-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Tukang Cukur

Sabtu, 30 Mei 2026 | 13.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-30T06:00:00Z
Ilustrasi

Sudah hampir dua bulan rambut Depati Leman tidak dipotong. Awalnya karena sibuk menghadiri musyawarah kampung, lalu karena ada urusan kebun, setelah itu karena merasa rambutnya belum terlalu panjang. Namun lama-kelamaan rambut di bawah songkok batiknya mulai keluar ke sana-sini seperti akar nipah mencari air. Bahkan beberapa helai sudah menyentuh telinga dan membuat Depati Leman sering menggaruk-garuk kepala ketika duduk di balai marga.


Pagi itu, ketika Depati Leman sedang bercermin menggunakan cermin tua di rumahnya, ia mendadak merasa ada yang tidak beres. Dari samping, rambutnya terlihat menggembung seperti sarang burung pipit. Dari belakang, menurut istrinya, bentuknya sudah mirip semak-semak di bawah pohon nibung. Semakin lama diperhatikan, semakin tidak nyaman pula perasaannya.


“Sudah waktunya dicukur,” kata istrinya tegas.


Depati Leman menghela napas panjang. Ia sebenarnya tidak terlalu suka pergi ke tempat cukur karena harus duduk lama sambil mendengarkan cerita orang. Namun kali ini ia tidak bisa membantah lagi karena rambutnya memang sudah terlalu panjang. Setelah sarapan, ia pun bersiap menuju pasar tepian tempat tukang cukur biasa membuka lapak.


Menjelang siang, kabar bahwa Depati Leman hendak mencukur rambut ternyata menyebar lebih cepat daripada kabar ikan besar masuk bubu. Entah siapa yang memulai, tetapi ketika Depati Leman tiba di balai marga, Penggawo Budin sudah menunggunya dengan wajah penuh semangat. Penggawo Budin tampak lebih antusias daripada orang yang akan dicukur. Bahkan ia terlihat seperti hendak menghadiri pesta besar.


“Betul Depati Leman mau cukur rambut?”


“Betul.”


“Bagus!”


“Bagus apanya?”


“Biar rakyat tahu bahwa rambut juga patuh kepada adat."


Depati Leman menatap Penggawo Budin cukup lama. Ia mencoba mencari hubungan antara rambut dan adat, tetapi tidak menemukannya sama sekali. Akhirnya ia memilih diam karena merasa percuma berdebat dengan Penggawo Budin. Kadang-kadang semakin dijawab,  semakin panjang pula penjelasannya.


Di kampung itu ada seorang tukang cukur bernama Wak Mijan. Orangnya kurus, ramah, dan sudah mencukur rambut warga sejak puluhan tahun lalu. Namun ada satu kebiasaan Wak Mijan yang terkenal ke mana-mana. Kalau sedang mencukur rambut orang, mulutnya tidak pernah berhenti bercerita.


Wak Mijan bisa memulai cerita tentang harga ikan di pasar. Beberapa menit kemudian ceritanya sudah berpindah ke soal buaya yang muncul di rawa. Setelah itu ia bisa masuk ke kisah hantu di kebun karet, lalu berakhir pada cerita ayam tetangga yang suka mencuri nasi. Semua itu terjadi tanpa jeda dan tanpa hubungan yang jelas.


Karena itulah banyak warga datang bukan cuma untuk bercukur, tetapi juga untuk mendengar cerita. Sore itu kursi cukur Wak Mijan diletakkan di bawah pohon mangga dekat pasar tepian. Angin sungai bertiup pelan dan suasana terasa cukup nyaman. Beberapa warga mulai berkumpul begitu melihat Depati Leman datang.


Hulubalang Karim ikut berdiri di dekat pohon sambil menahan senyum. Ketib Nurdin yang baru pulang dari surau juga kebetulan lewat dan akhirnya ikut duduk di pelantaran batang nibung sambil memperhatikan keramaian. Penggawo Budin bahkan sudah mengambil posisi paling depan seperti hendak menonton pertunjukan sandiwara. Semua orang tampak menunggu sesuatu yang sebenarnya belum tentu lucu.


“Nah, silakan duduk Depati Leman,” kata Wak Mijan.


Depati Leman duduk dengan gagah. Kain putih segera dipasang menutupi tubuhnya sampai hanya kepala yang terlihat. Wak Mijan mulai bekerja dengan gunting tua kesayangannya. Baru beberapa kali gunting berbunyi, mulutnya langsung berjalan seperti biasa.


“Depati Leman tahu tidak?”


“Tahu apa?"


“Semalam ada orang lihat biawak sebesar perahu.”


Hulubalang Karim langsung tertawa kecil.


“Kalau sebesar perahu, itu bukan biawak lagi.”


Namun Wak Mijan tidak peduli. Tangannya terus bergerak sementara ceritanya terus mengalir. Ia bercerita tentang orang yang tersesat di rawa, tentang ikan gabus raksasa, sampai tentang seorang pedagang yang konon pernah tertidur di atas perahu selama dua hari. Semakin lama, semakin asyik pula ia bercerita.


Masalah mulai muncul ketika beberapa anak kecil datang membawa layang-layang putus. Mereka berlari-lari di sekitar tempat cukur sambil berteriak kegirangan. Wak Mijan yang sedang asyik bercerita ikut menoleh beberapa kali ke arah keributan itu. Sementara itu, gunting di tangannya tetap bergerak tanpa henti.


CETAK!


CETAK!


CETAK!


Depati Leman tidak terlalu memperhatikan karena sedang menikmati angin sore. Ia malah sibuk memandang sungai yang airnya mulai berkilau terkena cahaya matahari senja. Sesekali ia mengangguk mendengar cerita Wak Mijan walaupun sebenarnya tidak terlalu menyimak. Semua tampak baik-baik saja sampai Penggawo Budin mendadak mengernyit.


“Wak Mijan…”


“Ya?”


“Itu rambut sebelah kiri kok pendek benar?”


Wak Mijan berhenti. Semua orang ikut memperhatikan. Suasana langsung sunyi. Bahkan suara anak-anak yang bermain layang-layang seakan ikut berhenti sesaat.


Ternyata bagian kiri kepala Depati Leman sudah hampir habis dicukur. Sebaliknya, bagian kanan masih tebal seperti semak belukar di pinggir rawa. Perbedaannya begitu jelas sampai Hulubalang Karim harus memalingkan muka ke arah sungai agar tidak tertawa. Ketib Nurdin pun mulai menundukkan kepala sambil menggigit bibir menahan senyum.


“Eh...” kata Wak Mijan pelan.


Depati Leman mulai curiga.


“Ada apa?”


“Tidak ada.”


“Ada apa?"


“Sedikit saja.”


Depati Leman langsung mengambil cermin. Begitu melihat pantulan kepalanya, matanya langsung membesar. Wajahnya berubah antara marah, kaget, dan tidak percaya. Suaranya menggema sampai membuat beberapa burung di pohon mangga beterbangan.


“WAK MIJAN!”


Warga langsung pecah tertawa. Bahkan Ketib Nurdin yang biasanya paling tenang ikut memalingkan muka karena tidak sanggup menahan senyum. Hulubalang Karim sampai berjalan beberapa langkah menjauh sambil memegang perutnya. Penggawo Budin malah hampir jatuh dari bangku karena tertawa terlalu keras.


Wak Mijan buru-buru meminta maaf. Katanya ia terlalu fokus mendengarkan cerita dirinya sendiri sampai lupa memperhatikan hasil cukuran. Namun masalahnya, rambut sebelah kiri sudah terlanjur terlalu pendek untuk diperbaiki. Tidak ada pilihan lain selain menyamakan seluruh bagian kepala.


“Lalu bagaimana?” tanya Depati Leman.


Wak Mijan berpikir lama.


Kemudian matanya berbinar.


“Ada jalan keluar.”


“Apa?”


“Kita samakan saja semuanya.”


Depati Leman langsung merasa tidak tenang.


Sepuluh menit kemudian warga kembali berkumpul di depan kursi cukur. Kali ini suasana jauh lebih ramai daripada sebelumnya. Bahkan Wak Senah ikut datang setelah mendengar ada keributan. Orang-orang berdiri berdesakan menunggu hasil akhir pekerjaan Wak Mijan.


Ketika kain penutup dilepas, semua orang terdiam sebentar. Lalu tawa meledak ke mana-mana. Rambut Depati Leman kini sangat pendek dan tipis. Kumisnya yang tebal membuat kepalanya terlihat semakin bulat.


“Ya Allah...” kata Wak Senah sambil memegangi perut.


“Macam telur asin pakai kumis.”


Penggawo Budin sampai terduduk karena terlalu keras tertawa. Hulubalang Karim berjalan menjauh ke tepian sungai karena sudah tidak sanggup menahan diri. Bahkan beberapa anak kecil ikut tertawa walaupun mereka sendiri tidak terlalu mengerti apa yang lucu.


Depati Leman berusaha tetap berwibawa. Ia berdiri tegak sambil membetulkan songkok batiknya. Namun begitu angin sore bertiup, songkok itu mendadak turun sampai hampir menutupi kedua telinganya karena rambut yang biasanya menjadi bantalan sudah hilang. Warga kembali tertawa lebih keras daripada sebelumnya.


Sejak hari itu, selama hampir sebulan penuh, Depati Leman selalu memakai songkok batiknya ke mana-mana. Mau ke pasar memakai songkok. Mau ke kebun memakai songkok. Bahkan ketika duduk sendirian di pelantaran batang nibung sambil minum kopi, songkok itu tetap menempel di kepalanya.


Menurut Hulubalang Karim, itu bukan karena menjaga wibawa. Menurut Penggawo Budin, itu mungkin bagian dari strategi kepemimpinan. Namun Ketib Nurdin punya pendapat yang lebih sederhana. Ia yakin Depati Leman hanya sedang menunggu rambutnya tumbuh kembali sambil berharap warga kampung cepat melupakan peristiwa yang tidak akan pernah mereka lupakan itu (***) 

×
Berita Terbaru Update