![]() |
| Ilustrasi Abu Lubabah |
Langit Madinah siang itu terasa berat. Debu-debu gurun berputar pelan, seolah ikut menyimpan kegelisahan yang tak terucap. Di tengah kota yang masih muda peradabannya itu, seorang sahabat Nabi berjalan dengan langkah gontai, memikul beban yang tak tampak di pundaknya.
Dialah Abu Lubabah. Seorang yang telah menyaksikan turunnya wahyu, yang shalat di belakang Rasulullah, yang menghirup udara perjuangan Islam sejak masa-masa sulit. Namun hari itu, ia merasa dirinya bukan lagi bagian dari cahaya—melainkan bayangan yang menggelap.
Ketika konflik dengan Bani Quraizhah memuncak, Abu Lubabah diutus untuk berbicara dengan mereka. Ia dikenal memiliki hubungan lama dengan kabilah itu; sebagian keluarga dan hartanya pernah terkait dengan mereka. Karena itulah ia dipercaya, dan karena itulah ia diuji.
Di hadapan para lelaki Bani Quraizhah, tatapan mereka penuh tanya. “Apa yang akan dilakukan Muhammad kepada kami jika kami menyerah?” tanya mereka dengan suara bergetar.
Abu Lubabah terdiam. Hatinya bergolak. Ia tahu keputusan akhir akan berada di tangan hukum yang adil, tetapi bayangan konsekuensi perang melintas cepat dalam pikirannya. Tanpa kata, tangannya bergerak ke arah lehernya—sebuah isyarat yang dipahami sebagai tanda hukuman berat.
Isyarat itu singkat. Hanya sepersekian detik. Tetapi bagi Abu Lubabah, itulah detik yang membelah hidupnya.
Begitu ia melangkah pergi dari perkampungan mereka, kesadaran menghantamnya. “Apa yang telah aku lakukan?” gumamnya. Ia merasa telah membocorkan rahasia strategi, seolah mendahului keputusan Rasulullah, seolah membiarkan emosi mengalahkan amanah.
Kakinya tak lagi terasa ringan. Setiap langkah menuju Madinah seperti berjalan di atas bara. Ia tak berani langsung menghadap Rasulullah. Rasa malu dan takut pada Allah menyesakkan dadanya.
Sesampainya di Masjid Nabawi, ia tidak masuk dengan wajah tegar sebagaimana biasa. Ia datang sebagai seorang yang merasa bersalah. Tanpa banyak kata kepada siapa pun, ia mengambil seutas tali.
Di salah satu tiang masjid, ia mengikat dirinya sendiri.
Orang-orang terkejut. “Apa yang engkau lakukan, wahai Abu Lubabah?” tanya mereka.
“Aku telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya,” jawabnya dengan suara parau. “Aku tidak akan melepaskan diriku hingga Allah menerima tobatku.”
Hari pertama berlalu dengan perut kosong dan tenggorokan kering. Ia hanya dilepaskan saat waktu shalat tiba, lalu diikat kembali setelahnya. Matahari Madinah membakar kulitnya di siang hari, dan malam menghadirkan dingin yang menusuk tulang.
Hari kedua, tubuhnya mulai melemah. Bibirnya pecah-pecah. Namun yang lebih perih adalah luka di hatinya. Setiap detik ia ulang kembali peristiwa itu: isyarat tangan yang sederhana, namun sarat makna.
Ia tidak menyalahkan siapa pun. Tidak keadaan. Tidak tekanan. Tidak pula Bani Quraizhah. Ia menyalahkan dirinya sendiri—karena merasa telah mengkhianati amanah.
Hari-hari berikutnya menjadi saksi penyesalan yang sunyi. Beberapa sahabat datang membujuknya agar melepaskan diri. Mereka berkata bahwa Allah Maha Pengampun. Namun Abu Lubabah menjawab, “Biarlah Allah sendiri yang membebaskanku.”
Di rumahnya, keluarganya menangis. Anak-anaknya memandang ayah mereka yang terikat di tiang masjid. Istrinya tak kuasa menahan air mata. Namun ia tetap teguh dalam ikatan itu—ikatan yang bukan hanya pada tiang kayu, tetapi pada janji pertobatan.
Rasulullah mengetahui apa yang dilakukan Abu Lubabah. Beliau tidak segera memerintahkannya untuk dilepaskan. Beliau menunggu keputusan dari langit—sebuah pengajaran bahwa pengampunan sejati datang dari Allah, bukan sekadar dari manusia.
Suatu pagi, setelah beberapa hari yang terasa seperti bertahun-tahun, kabar itu datang. Wahyu turun, membawa berita bahwa tobat Abu Lubabah diterima.
Rasulullah tersenyum. Wajah beliau bercahaya. “Telah diterima tobat Abu Lubabah,” sabda beliau.
Mendengar kabar itu, para sahabat bergegas ke masjid untuk melepaskan ikatannya. Namun Abu Lubabah berkata, “Demi Allah, tidak seorang pun yang akan melepaskanku selain Rasulullah sendiri.”
Ketika Rasulullah datang dan melepaskan tali itu dengan tangan beliau, Abu Lubabah menangis tersedu. Bukan tangis kelemahan, melainkan tangis seorang hamba yang merasa kembali dipeluk rahmat Tuhannya.
Tubuhnya kurus. Wajahnya pucat. Tetapi hatinya terasa ringan seperti kapas yang tertiup angin.
Ia berkata bahwa sebagian hartanya akan ia sedekahkan sebagai tanda tobat. Namun Rasulullah menasihatinya agar tidak berlebihan. Tobat tidak selalu harus ditebus dengan kehilangan segalanya; yang Allah kehendaki adalah hati yang kembali.
Kisah Abu Lubabah adalah kisah tentang manusia yang tergelincir, bukan karena kebencian, tetapi karena kelemahan sesaat. Ia bukan pengkhianat dalam niat, melainkan hamba yang terlalu cepat memberi isyarat sebelum amanah selesai ditunaikan.
Dan dari tiang masjid itu, sejarah mencatat satu pelajaran sunyi: bahwa rasa bersalah yang jujur bisa menjadi jembatan menuju rahmat. Bahwa pengakuan atas kesalahan lebih mulia daripada pembenaran diri. Dan bahwa dalam Islam, pintu tobat tidak pernah tertutup selama hati masih mau kembali.
Di bawah langit Madinah, bekas tali mungkin telah lama hilang. Namun jejak penyesalan Abu Lubabah tetap hidup—sebagai pengingat bahwa kehormatan seorang mukmin bukan pada tak pernah salah, melainkan pada keberanian untuk mengakui dan memperbaikinya (***)
