-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Puyang Beremban Besi (03)

Selasa, 13 Januari 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-13T02:00:00Z
Siang hari ia mencoba menjalani hari seperti biasa. Ia mencari ikan kecil, membantu orang kampung jika diminta, lalu kembali menyendiri. Namun ada satu hal yang berbeda.
Ia lebih sering menoleh ke arah sungai. Seolah menunggu sesuatu yang belum ia yakini akan datang.

BAB I

Anak Gondrong dari Muara Tambang
(Bagian 3)

Malam itu, Beremban Besi tidak langsung tertidur. Tubuhnya berbaring di kolong rumah panggung seperti biasa, tetapi pikirannya berjalan ke tempat yang belum pernah ia datangi. Kata-kata lelaki tua itu muncul satu per satu, lalu menghilang, lalu muncul lagi.

Ia menatap langit-langit papan yang gelap. Cahaya bulan masuk lewat celah-celah kecil dan jatuh di tanah seperti garis tipis. Biasanya pemandangan itu membuatnya tenang, tetapi malam ini rasanya berbeda.

Ada perasaan asing yang tumbuh perlahan di dadanya. Perasaan itu bukan takut, tetapi bingung. Ia belum pernah memikirkan hidupnya sebagai bagian dari kisah orang lain.

Selama ini, ia hanya tahu satu hal: bertahan. Ia hidup dari hari ke hari tanpa banyak berharap. Kini, muncul kemungkinan bahwa ada orang yang benar-benar mencarinya.

Benarkah ada orang yang menungguku?
Atau ini hanya sebentar saja?

Pagi datang bersama suara dayung perahu dan panggilan orang-orang kampung. Beremban Besi bangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya terasa ringan, tetapi dadanya seperti diikat oleh sesuatu yang tak terlihat.

Ia duduk di tepi sungai dan mencelupkan kakinya ke dalam air. Dingin air menyentuh kulitnya dan mengembalikannya pada kebiasaan lama. Kebiasaan selalu membuatnya merasa aman.

Beberapa anak lewat di belakangnya sambil berbisik.

“Itu anak gondrong,” kata salah satu dari mereka.
“Katanya sekarang punya kakek,” sahut yang lain.

Beremban Besi berpura-pura tidak mendengar. Ia sudah terbiasa dengan suara-suara seperti itu. Namun kali ini, kata kakek membuat dadanya berdebar pelan.

Ia tidak tahu apa arti memiliki kakek dalam kehidupan sehari-hari. Ia hanya tahu, sejak kata itu muncul, hidupnya terasa sedikit berubah.

Siang hari ia mencoba menjalani hari seperti biasa. Ia mencari ikan kecil, membantu orang kampung jika diminta, lalu kembali menyendiri. Namun ada satu hal yang berbeda.

Ia lebih sering menoleh ke arah sungai. Seolah menunggu sesuatu yang belum ia yakini akan datang.

Kalau dia datang, aku harus bagaimana?
Kalau dia tidak datang, apakah aku kecewa?

Menjelang sore, suara langkah terdengar di tepian sungai. Beremban Besi mengenalinya bahkan sebelum melihat siapa yang datang. Langkah itu terasa sama seperti kemarin.

Lelaki tua itu muncul dari balik pepohonan. Wajahnya tenang, langkahnya tidak tergesa. Ia datang seperti janji yang ditepati.

“Kau menunggu?” tanya sang kakek.

Beremban Besi menggeleng cepat. Gerakannya refleks. Namun matanya tidak bisa menyembunyikan kenyataan.

“Aku bilang akan datang,” kata sang kakek sambil tersenyum tipis.

Beremban Besi mengangguk pelan. Ia tidak terbiasa dengan orang dewasa yang menepati kata-kata mereka. Hal itu terasa baru dan aneh baginya.

Mereka berjalan berdampingan di tepi sungai. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak berjauhan. Jarak itu membuat Beremban Besi merasa aman.

“Kau tak perlu ikut aku kalau belum siap,” kata sang kakek tiba-tiba.

Beremban Besi berhenti melangkah dan menoleh. Ia tidak menyangka akan diberi pilihan. Selama ini, hidupnya jarang menawarkan hal seperti itu.

“Aku tidak tahu harus ke mana,” katanya jujur.

“Itu tidak apa-apa,” jawab sang kakek. “Yang penting, kau tahu bahwa kau tidak sendirian.”

Kata-kata itu jatuh pelan. Beremban Besi tidak langsung menjawab. Ia menyimpannya dalam-dalam.

Mereka berhenti di bawah pohon besar. Daun-daunnya bergerak tertiup angin dan menimbulkan suara lembut. Suara itu menenangkan.

“Kau kuat,” kata sang kakek.

Beremban Besi terkejut. Ia menggeleng. “Aku biasa saja.”

“Tidak,” sang kakek tersenyum. “Anak yang bisa hidup sendiri sejak kecil bukan anak biasa.”

Beremban Besi menunduk. Pujian membuatnya canggung. Ia tidak tahu harus menaruh perasaan itu di mana.

“Kuat bukan berarti tak butuh siapa-siapa,” lanjut sang kakek.

Beremban Besi meremas jemarinya. Kata-kata itu terasa seperti membuka sesuatu yang selama ini ia tutup rapat.

“Aku tidak pandai bicara,” katanya pelan.

“Tak apa,” jawab sang kakek. “Aku pandai mendengar.”

Keheningan menyelimuti mereka lagi. Namun keheningan itu terasa hangat. Tidak menekan, tidak membuat gelisah.

“Aku tinggal di hilir,” kata sang kakek kemudian. “Di sana ada rumah dan ladang. Tidak besar, tapi cukup.”

Beremban Besi membayangkan rumah itu. Bayangan itu belum jelas, tetapi tidak lagi menakutkan.

“Kalau aku ikut,” katanya ragu, “aku harus tinggal selamanya?”

Sang kakek menggeleng. “Tidak ada yang selamanya. Kau boleh pergi kapan saja.”

Jawaban itu membuat napas Beremban Besi terasa lebih lega. Ia baru sadar bahwa sejak tadi bahunya tegang.

Mereka duduk sampai matahari hampir tenggelam. Tidak banyak kata diucapkan. Kehadiran itu sudah cukup.

Sebelum berpisah, sang kakek berdiri dan menepuk bahu Beremban Besi dengan lembut. Sentuhan itu singkat dan tidak memaksa.

“Pikirkan saja,” katanya. “Aku datang lagi besok.”

Beremban Besi mengangguk.

Malam itu, ia kembali sulit tidur. Namun kali ini pikirannya tidak hanya dipenuhi kebingungan. Ada sesuatu yang kecil, tetapi hangat, tumbuh di dadanya.

Bagaimana kalau kali ini berbeda?
Bagaimana kalau aku tidak sendiri lagi?

Ia masih takut berharap. Ia masih takut kecewa. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya mungkin bisa lebih dari sekadar bertahan.

Di dalam dirinya, sebuah perubahan sedang bergerak perlahan. Rapuh, tetapi nyata. Dan di Muara Tambang yang sunyi itu, langkah menuju masa depan mulai terbuka sedikit demi sedikit (bersambung) 

×
Berita Terbaru Update