![]() |
| Ilustrasi Banyuasin Pos |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pada zaman dahulu, ketika hutan-hutan rawa masih membentang luas di wilayah Banyuasin, hiduplah berbagai macam binatang di antara sungai, lebak, dan semak belukar yang lebat. Air sungai mengalir tenang membelah hutan, sementara pohon-pohon besar berdiri rapat menaungi tanah yang lembap. Burung-burung berkicau dari pucuk-pucuk kayu, sedangkan ikan dan udang bermain di aliran anak sungai yang jernih. Kehidupan di hutan itu berjalan damai, meskipun tidak semua penghuninya hidup rukun.
Di sebuah hutan rawa di wilayah Banyuasin hiduplah seekor ular berot, yaitu ular air berukuran besar yang kulitnya longgar dan berlipat-lipat sehingga tampak bergelambir ketika merayap di atas lumpur. Tubuhnya panjang dan tebal, sementara warna kulitnya menyerupai lumpur rawa yang kehitaman. Karena hidup di daerah berair, ia sangat pandai berenang dan menyelinap di antara tumbuhan rawa. Banyak binatang merasa takut ketika melihat tubuh besarnya muncul dari balik semak atau tepian sungai.
Ular berot itu terkenal bukan hanya karena ukuran tubuhnya, melainkan juga karena sifatnya yang sombong. Ia selalu membanggakan dirinya sebagai binatang paling kuat di kawasan hutan tersebut. Setiap kali bertemu dengan penghuni hutan lain, ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memamerkan kekuatannya. Akibatnya, banyak binatang yang tidak menyukainya meskipun mereka jarang berani membantah.
Pada suatu hari, ular berot menemukan sebuah jalan setapak yang sering digunakan binatang-binatang hutan untuk menuju kawasan pohon buah. Jalan itu melintasi tepian rawa dan menjadi jalur yang paling dekat menuju tempat mencari makan. Karena merasa dirinya berkuasa, ular berot sengaja berbaring melintang di tengah jalan tersebut. Ia menikmati ketakutan yang terlihat di wajah binatang-binatang yang lewat.
Rusa-rusa terpaksa memutar jalan yang lebih jauh untuk mencapai tempat mencari makan. Pelanduk-pelanduk memilih menunggu sampai malam sebelum berani melintas. Bahkan beberapa ekor musang yang biasanya berani pun memilih mencari jalan lain. Lama-kelamaan, semua penghuni hutan merasa terganggu oleh tingkah ular berot yang semakin menjadi-jadi.
Di hutan yang sama hiduplah seekor kancil yang terkenal cerdik. Tubuhnya memang kecil dan tidak memiliki kekuatan yang besar. Akan tetapi, ia memiliki akal yang tajam dan selalu mampu menemukan jalan keluar dari berbagai persoalan. Karena itulah banyak penghuni hutan sering meminta nasihat kepadanya ketika menghadapi kesulitan.
Suatu pagi, kancil berjalan menyusuri pinggir rawa sambil mencari buah-buahan yang jatuh dari pohonnya. Matahari baru saja muncul dari balik pepohonan dan embun masih menggantung di ujung daun. Udara terasa segar dan suara burung terdengar bersahut-sahutan dari berbagai arah. Kancil melangkah santai tanpa terburu-buru.
Belum jauh berjalan, seekor burung punai terbang rendah dan hinggap di dahan yang berada tepat di atas kepala kancil. Burung itu tampak gelisah dan berkali-kali menoleh ke arah jalan setapak di depan. Dari gerak-geriknya terlihat bahwa ia sedang membawa kabar penting. Kancil pun menghentikan langkahnya dan menatap burung itu.
"Kancil, jangan lewat jalan depan!" kata burung punai.
"Ada apa di sana?" tanya kancil.
"Ular berot sedang berbaring di tengah jalan. Semua binatang yang lewat ketakutan melihatnya."
Kancil tersenyum tipis setelah mendengar penjelasan itu. Ia memang sudah mendengar banyak keluhan tentang tingkah ular berot dari penghuni hutan lainnya. Menurutnya, kesombongan seperti itu tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Di dalam kepalanya mulai muncul sebuah rencana untuk memberi pelajaran kepada ular besar tersebut.
"Aku justru ingin bertemu dengannya," kata kancil.
"Kau tidak takut?" tanya burung punai.
"Kalau hanya mengandalkan tubuh besar, tidak berarti dia lebih pintar daripada semua penghuni hutan."
Burung punai menggelengkan kepala karena tidak memahami maksud perkataan itu. Namun ia tahu bahwa senyum seperti itu biasanya muncul ketika kancil sedang menyusun siasat. Karena penasaran, ia memutuskan untuk mengikuti dari kejauhan. Sementara itu, kancil terus melangkah menuju tempat ular berot menunggu mangsa.
Kancil terus melangkah menuju tempat ular berot menunggu mangsa. Jalan setapak itu berada di antara rawa yang dipenuhi purun dan beberapa pohon besar yang akarnya menjulur ke air. Dari kejauhan ia sudah dapat melihat tubuh ular berot yang melintang di tengah jalan. Hampir seluruh jalan tertutup oleh tubuh besar ular itu.
Ular berot sebenarnya sudah melihat kedatangan kancil. Ia sengaja mengangkat kepalanya tinggi-tinggi agar terlihat lebih menakutkan. Kulitnya yang longgar bergelambir tampak bergerak-gerak setiap kali ia menggeser tubuhnya di atas lumpur. Di dalam hati, ia merasa sangat senang karena mangsa baru telah datang menghampirinya.
"Hentikan langkahmu, Kancil!" seru ular berot.
"Kenapa aku harus berhenti?" tanya kancil.
"Karena aku sedang lapar."
Kancil pura-pura terkejut. Ia melompat mundur beberapa langkah sambil memasang wajah ketakutan. Padahal di dalam pikirannya, ia sedang mencari cara agar ular berot masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Ia tahu bahwa binatang yang sombong biasanya mudah diperdaya oleh pujian.
"Wah, celaka aku kalau begitu," kata kancil.
"Benar. Hari ini kau akan menjadi makan siangku."
"Tapi sebelum itu, izinkan aku menyampaikan kabar penting."
Ular berot menyipitkan matanya. Ia memang sombong, tetapi juga sangat suka mendengar cerita tentang dirinya. Karena penasaran, ia menahan diri untuk tidak langsung menerkam kancil. Baginya, mendengar kabar penting tidak akan memakan waktu lama.
"Kabar apa?" tanya ular berot.
"Tadi pagi para penghuni hutan mengadakan pertemuan."
"Untuk apa?"
"Untuk menentukan siapa binatang terbesar dan terkuat di hutan rawa Banyuasin."
Mendengar perkataan itu, dada ular berot langsung membusung. Ia merasa sudah pasti namanya yang disebut dalam pertemuan tersebut. Bahkan ia mulai membayangkan bagaimana semua binatang memuji-muji dirinya. Kesombongannya membuat ia lupa bahwa kancil terkenal sangat licik.
"Siapa yang mereka pilih?" tanya ular berot.
"Seekor buaya rawa."
"Apa?" bentak ular berot.
"Mereka bilang buaya lebih besar daripada ular berot."
Ular berot marah bukan main. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri sambil mendesis keras. Beberapa burung yang sedang bertengger di pohon sampai terbang ketakutan. Lumpur di sekitarnya ikut bergetar karena kibasan ekornya.
"Itu tidak benar!" teriak ular berot.
"Aku juga bilang begitu."
"Kalau begitu kenapa mereka memilih buaya?"
"Mereka bilang belum pernah ada yang mengukur panjang tubuhmu."
Perkataan itu membuat ular berot berpikir. Ia memang sering membanggakan ukuran tubuhnya, tetapi belum pernah membuktikannya kepada penghuni hutan. Karena itulah ia mulai percaya pada ucapan kancil. Sedikit demi sedikit, kewaspadaannya menghilang.
"Lalu bagaimana caranya membuktikan bahwa aku lebih panjang?" tanya ular berot.
"Mudah sekali."
"Cepat katakan."
"Bentangkan tubuhmu sepanjang mungkin, lalu aku akan mengukurnya."
Ular berot langsung setuju. Ia melata menuju tepian sungai yang cukup lapang. Dengan penuh kebanggaan, ia meregangkan tubuhnya dari satu ujung ke ujung yang lain. Ia berusaha membuat tubuhnya lurus agar terlihat sepanjang mungkin.
"Nah, sekarang ukur!" katanya.
Kancil berjalan dari kepala hingga ke ekor ular berot. Ia pura-pura menghitung sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sesekali ia berseru kagum sehingga ular berot semakin senang. Padahal semua itu hanyalah bagian dari siasatnya.
"Wah, panjang sekali tubuhmu," kata kancil.
"Benar, kan?"
"Tapi ada masalah."
"Masalah apa?"
"Kalau tubuhmu bergerak sedikit saja, hasil pengukurannya bisa salah."
Ular berot mulai khawatir. Ia tidak ingin kalah dari buaya hanya karena kesalahan pengukuran. Oleh sebab itu, ia bersedia melakukan apa saja yang diminta kancil. Tanpa sadar, ia semakin dekat dengan jebakan.
"Lalu apa yang harus dilakukan?" tanyanya.
"Aku harus mengikat tubuhmu pada batang-batang kayu supaya tidak bergeser."
"Kalau begitu lakukanlah."
Kancil segera berlari ke dalam hutan. Di sana ia menemui rusa, kijang, pelanduk, musang, monyet, dan beberapa penghuni hutan lainnya. Semua binatang itu sudah lama menjadi korban kesombongan ular berot. Ketika mendengar rencana kancil, mereka langsung tertawa dan setuju membantu.
Mereka lalu mengumpulkan rotan sebanyak mungkin. Ada yang memotong rotan dari pinggir rawa, ada yang menariknya dari semak belukar, dan ada pula yang membawa batang-batang muda yang lentur. Tidak lama kemudian, mereka kembali ke tempat ular berot menunggu.
"Akhirnya kalian datang," kata ular berot.
"Tenang saja, kami sedang membantu mengukur tubuhmu," kata kancil.
Satu per satu rotan mulai dililitkan ke tubuh ular berot. Pada awalnya ular itu tidak curiga sama sekali. Ia bahkan merasa bangga karena banyak binatang memperhatikan dirinya. Namun semakin lama, ikatan yang melilit tubuhnya semakin banyak.
Apabila satu ikatan selesai, segera ditambah dengan ikatan yang lain. Tubuh ular berot akhirnya terikat pada batang-batang kayu dan akar pohon yang berada di tepi sungai. Ia masih belum menyadari apa yang sedang terjadi. Kesombongannya telah membuat pikirannya menjadi tumpul.
"Apakah sudah selesai?" tanya ular berot.
"Sebentar lagi," jawab kancil.
"Aku sudah tidak sabar mendengar hasilnya."
"Kami juga."
Ketika ikatan terakhir selesai dipasang, kancil melompat ke atas sebuah batang kayu. Semua binatang lain segera menjauh beberapa langkah. Mereka menahan tawa sambil melihat ular berot yang masih menunggu hasil pengukuran.
"Nah, sekarang coba bergerak sedikit," kata kancil.
Ular berot mencoba mengangkat kepalanya. Namun tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak. Ia berusaha menggeliat sekuat tenaga, tetapi ikatan rotan justru semakin mengencang. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah ditipu.
"Kancil! Apa yang kau lakukan?" teriaknya.
"Aku sedang mengukur panjang kesombonganmu."
"Maksudmu apa?"
"Maksudku, kau sudah terlalu lama menakut-nakuti penghuni hutan."
Semua binatang tertawa mendengar jawaban itu. Burung punai yang sejak tadi mengamati dari atas pohon sampai mengepakkan sayapnya karena gembira. Rusa dan pelanduk saling berpandangan sambil tersenyum lega. Mereka merasa akhirnya ada yang memberi pelajaran kepada ular berot.
"Lepaskan aku!" teriak ular berot.
"Kenapa harus dilepaskan?"
"Aku tidak bisa bergerak."
"Itulah yang dirasakan penghuni hutan selama ini ketika kau menghalangi jalan mereka."
Ular berot tidak bisa menjawab. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bagaimana tidak berdayanya berada dalam kesulitan. Ia hanya bisa meronta-ronta sambil berharap ada yang menolongnya. Namun tidak ada seekor pun binatang yang bersedia membantu.
Sepanjang hari ular berot tetap terikat di tepi sungai. Sementara itu, para penghuni hutan kembali menggunakan jalan setapak seperti biasa. Mereka bisa pergi mencari makan tanpa rasa takut. Hutan yang selama ini terasa mencekam perlahan kembali ramai.
Menjelang malam, air sungai mulai pasang. Sebagian rotan yang basah perlahan-lahan menjadi longgar. Dengan susah payah, ular berot akhirnya berhasil melepaskan diri. Tubuhnya terasa pegal dan harga dirinya jauh lebih sakit daripada badannya.
Sejak hari itu, ular berot tidak pernah lagi menghalangi jalan penghuni hutan. Ia juga tidak lagi membanggakan ukuran tubuhnya kepada binatang lain. Setiap kali melihat kancil, ia segera menyingkir dan memilih diam. Pengalaman tersebut membuatnya sadar bahwa kekuatan tanpa akal bukanlah sesuatu yang patut disombongkan.
Adapun kancil semakin terkenal di seluruh hutan rawa Banyuasin. Kisah tentang kecerdikannya diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak binatang sering tertawa ketika mendengar bagaimana ular berot membiarkan dirinya sendiri diikat. Sejak itulah orang-orang tua di hutan sering berkata bahwa tubuh yang besar belum tentu lebih hebat daripada akal yang cerdik (***)
