang dahulu, tentang adat, dan tentang akibat dari pilihan hidup. Cerita itu mengalir tanpa nada menggurui.
“Ilmu itu bukan hanya di kepala,” kata sang kakek.
“Ilmu itu ada di sikap.”
Beremban Besi mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia tidak selalu mengerti, tetapi ia merasakan bobotnya.
“Kalau kau kuat,” lanjut sang kakek,
“kau jaga yang lemah.”
“Kalau aku tidak tahu?” tanya Beremban Besi.
“Kalau tidak tahu,” jawab sang kakek,
“kau belajar.”
Jawaban itu sederhana, tetapi menjadi dasar cara hidup baru bagi Beremban Besi. Ia mulai melihat kekuatan sebagai tanggung jawab, bukan sekadar alat bertahan.
Beberapa tetua kampung mulai memperhatikan anak itu. Mereka melihat caranya duduk, caranya mendengar, dan caranya menahan diri.
“Anak itu berubah,” kata seorang tetua.
“Ia sedang dibentuk,” jawab yang lain.
Sang kakek mendengarnya, tetapi tidak menyahut. Ia tahu, perubahan sejati terjadi perlahan dan dalam diam.
Beremban Besi belum menjadi anak yang pandai bicara. Ia juga belum sepenuhnya percaya diri. Namun ia telah melangkah jauh dari anak yang hanya mengenal dirinya sendiri.
Ia mulai memahami satu hal penting. Hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang terhubung dengan orang lain melalui silaturahim (bersambung)
