Di padang sunyi Yordania, berdirilah sebuah pohon tua yang terus menolak mati. Rantingnya menua, daunnya mulai jarang, tapi setiap hembusan angin seolah menyimpan kalimat syahadat yang tak pernah berhenti bergetar. Ia disebut Pohon Sahabi — pohon sahabat. Sebab di bawah rindangnya dulu, Rasulullah ﷺ pernah berteduh. Sejak itu, ia tak lagi sama. Sejak itu pula, ia belajar mencintai dalam diam, menjaga dalam sepi.
Pohon itu tidak tumbang, padahal tanah di sekitarnya kering dan sunyi. Ia tak disiram, tak dirawat, tapi hidupnya seolah ditiup doa. Barangkali karena cinta, dan cinta yang benar tak butuh alasan untuk bertahan. Ia menyimpan kisah ketika Rasulullah masih muda, dalam perjalanan dagang ke Syam. Ketika awan meneduhinya, dan seekor pohon bergeser memberi teduh. Di situlah cinta pertama bumi kepada kenabian bermula.
Kini pohon itu tinggal sendiri. Orang datang hanya sesekali, menatapnya, memotret, lalu pergi. Ia tetap berdiri, menatap ke cakrawala yang sama yang dulu disaksikan Nabi. Debu menutup akarnya, tapi ia tetap mengakar dalam ingatan wahyu. Betapa getir kesetiaan yang tak disambut, tapi tetap setia. Pohon itu seolah sedang mengajarkan: “Tak apa dicintai tanpa dibalas, asalkan cintamu benar.”
Aku sering membayangkan, jika pohon itu punya suara, mungkin ia akan berbisik lirih: “Ya Rasulullah, umatmu datang hanya untuk berfoto, bukan berdoa.” Kalimat itu mungkin tak terdengar, tapi terasa. Karena yang paling suci dari cinta bukanlah kehebatannya, melainkan ketulusannya untuk tetap ada meski dilupakan. Pohon itu mengingat kita, tapi kita tak lagi mengingatnya.
Di dunia yang sibuk menanam pohon untuk penghargaan, bukan untuk penghormatan, Pohon Sahabi berdiri sebagai paradoks. Ia hidup bukan karena teknologi, tapi karena ingatan. Ia tak punya sistem irigasi, tapi disirami oleh kenangan. Tak ada pupuk, tapi ada keberkahan yang menghidupkan akar. Pohon itu tidak pernah berkhianat kepada sejarah.
Mungkin, di ujung waktu nanti, ketika dunia sudah terlalu bising, hanya pohon seperti itulah yang masih mengenang Rasulullah dengan jujur. Karena setia bukan berarti selalu dekat, tapi selalu mengingat. Dan di antara segala yang hidup di bumi ini, barangkali hanya satu pohon di Yordania itu yang benar-benar tahu arti rindu yang tak bertepi (***)
