![]() |
| Tubuhnya mulai terbiasa dengan irama hidup di hilir. Bangun pagi tidak lagi terasa berat. Badannya menguat dengan sendirinya, bukan karena dipaksa, tapi karena dibiasakan. |
Tulisan: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
BAB II
Asuhan di Hilir Sungai
(Bagian 4)
Perubahan dalam diri Beremban Besi makin terasa, meski tidak selalu kelihatan dari luar. Ia masih anak yang pendiam dan lebih suka mengamati. Tapi cara ia berdiri, berjalan, dan menatap orang sekarang sudah berbeda.
Tubuhnya mulai terbiasa dengan irama hidup di hilir. Bangun pagi tidak lagi terasa berat. Badannya menguat dengan sendirinya, bukan karena dipaksa, tapi karena dibiasakan.
Sang kakek tidak pernah bilang ini latihan atau ujian. Semua dianggap bagian dari hidup sehari-hari. Karena itu, Beremban Besi tidak merasa sedang diuji apa-apa.
Suatu pagi, sang kakek mengajaknya ke ladang yang lebih jauh dari biasanya. Tanah di sana lebih keras dan banyak akar sisa pohon.
“Hari ini kau kerja di sini,” kata sang kakek.
Beremban Besi mengangguk. Ia langsung memegang cangkul dan mulai bekerja. Tapi tanah itu tidak mudah dibuka.
Ia mengayunkan cangkul lebih kuat. Tanah memang terbelah, tapi tangannya ikut bergetar. Ia menggertakkan gigi dan tetap melanjutkan.
“Kau boleh berhenti,” kata sang kakek dari kejauhan.
Beremban Besi tidak menjawab. Ia tetap bekerja. Bukan karena membangkang, tapi karena dorongan lama dalam dirinya masih kuat. Dorongan untuk menyelesaikan semuanya sendiri.
Sang kakek memperhatikannya diam-diam. Ia tidak melarang, tidak juga menyuruh berhenti. Ia ingin melihat bagaimana cucunya mengatur tubuh dan hatinya sendiri.
Tak lama kemudian, cangkul itu terlepas dari tangan Beremban Besi dan jatuh ke tanah. Tangannya merah, tapi tidak sampai terluka.
Beremban Besi berdiri terdiam. Napasnya berat dan dadanya naik turun.
“Duduk,” kata sang kakek.
Beremban Besi duduk di tanah. Ia menunduk, menunggu dimarahi.
Namun tidak ada marah.
“Kau tahu kenapa tanganmu tidak luka?” tanya sang kakek.
Beremban Besi menggeleng.
“Karena tubuhmu memberi tanda, dan kau akhirnya mendengar,” kata sang kakek. “Meski agak terlambat.”
Beremban Besi mengangkat kepala. Ia tidak menyangka akan mendengar kata seperti itu.
“Tubuhmu kuat,” lanjut sang kakek. “Tapi yang lebih kuat itu niatmu.”
Sejak hari itu, sang kakek mulai memandang Beremban Besi dengan cara berbeda. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya sering mengikuti gerak cucunya lebih lama.
Di dalam hatinya, sang kakek mulai mengenali sesuatu. Bukan rasa takut, tapi tanda-tanda yang jarang dimiliki anak seusia itu.
Suatu sore, hujan turun deras disertai angin kencang. Beberapa batang kayu di halaman roboh. Sang kakek dan Beremban Besi cepat-cepat mengamankan peralatan.
Sebuah batang kayu besar tergelincir dan menghantam bahu Beremban Besi. Tubuhnya terdorong, tapi ia tidak sampai jatuh.
“Kau kenapa?” tanya sang kakek cepat.
Beremban Besi menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Sang kakek memeriksa bahunya. Tidak ada luka berarti.
Ia tidak berkata apa-apa. Tapi kejadian itu disimpannya baik-baik dalam ingatan.
Malam itu, mereka duduk lebih lama dari biasanya di dapur. Api kecil menyala, menghangatkan ruangan.
“Kau pernah merasa tubuhmu berbeda?” tanya sang kakek.
Beremban Besi berpikir sejenak.
“Aku jarang sakit.”
“Jarang itu bagaimana?” tanya sang kakek.
“Kalau jatuh, cepat sembuh,” jawab Beremban Besi polos.
Sang kakek mengangguk pelan. Ia tidak terkejut. Ia hanya makin yakin.
“Kalau kau kuat,” kata sang kakek pelan, “kau harus lebih hati-hati.”
“Kenapa?” tanya Beremban Besi.
“Karena orang kuat sering lupa mengukur diri,” jawab sang kakek.
Sejak saat itu, sang kakek mulai melatih disiplin dengan cara berbeda. Bukan lewat kata-kata panjang, tapi lewat kebiasaan kecil.
“Kau berhenti bekerja sebelum capek,” katanya suatu hari.
“Kenapa?” tanya Beremban Besi.
“Supaya kau tahu batas,” jawab sang kakek.
Beremban Besi menuruti, meski terasa bertentangan dengan kebiasaan lamanya. Ia mulai belajar bahwa berhenti bukan berarti kalah.
Suatu hari, sang kakek mengajaknya berjalan jauh ke hutan kecil dekat ladang. Mereka tidak membawa alat apa pun.
“Kita jalan saja,” kata sang kakek.
Mereka berjalan lama melewati semak dan tanah lembap. Tubuh Beremban Besi bergerak lincah, seperti sudah mengenal tempat itu sejak lama.
Sang kakek memperhatikan napas cucunya. Tidak terengah, tidak tergesa. Seimbang.
“Duduk,” kata sang kakek ketika mereka sampai di tempat teduh.
Mereka duduk dalam diam.
“Kau dengar apa?” tanya sang kakek.
Beremban Besi memejamkan mata sebentar.
“Angin. Burung. Air.”
“Bagus,” kata sang kakek. “Kalau bisa mendengar, berarti bisa menahan.”
Latihan-latihan kecil itu terus dilakukan. Tidak ada penjelasan panjang. Semua lewat pengalaman.
Sang kakek tahu, sebelum apa pun diajarkan, hati harus lebih dulu tenang.
Suatu malam, setelah hari yang panjang, sang kakek berkata pelan, “Ilmu yang baik itu tidak membuat orang ingin dipuji.”
Beremban Besi menoleh.
“Lalu buat apa?”
“Buat menjaga orang lain,” jawab sang kakek.
Kalimat itu tertanam dalam-dalam. Tanpa Beremban Besi sadari, arah hidupnya mulai berubah. Dari sekadar bertahan, menjadi siap menjaga.
Bukan karena ingin dianggap hebat, tapi karena siap secara batin.
Sang kakek tahu, waktunya belum sekarang. Tapi benih itu sudah tumbuh.
Dan saat waktunya tiba, Beremban Besi tidak akan kaget. Ia hanya akan melangkah maju, seperti air sungai yang mengalir mengikuti jalannya sendiri (bersambung)
