![]() |
| Sang kakek sudah melihat perubahan itu sejak awal. Ia memperhatikan cara Beremban Besi memandang ladang, hutan, dan sungai. Bukan lagi sekadar tempat berteduh, tapi tempat yang ingin ia pahami. |
Tulisan: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
BAB III
Tubuh yang Tidak Mengenal Luka
(Bagian 1)
Masa kanak-kanak Beremban Besi pelan-pelan bergeser ke masa yang lebih rumit. Tubuhnya makin tinggi, bahunya mulai lebar, dan langkahnya terasa lebih mantap. Semua itu terjadi tanpa ia sadari, seperti sungai yang terus mengalir tanpa suara.
Ia tidak lagi sekadar anak kecil yang menurut saja. Di dalam dirinya mulai muncul dorongan untuk tahu alasan di balik setiap hal. Banyak pertanyaan muncul, meski sering hanya ia simpan sendiri.
Sang kakek sudah melihat perubahan itu sejak awal. Ia memperhatikan cara Beremban Besi memandang ladang, hutan, dan sungai. Bukan lagi sekadar tempat berteduh, tapi tempat yang ingin ia pahami.
“Tubuhmu sudah berubah,” kata sang kakek suatu pagi.
Beremban Besi mengangguk.
“Aku sering merasa lebih kuat.”
“Lebih kuat bukan berarti lebih tahu,” jawab sang kakek tenang.
Beremban Besi tidak tersinggung. Ia justru menyimpan kalimat itu baik-baik. Ia mulai belajar menahan keinginan untuk selalu membuktikan diri.
Pekerjaan di ladang pun bertambah berat. Sang kakek mulai memberi tanggung jawab yang dulu tidak pernah ia berikan. Bukan karena sepenuhnya percaya, tapi karena ingin melihat bagaimana cucunya mengatur tenaga dan pikirannya.
Beremban Besi mengerjakan semua dengan sungguh-sungguh. Tubuhnya jarang mengeluh. Kalau lelah, ia lebih memilih diam daripada mengeluh.
Kalau aku kuat, aku harus tahan, pikirnya.
Tidak boleh setengah-setengah.
Suatu hari, sang kakek menyuruhnya memanjat pohon besar di tepi ladang. Pohon itu tinggi, batangnya licin, dan cabangnya jarang.
“Ambilkan buah di atas,” kata sang kakek.
Beremban Besi menatap pohon itu. Ia sudah sering memanjat pohon, tapi yang satu ini terasa lain. Ada tantangan yang tidak biasa.
“Kau boleh menolak,” tambah sang kakek.
Beremban Besi menggeleng.
“Aku bisa.”
Ia mulai memanjat dengan hati-hati. Tangannya mencengkeram kulit kayu, kakinya mencari pijakan. Napasnya teratur, matanya fokus.
Semakin tinggi, angin makin kencang. Daun-daun bergesek, suaranya membuat jantung berdebar. Dari bawah, sang kakek memperhatikan tanpa berkata apa-apa.
Saat Beremban Besi hendak menginjak cabang terakhir, kayu itu tiba-tiba retak. Bunyi patahan terdengar jelas.
Ia sempat berpikir untuk melompat ke cabang lain. Tapi tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh.
Waktu seperti melambat. Dalam sekejap, pikirannya kosong. Tidak ada teriakan, tidak ada kepanikan. Hanya rasa melayang.
Tubuhnya menghantam tanah dengan keras. Debu berhamburan. Bunyi benturan terdengar berat.
“Beremban!” teriak sang kakek sambil berlari.
Namun langkah sang kakek terhenti. Beremban Besi bangkit perlahan, menepuk-nepuk bajunya, lalu berdiri.
“Aku jatuh,” kata Beremban Besi datar.
“Ya, aku lihat,” jawab sang kakek pelan.
“Kau sakit?”
Beremban Besi menggeleng.
“Tidak.”
Sang kakek mendekat. Ia memeriksa tangan, kaki, kepala, dan punggung cucunya. Tidak ada luka. Tidak ada memar.
Ia diam. Namun di dalam dadanya, ada getaran yang sulit dijelaskan.
Beremban Besi sendiri terlihat bingung. Ia menunggu rasa sakit datang. Ia tahu bagaimana rasanya jatuh dari pohon.
Tapi rasa itu tidak muncul.
“Kenapa aku tidak sakit?” tanyanya pelan.
Sang kakek menatapnya lama.
“Kadang tubuh menyimpan rahasia sebelum pikiran siap tahu.”
Jawaban itu membuat Beremban Besi terdiam. Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada dirinya. Bukan cuma soal kuat.
Malam itu, Beremban Besi sulit tidur. Kejadian jatuh itu terus berputar di kepalanya. Ia mencoba mengingat benturan dan posisi tubuhnya.
Namun rasa sakit itu tetap tidak ada.
Ia duduk di luar rumah, menatap bulan. Sungai berkilau tenang, seolah tidak peduli pada kegelisahannya.
“Kek,” katanya pelan.
Sang kakek mendekat.
“Kenapa?”
“Aku ini siapa sebenarnya?”
Pertanyaan itu berat. Sang kakek tahu, inilah awal dari masa baru. Masa ketika semuanya tidak bisa lagi disimpan terlalu lama.
“Kau Beremban Besi,” jawab sang kakek.
“Dan itu cukup untuk malam ini.”
Jawaban itu belum memuaskan. Tapi cukup menenangkan.
Beremban Besi mengangguk dan kembali berbaring. Namun sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah.
Ia tidak lagi hanya belajar hidup dengan orang lain. Ia mulai belajar hidup dengan dirinya sendiri—dan dengan rahasia tubuhnya (bersambung)
