![]() |
| Ilustrasi |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pemimpin Redaksi Banyuasin Pos
Ada orang kampung yang suka bepergian. Hampir setiap minggu terlihat di terminal, di pelabuhan, atau di bandara. Kalau ditanya ke mana, jawabnya sederhana: mencari kawan, membuka jalan, menjalin hubungan. Lama-lama orang sekampung tidak lagi bertanya tujuan perjalanannya. Mereka justru mulai bertanya, "Kapan dia ada di rumah?"
Pertanyaan itu terasa relevan ketika kita melihat Presiden Prabowo Subianto yang hingga kini telah melakukan lebih dari 45 kunjungan luar negeri. Angka itu bukan kecil. Bahkan untuk ukuran kepala negara yang aktif sekalipun, angka itu cukup membuat rakyat biasa mengernyitkan dahi. Bukan karena bepergian itu salah. Dalam dunia modern, diplomasi memang menuntut kehadiran fisik, pertemuan langsung, dan jabat tangan yang tidak bisa digantikan oleh pesan singkat. Tetapi setiap perjalanan selalu menyisakan pertanyaan sederhana dari rakyat yang tidak pernah naik pesawat kelas kenegaraan: sesering apa seorang pemimpin perlu berada jauh dari rumahnya sendiri?
Prancis tampaknya menjadi salah satu halaman yang paling sering dibuka dalam paspor kenegaraan Presiden. Empat kali beliau berkunjung ke sana. Ada yang untuk kunjungan kenegaraan, ada yang memenuhi undangan Presiden Emmanuel Macron, ada pula yang berkaitan dengan perayaan Hari Nasional Prancis. Tidak ada yang keliru dalam hubungan baik antarnegara. Yang menarik justru perasaan rakyat ketika mendengar berita itu berulang kali. Sebab bagi sebagian warga, Prancis adalah nama yang terdengar lebih akrab di layar televisi dibanding jalan rusak di ujung desa mereka yang bertahun-tahun belum diperbaiki.
Ironi sering lahir bukan karena sesuatu itu buruk, melainkan karena jaraknya terlalu jauh dari kenyataan sehari-hari. Di saat presiden bertemu para pemimpin dunia, masih ada petani yang sibuk menghitung harga pupuk. Di saat foto-foto diplomasi beredar dengan latar istana yang megah, ada pedagang kecil yang sedang berdebat dengan harga minyak goreng. Di saat bahasa diplomasi berbicara tentang kerja sama strategis jangka panjang, rakyat kecil masih berkutat dengan strategi bertahan hidup sampai akhir bulan. Dua dunia itu sama-sama nyata, tetapi tidak selalu saling menyapa.
Barangkali inilah tantangan terbesar seorang pemimpin. Bukan sekadar hadir di forum internasional, melainkan memastikan bahwa setiap langkah keluar negeri membawa pulang sesuatu yang bisa dirasakan rakyat. Sebab rakyat tidak bisa makan dari foto pertemuan bilateral. Mereka tidak bisa membayar uang sekolah dengan berita kunjungan kenegaraan. Mereka tidak bisa menambal atap rumah dengan pidato-pidato diplomatik. Yang mereka tunggu adalah hasil yang turun ke tanah, bukan hanya yang melayang di udara bersama pesawat kepresidenan.
Mungkin suatu hari nanti sejarah akan mencatat bahwa semua perjalanan itu menghasilkan manfaat besar bagi Indonesia. Kita tentu berharap demikian. Namun sampai hari itu tiba, rakyat akan tetap menjadi rakyat. Mereka akan terus menghitung harga beras, mencari pekerjaan, memperbaiki sepeda motor tua, dan membayar listrik bulanan. Dari teras rumah yang sederhana, mereka memandang langit setiap kali pesawat kenegaraan melintas, lalu diam-diam bertanya dengan nada yang tidak sepenuhnya bercanda: "Presiden sedang ke mana lagi hari ini, dan kapan pulangnya membawa kabar baik untuk kami?" (***)
