![]() |
| Ilustrasi Obrolan Kaum Marjinal |
Di bawah pohon beringin tua di simpang desa, Mang Midun sedang menata gelas kopi di warungnya. Jek Pakis baru saja memarkir ojek tuanya, sementara Mak Irah datang membawa kantong belanja dari pasar. Angin berembus pelan ketika obrolan mereka sampai pada pernyataan yang sempat ramai diperbincangkan: orang desa tidak butuh dolar. “Kalau aku sih memang belum pernah pegang dolar,” kata Jek Pakis sambil terkekeh. “Yang sering kupegang paling banter uang seribu yang sudah kusut.”
Mang Midun mengangguk. “Kalau dipikir-pikir, memang benar juga. Mau beli singkong di pasar, bayar pakai rupiah. Bayar listrik pakai rupiah. Beli bensin eceran juga pakai rupiah.” Mak Irah ikut menyahut, “Aku ke warung beli garam, cabe, minyak goreng, tak pernah ditanya punya dolar atau tidak.” Mereka bertiga tertawa. Dari sudut pandang sehari-hari, dolar memang terasa sejauh bulan dari bumi.
Tetapi Jek Pakis yang terkenal suka mendengar berita dari radio bututnya tiba-tiba menggaruk kepala. “Eh, tunggu dulu. Kalau harga pupuk naik, harga solar naik, harga onderdil motor naik, itu kadang-kadang ada hubungannya dengan dolar juga, kan?” Mang Midun yang sedang menuang kopi berhenti sejenak. Ia sadar ada benarnya juga. Walaupun warga desa tidak menyimpan dolar di dompet, banyak barang yang mereka gunakan ternyata ikut menari mengikuti irama mata uang asing itu.
Mak Irah lalu memberi contoh sederhana. “Kemarin minyak goreng naik, beras kadang ikut naik, pupuk juga mahal. Aku memang tak pernah beli dolar, tapi kalau harga-harga naik gara-gara nilai tukar berubah, ujung-ujungnya dapurku juga yang merasakan.” Jek Pakis langsung tertawa. “Jadi sebenarnya dolar itu seperti tetangga yang tidak pernah datang ke rumah, tapi suara musiknya tetap terdengar sampai ke dapur.”
Mang Midun kemudian menyimpulkan dengan gaya khas penjaga warung yang sering mendengar berbagai cerita pelanggan. “Mungkin maksudnya orang desa tidak bergantung langsung pada dolar untuk bertransaksi. Itu benar. Tapi bukan berarti kehidupan desa sama sekali tidak tersentuh dolar.” Ia menunjuk motor tua Jek Pakis. “Ban motor, oli, suku cadang, bahkan harga hasil panen kadang ikut dipengaruhi keadaan ekonomi dunia. Jadi dolar tidak tinggal di desa, tetapi bayangannya sering lewat.”
Obrolan sore itu berakhir ketika azan mulai terdengar dari surau. Ketiganya sepakat bahwa kebenaran sering tidak sesederhana kalimat pendek yang terdengar di televisi. Orang desa memang hidup dengan rupiah, berbelanja dengan rupiah, dan menerima upah dengan rupiah. Namun ketika harga-harga bergerak, ketika pupuk dan kebutuhan pokok berubah, desa ternyata tetap terhubung dengan dunia yang lebih luas. Dolar mungkin tidak ada di saku Mang Midun, Jek Pakis, atau Mak Irah, tetapi jejak langkahnya kadang-kadang masih terlihat di buku utang warung dan daftar belanja dapur (***)
