-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Mirip Sekilas, Ternyata Beda! Ini Perbedaan Ikan Belumbung dan Ikan Kepala Batu yang Sering Membuat Orang Banyuasin Keliru

Minggu, 14 Juni 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-14T01:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Bagi masyarakat pesisir dan tepian sungai di Kabupaten Banyuasin, ikan belumbung dan ikan kepala batu bukanlah nama yang asing. Keduanya kerap dijumpai dalam bentuk ikan asin di pasar-pasar tradisional, bahkan tidak sedikit orang yang mengira kedua ikan ini sebenarnya sama. Sekilas memang bentuknya mirip. Warna tubuhnya keperakan, sama-sama sering diawetkan dengan garam, dan sama-sama berasal dari kelompok ikan laut yang hidup di perairan muara.


Namun jika diperhatikan lebih teliti, belumbung dan kepala batu ternyata memiliki sejumlah perbedaan yang cukup jelas.


Ikan Asin Belumbung 

Ikan belumbung umumnya memiliki tubuh yang lebih ramping dan memanjang. Bentuk kepalanya relatif kecil dibandingkan ukuran badan, dengan moncong yang lebih meruncing. Dalam keadaan segar, ikan ini dikenal memiliki daging yang cukup lembut dan rasa gurih yang khas. Di Banyuasin, belumbung sering diolah menjadi ikan asin karena tekstur dagingnya tetap baik setelah melalui proses penggaraman dan penjemuran.


Berdasarkan ciri morfologi yang tampak pada foto serta kesesuaiannya dengan berbagai referensi perikanan, ikan belumbung diduga kuat termasuk kelompok gulamah atau croaker dari famili Sciaenidae. Nama ilmiah yang paling mendekati adalah Johnius trachycephalus. Di beberapa daerah Indonesia, spesies ini juga dikenal sebagai salah satu jenis gulamah yang banyak ditemukan di kawasan estuari dan pesisir berlumpur.


Ikan Asin Kepala Batu

Sementara itu, ikan kepala batu memiliki penampilan yang lebih kekar. Tubuhnya tampak lebih tinggi, kepalanya lebih besar, dan bagian dahinya terlihat lebih tebal. Ciri inilah yang kemungkinan melahirkan nama lokal "kepala batu". Ketika sudah diasinkan, bentuk kepala yang besar tersebut masih terlihat jelas sehingga mudah dikenali oleh para pedagang maupun nelayan.


Jika dibandingkan dengan belumbung, ikan kepala batu tampak memiliki proporsi kepala yang jauh lebih dominan terhadap tubuhnya. Dari ciri-ciri tersebut, ikan ini diduga berasal dari kelompok Sciaenidae yang berbeda, kemungkinan dari genus Nibea atau Otolithes. Dua spesies yang cukup mendekati adalah Nibea soldado dan Otolithes ruber, yang di berbagai daerah juga dikenal sebagai gelama batu atau gulamah batu.


Walaupun keduanya masih satu keluarga besar, yaitu famili Sciaenidae, bukan berarti keduanya adalah ikan yang sama. Hubungannya dapat diibaratkan seperti saudara dekat yang memiliki kemiripan bentuk, tetapi tetap berbeda jenis. Karena itu, penyebutan belumbung dan kepala batu oleh masyarakat Banyuasin kemungkinan memang merujuk pada dua spesies yang berbeda.


Menariknya, pengetahuan semacam ini telah lama hidup di tengah masyarakat nelayan Banyuasin. Para nelayan tradisional biasanya mampu membedakan kedua ikan tersebut hanya dengan melihat bentuk kepala, ketebalan badan, atau tekstur dagingnya. Pengetahuan lokal itu sering kali diwariskan dari generasi ke generasi, jauh sebelum ada buku identifikasi ikan atau penelitian ilmiah yang menjelaskan perbedaannya.


Meski demikian, identifikasi hingga tingkat spesies secara pasti tetap memerlukan pengamatan langsung terhadap ikan segar, terutama pada bentuk sirip, jumlah jari-jari sirip, struktur mulut, sisik, serta bagian gelembung renangnya. Foto ikan asin hanya dapat memberikan petunjuk awal karena bentuk tubuh telah berubah akibat proses penggaraman dan pengeringan.


Yang jelas, berdasarkan pengamatan terhadap kedua foto tersebut, ikan belumbung dan ikan kepala batu sangat mungkin merupakan dua jenis ikan yang berbeda, meskipun masih berada dalam satu keluarga besar ikan gulamah yang menjadi bagian penting dari tradisi pangan masyarakat pesisir Banyuasin (***) 

×
Berita Terbaru Update