Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Di sebuah pasar tradisional yang ramai di Tanah Banyuasin, orang-orang datang sejak pagi membawa hasil kebun, ikan tangkapan, dan aneka barang dagangan. Suara tawar-menawar bersahut-sahutan, bercampur dengan aroma ikan segar dan kue-kue tradisional yang baru diangkat dari kukusan. Di tengah keramaian itu, berjalanlah Pak Pandir dengan langkah santai, sambil sesekali berhenti melihat barang yang sebenarnya tidak ia mengerti.
Pak Pandir memang dikenal oleh orang-orang kampung sebagai sosok yang polos dan sering bertindak di luar nalar. Ia sering merasa dirinya paling pandai, padahal justru sering keliru dalam mengambil kesimpulan. Namun, tingkah lakunya yang aneh itu justru membuat banyak orang tertawa dan tidak pernah benar-benar marah kepadanya. Hari itu, ia datang ke pasar dengan niat yang tidak terlalu jelas, sekadar ingin “melihat-lihat sambil berpikir,” katanya.
Di sudut pasar, dekat lapak penjual buah, duduklah seorang lelaki tua yang buta. Ia memegang tongkat kayu sederhana, dan di depannya ada beberapa barang kecil yang ia jual, seperti sapu lidi dan anyaman daun nipah. Wajahnya tenang, seolah-olah ia sudah sangat akrab dengan hiruk-pikuk pasar tanpa harus melihatnya.
Pak Pandir menghampiri lelaki itu dengan penuh rasa ingin tahu. Ia berdiri cukup lama tanpa berkata apa-apa, hanya memperhatikan dengan tatapan serius. Dalam pikirannya, ia merasa sedang mengamati sesuatu yang sangat penting, padahal ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia cari.
“Hei, Pak Tua, kau ini benar-benar tidak bisa melihat?” tanya Pak Pandir akhirnya.
“Iya, Nak. Mata ini sudah lama gelap. Tapi telinga dan hati masih bisa melihat,” jawab lelaki itu dengan tenang.
Pak Pandir mengangguk-angguk, meskipun ia tidak benar-benar paham maksud jawaban itu. Ia lalu berjalan memutar, seolah ingin menguji sesuatu. Beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan tingkahnya yang aneh itu.
“Kalau begitu, coba tebak aku sekarang di mana?” kata Pak Pandir sambil berpindah ke sisi kanan.
“Aku dengar langkah kakimu. Kau di sebelah kanan,” jawab lelaki itu.
Pak Pandir terkejut. Ia langsung berpindah lagi, kali ini ke belakang.
“Sekarang?” tanyanya lagi.
“Kau di belakangku,” jawab lelaki itu tanpa ragu.
Pak Pandir semakin heran. Ia mulai merasa bahwa orang buta ini sebenarnya tidak buta, atau mungkin punya ilmu rahasia. Ia pun menggaruk kepalanya sambil berpikir keras, sesuatu yang jarang ia lakukan dengan hasil yang benar.
Dalam benaknya, Pak Pandir menyimpulkan bahwa orang buta ini pasti hanya berpura-pura. Ia merasa telah menemukan rahasia besar. Tanpa berpikir panjang, ia mendekat lagi dan berbicara dengan nada agak menuduh.
“Ah, aku tahu! Kau ini tidak benar-benar buta. Kau hanya pura-pura supaya orang kasihan!” kata Pak Pandir dengan yakin.
Lelaki tua itu tersenyum kecil. Ia tidak marah, hanya menghela napas pelan seolah sudah sering menghadapi orang seperti Pak Pandir. Beberapa orang di sekitar mulai tersenyum, bahkan ada yang menahan tawa.
“Kalau aku pura-pura, untuk apa aku duduk di sini setiap hari menjual sapu?” jawabnya lembut.
Pak Pandir terdiam sejenak. Namun, karena sifatnya yang keras kepala, ia tetap mencoba membuktikan pendapatnya. Ia lalu mengambil sebuah buah dari lapak sebelah tanpa izin, dan menyembunyikannya di belakang punggung.
“Kalau kau memang tidak bisa melihat, coba katakan ini buah apa?” tanya Pak Pandir.
“Aku tidak bisa melihat, tapi aku bisa mencium. Itu buah rambutan, kan?” jawab lelaki itu.
Pak Pandir makin bingung. Ia mencium buah itu sendiri dan sadar bahwa memang baunya kuat. Orang-orang di sekitar mulai tertawa kecil melihat ekspresi Pak Pandir yang berubah-ubah.
Merasa belum puas, Pak Pandir mencoba lagi. Ia menggoyangkan kantong uangnya yang berisi koin di dekat telinga lelaki itu.
“Kalau ini apa?” tanyanya lagi.
“Itu suara uang koin. Kau mungkin sedang ingin membeli sesuatu, tapi belum tahu apa,” jawab lelaki itu.
Kali ini tawa orang-orang pecah lebih jelas. Pak Pandir mulai merasa sedikit malu, meskipun ia masih berusaha menutupinya dengan wajah sok serius. Ia tidak menyangka bahwa orang yang tidak bisa melihat justru tampak lebih “mengerti” daripada dirinya.
Akhirnya, Pak Pandir duduk di samping lelaki itu. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak banyak bicara. Ia hanya memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang, mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
“Pak Tua,” katanya pelan, “kalau kau tidak bisa melihat, bagaimana kau tahu pasar ini ramai?”
“Aku mendengar suara orang, langkah kaki, dan cara mereka berbicara. Dunia ini tidak hanya dilihat dengan mata,” jawab lelaki itu.
Pak Pandir mengangguk perlahan. Dalam hatinya, ada sesuatu yang bergerak, semacam kesadaran kecil yang baru tumbuh. Ia mulai mengerti bahwa selama ini ia sering melihat tanpa benar-benar memahami.
Ia lalu berdiri dan membantu merapikan barang dagangan lelaki itu. Orang-orang yang melihat kejadian itu tersenyum, merasa bahwa untuk sekali ini, Pak Pandir belajar sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar lelucon.
Sejak hari itu, setiap kali Pak Pandir datang ke pasar, ia selalu menyempatkan diri duduk bersama lelaki buta itu. Bukan untuk menguji atau mencari kesalahan, tetapi untuk mendengar. Dan anehnya, dari situlah, sedikit demi sedikit, kepandirannya mulai berkurang—meskipun tidak pernah benar-benar hilang.
