![]() |
| Ilustrasi |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pada suatu masa ketika pemerintahan marga masih berjalan dan urusan kampung sering berhubungan dengan pegawai pemerintah dari kota, beredar kabar bahwa orang yang bisa berbahasa Belanda akan lebih dihormati. Kabar itu datang dari seorang juru tulis yang baru pulang dari Palembang dan bercerita bahwa banyak pejabat suka menyelipkan kata-kata Belanda dalam percakapan. Entah benar atau tidak, cerita itu segera menyebar dari pelantaran batang nibung ke warung kopi, dari warung kopi ke balai marga, lalu berakhir di telinga Depati Leman. Sejak mendengar cerita itu, Depati Leman mulai merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya.
Padahal selama ini Depati Leman sudah cukup disegani. Kalau berjalan ke pasar, orang memberi salam. Kalau datang ke musyawarah, orang mempersilakan duduk di tempat terhormat. Bahkan kalau sedang batuk di balai marga, semua orang langsung diam menunggu apakah batuk itu pertanda hendak memberi petuah atau hanya karena salah minum kopi. Namun entah kenapa, setelah mendengar kabar tentang bahasa Belanda itu, Depati Leman merasa wibawanya masih bisa ditambah sedikit lagi.
“Aku harus belajar bahasa Belanda,” kata Depati Leman suatu pagi.
Penggawo Budin yang sedang minum kopi hampir menyemburkan minumannya.
“Untuk apa, Depati Leman?”
“Supaya lebih maju.”
“Kalau begitu aku ikut maju juga.”
Ketib Nurdin yang sedang duduk di dekat jendela langsung memejamkan mata pelan. Ia belum tahu persoalannya, tetapi sudah bisa menebak bahwa beberapa hari ke depan kampung itu tidak akan tenang. Hulubalang Karim sendiri hanya menggaruk kepala sambil memandang ke arah sungai. Baginya, belajar bahasa baru terdengar lebih sulit daripada mengejar kambing yang lepas.
Masalahnya, di kampung itu tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa berbahasa Belanda. Orang yang paling dekat dengan kemampuan itu hanyalah seorang pensiunan juru tulis bernama Wak Harun. Dulu ia pernah bekerja membantu administrasi kantor pemerintahan dan masih menyimpan beberapa buku tua peninggalan zaman dahulu. Namun kemampuan bahasa Belandanya sendiri sudah banyak yang hilang karena puluhan tahun tidak dipakai.
Ketika Wak Harun dipanggil ke balai marga, ia datang sambil membawa buku tebal yang sampulnya sudah hampir lepas. Buku itu berbau lembap seperti peti tua yang terlalu lama disimpan. Melihat buku setebal itu, Penggawo Budin langsung kagum. Ia mengira semua orang pintar pasti membawa buku yang berat.
“Ini buku bahasa Belanda,” kata Wak Harun.
“Bagus,” kata Depati Leman.
“Masalahnya saya juga sudah banyak lupa.”
Depati Leman terdiam sebentar.
“Tak apa. Kita lupa bersama-sama.”
Sejak hari itu, balai marga berubah seperti sekolah dadakan. Setiap sore Depati Leman, Penggawo Budin, dan kadang-kadang Hulubalang Karim berkumpul mendengarkan Wak Harun membaca kata-kata dari buku tua itu. Ketib Nurdin biasanya hanya duduk di pojok sambil membaca kitab, tetapi diam-diam ia ikut mendengar karena merasa pertunjukan itu lebih menarik daripada sandiwara pasar malam.
Pelajaran pertama dimulai dengan kata-kata sederhana. Wak Harun mengajarkan cara mengucapkan salam dan beberapa nama benda. Namun baru lima belas menit berjalan, suasana sudah mulai kacau. Penggawo Budin berkali-kali salah mengucapkan kata sampai bunyinya berubah menjadi nama ikan.
“Bagaimana tadi?”
“Goede morgen,” jawab Wak Harun.
“Gurami goreng?”
“Bukan!”
Hulubalang Karim langsung tertawa sampai hampir jatuh dari bangku.
Depati Leman sendiri sebenarnya tidak jauh lebih baik. Ia sangat bersemangat menghafal kata-kata baru, tetapi sering lupa artinya beberapa menit kemudian. Kadang ia berhasil mengucapkan dengan benar, tetapi dipakai pada tempat yang salah. Kadang artinya benar, tetapi cara mengucapkannya membuat Wak Harun harus mengulang sampai tiga kali.
Makin lama, Depati Leman justru makin percaya diri. Ia mulai menyelipkan kata-kata Belanda ke dalam percakapan sehari-hari walaupun belum tentu tepat. Saat melihat warga lewat, ia memberi salam dengan campuran bahasa Melayu dan bahasa yang bahkan Wak Harun sendiri tidak mengenalinya. Warga yang mendengar hanya mengangguk sopan walaupun sebenarnya bingung.
Suatu hari datang seorang pedagang dari kota yang sedang singgah di pasar tepian. Kebetulan pedagang itu pernah sekolah cukup lama dan mengerti sedikit bahasa Belanda. Mendengar kabar itu, Depati Leman langsung bersemangat. Ia merasa inilah saat yang tepat untuk menunjukkan hasil belajarnya selama beberapa minggu terakhir.
Sore itu banyak warga sengaja datang ke balai marga untuk menonton. Mereka duduk di pelantaran batang nibung sambil minum kopi dan menunggu apa yang akan terjadi. Penggawo Budin bahkan sudah mengambil tempat paling depan seperti hendak menyaksikan pertandingan silat.
“Silakan mulai, Depati Leman,” katanya.
Depati Leman berdeham panjang. Ia membetulkan songkok batiknya lalu berdiri dengan dada membusung. Wajahnya tampak sangat yakin. Bahkan Hulubalang Karim mulai khawatir karena biasanya semakin yakin Depati Leman, semakin besar kemungkinan sesuatu akan terjadi.
“Goedemorgen,” kata Depati Leman mantap.
Pedagang itu tersenyum.
“Goedemorgen.”
Depati Leman senang bukan main. Ia merasa langkah pertama sudah berhasil. Maka ia melanjutkan dengan semua kata yang masih diingatnya secara berurutan tanpa peduli apakah saling berhubungan atau tidak.
“Goedemorgen... kaas... tafel... school... aardappel... dank u wel.”
Pedagang itu berkedip beberapa kali.
Suasana langsung sunyi.
Ketib Nurdin menunduk pelan karena sudah mulai menahan senyum. Hulubalang Karim menggigit bibirnya sendiri supaya tidak tertawa. Sedangkan Penggawo Budin terlihat kagum walaupun tidak mengerti apa pun.
Pedagang itu akhirnya bertanya pelan.
“Depati Leman tadi mau mengatakan apa?”
Depati Leman terdiam.
Ia sebenarnya juga tidak tahu lagi.
Rupanya yang baru saja diucapkannya hanyalah campuran kata-kata acak yang berarti "selamat pagi, keju, meja, sekolah, kentang, terima kasih". Tidak ada kalimat. Tidak ada maksud. Hanya sekumpulan benda yang kebetulan masih diingatnya.
Balai marga langsung pecah oleh tawa warga. Bahkan Wak Harun yang selama ini berusaha menjaga wibawa depati ikut tertawa sampai batuk-batuk. Hulubalang Karim buru-buru berjalan ke luar balai karena tidak sanggup menahan tawanya lebih lama. Penggawo Budin masih mencoba memahami hubungan antara keju dan kentang dalam percakapan resmi.
Depati Leman akhirnya duduk kembali sambil membetulkan songkok batiknya. Wajahnya sedikit merah, tetapi ia masih berusaha terlihat tenang. Setelah suasana reda, Ketib Nurdin menatapnya sambil tersenyum tipis.
“Bahasa memang baik dipelajari, Depati Leman.”
“Betul.”
“Tapi lebih penting lagi memahami apa yang diucapkan.”
Warga kembali tertawa.
Sejak hari itu, Depati Leman tetap belajar bahasa Belanda, tetapi tidak lagi untuk terlihat hebat. Ia mulai belajar pelan-pelan dan sungguh-sungguh. Namun sampai bertahun-tahun kemudian, setiap kali ada yang menyebut kata kentang atau keju di balai marga, Hulubalang Karim dan Penggawo Budin pasti saling pandang lalu tertawa sendiri. Sedangkan warga kampung tidak pernah lupa pada hari ketika Depati Leman berhasil memperkenalkan dirinya menggunakan bahasa “keju-meja-kentang.” (***)
