![]() |
| Ilustrasi |
Langit Madinah sore itu berwarna kelabu. Angin yang biasanya lembut kini terasa berat, seakan ikut menanggung duka yang menggantung di rumah kecil itu. Di dalamnya, seorang perempuan suci berbaring lemah di atas hamparan sederhana—Fatimah binti Rasulullah ﷺ, cahaya yang pernah menjadi pelita di hati ayahnya.
Sejak kepergian Rasulullah ﷺ, dunia bagi Fatimah seakan kehilangan warna. Suara azan yang dulu menggema menenteramkan, kini hanya mengingatkannya pada bayangan ayah yang tak akan kembali. Di setiap sudut rumah, ia masih dapat merasakan kehangatan tangan Rasulullah, suaranya yang lembut, dan doa-doanya yang dulu melingkupinya setiap malam. Kini semuanya senyap. Yang tersisa hanyalah rindu yang mengiris.
Tubuh Fatimah kian hari kian rapuh. Ia jarang makan, jarang tersenyum. Wajahnya pucat, tetapi matanya masih menyala dengan cahaya iman yang dalam. Suatu hari, dengan suara pelan yang hampir tak terdengar, ia memanggil suaminya, Ali bin Abi Thalib:
“Wahai Abul Hasan,” katanya lembut, “aku tahu waktuku sudah dekat. Aku ingin berjumpa dengan ayahku. Jika aku tiada nanti, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, kafanilah aku dengan kain yang telah kusiapkan, dan kuburkan aku di malam hari… tanpa seorang pun tahu di mana tempatku berbaring.”
Ali menunduk lama. Tangannya menggenggam tangan istrinya erat-erat. Air matanya jatuh satu per satu ke atas telapak tangan yang pernah ia genggam dengan bangga saat menikah. “Wahai Fatimah,” suaranya parau, “mengapa engkau terburu-buru meninggalkanku?”
“Wahai buah hatiku… jadilah orang-orang yang sabar dan bertakwa. Jangan pernah lupa salat, dan jangan pernah lupakan ayahmu.”
Anak-anak itu menangis di pelukannya, sementara Zainab kecil menyentuh wajah ibunya, seakan ingin menahannya agar tetap di dunia. Tapi waktu tak bisa ditawar. Fatimah tahu, detik-detiknya telah sampai di ujung.
Ali berdiri terpaku. Dada yang kuat di medan perang kini hancur luluh di hadapan tubuh kecil yang tak lagi bernafas. Ia mendekat, memeluknya, dan bisikan lirih keluar dari bibirnya yang gemetar:
“Wahai Fatimah, engkau telah meninggalkanku. Tapi bagaimana aku harus hidup tanpa senyummu?”
Malam itu, di bawah langit Madinah yang redup, Ali menunaikan wasiat terakhir sang putri Nabi. Dengan tangannya sendiri, ia memandikan jasad Fatimah, menyalatkan jenazahnya dengan air mata yang tak berhenti, dan menguburkannya diam-diam dalam gelap. Tak seorang pun tahu di mana tepatnya ia beristirahat.
💧 “Ia pergi tanpa nisan, tanpa nama, namun dunia mengenalnya dari cahaya yang tak pernah padam. Fatimah az-Zahra — bunga yang gugur di dunia, tapi mekar abadi di sisi ayahnya di surga.”
