BAB VI
Jejak yang Tidak Diminta
(Bagian 3)
Tidak ada satu hari pun yang disepakati sebagai awal perubahan. Tidak ada tanggal yang ditandai, tidak ada peristiwa yang secara resmi disebut sebagai titik mula. Kisah tentang Beremban Besi tumbuh perlahan, hampir tanpa disadari, seperti tanah yang mengeras setelah lama diinjak.
“Sejak kapan orang mulai sering menyebut namanya?” tanya seorang lelaki di beranda.
“Sejak perampok pergi,” jawab yang lain.
“Bukan,” sahut seorang tua sambil menggeleng. “Sejak nipah di Talang Gelumbang berubah warna.”
Yang lain tertawa pelan.
“Aku kira sejak dulu. Sejak ia masih anak gondrong yang tidak suka membalas.”
Tidak ada yang benar-benar ingin menang dalam perdebatan itu. Mereka hanya berbagi ingatan, bukan mencari kesimpulan.
Beremban Besi mendengar potongan-potongan cerita itu dari kejauhan. Ia tidak ikut duduk, tidak ikut menyela.
Biarlah mereka memilih awalnya sendiri, batinnya. Awal tidak pernah sepenting apa yang dilakukan setelahnya.
Cerita tentang dirinya mulai hidup di banyak tempat. Di beranda rumah saat senja, di tepi ladang ketika orang berhenti sejenak dari kerja, dan di perahu-perahu kecil yang melintas perlahan di sungai. Cerita itu tidak diucapkan keras-keras, melainkan dengan nada yang dijaga.
Seorang ibu berkata pada anaknya, “Dengarkan baik-baik. Cerita ini bukan untuk membuatmu berani, tapi supaya kau tahu kapan harus berhenti.”
Orang-orang tua menceritakannya tanpa melebihkan. Tidak ada api yang keluar dari tangan. Tidak ada petir yang turun dari langit. Mereka sengaja menghindari keajaiban yang terlalu tinggi.
“Dia bukan kuat supaya bisa berperang,” kata seorang tetua.
“Lalu untuk apa?” tanya seorang pemuda.
“Supaya orang lain tidak perlu berperang,” jawab tetua itu.
Kalimat itu tinggal lebih lama daripada cerita lainnya. Ia diulang, dipendekkan, dan akhirnya menjadi semacam pegangan.
Beremban Besi tetap menjalani hidup seperti biasa. Ia ke ladang, menyusuri sungai, dan duduk di beranda ketika senja turun. Namun ia merasakan perubahan yang halus.
Namaku disebut, batinnya suatu hari, tapi aku tidak lagi dicari.
Orang-orang tidak menunjuk ke arahnya ketika bercerita. Mereka menunjuk sungai.
“Di situ,” kata mereka.
“Di sana dulu kekacauan dihentikan.”
Mereka menunjuk nipah kuning. Mereka menunjuk alur air yang dulu penuh jejak tergesa. Beremban Besi menjadi latar, bukan pusat.
Anak-anak tumbuh dengan cerita itu sebagai bagian dari dunia mereka. Mereka bermain di sekitar nipah kuning tanpa takut, tetapi dengan rasa ingin tahu.
“Kenapa daunnya tidak hijau?” tanya seorang anak.
“Karena tanahnya pernah terlalu lelah,” jawab seorang kakek.
“Karena apa?”
“Karena manusia.”
Anak itu terdiam. Ia belum sepenuhnya mengerti, tetapi kata itu tertinggal.
Sang kakek wafat pada suatu pagi yang tenang. Tidak ada sakit panjang, tidak ada kegaduhan. Hanya napas yang berhenti dengan cara yang rapi, seolah ia tahu kapan harus selesai.
Beremban Besi mengantarkannya dengan diam. Ia berjalan di belakang usungan, menunduk, tidak menangis keras.
Semua yang perlu kukatakan sudah kukatakan padanya ketika ia masih mendengar, batinnya.
Tidak ada ratapan. Yang ada hanyalah keheningan yang penuh terima.
Setelah itu, Beremban Besi semakin jarang terlihat di pusat kampung. Ia tidak menghilang. Ia masih ada, masih bekerja, masih menyapa. Namun ia tidak lagi berada di tempat orang berkumpul lama.
“Ke mana dia sekarang?” tanya seseorang.
“Masih di sini,” jawab yang lain. “Hanya tidak selalu tampak.”
Beberapa orang bersumpah pernah melihatnya berjalan menyusuri sungai saat senja, sendirian. Yang lain berkata itu hanya bayangan yang mirip.
“Perlu dipastikan?” tanya seseorang.
“Tidak,” jawab yang lain. “Tidak penting.”
Nama Beremban Besi terus disebut, tetapi wajahnya perlahan memudar dalam ingatan. Yang tinggal bukan sosok, melainkan sikap.
Nipah kuning tetap tumbuh di Talang Gelumbang. Setiap musim hujan, warnanya semakin jelas. Setiap musim kemarau, ia mengering dengan warna yang sama, seolah menolak kembali menjadi hijau sepenuhnya.
“Kenapa tidak hijau lagi?” tanya seorang pendatang.
Orang-orang saling pandang.
“Entahlah,” kata mereka. “Mungkin tanahnya menyimpan terlalu banyak jejak.”
“Ada yang bilang darah,” kata seseorang.
“Ada yang bilang keringat,” sahut yang lain.
Tidak ada yang sepakat. Dan tidak ada yang merasa perlu sepakat.
Yang mereka tahu hanya satu: sejak peristiwa itu, kapal-kapal asing tidak lagi naik ke hulu Sungai Banyuasin. Sungai itu seolah memiliki ingatan, dan ingatan itu cukup untuk membuat orang berpikir dua kali.
Pada malam-malam tertentu, ketika angin berhembus pelan dan air sungai berkilau oleh cahaya bulan, orang-orang tua duduk di beranda bersama cucu-cucu mereka.
“Kalau kau merasa sungai terlalu sunyi,” kata mereka lirih,
“jangan takut.”
“Kenapa?” tanya cucu-cucu itu.
“Itu tanda orang-orang sedang ingat,” jawab mereka.
Anak-anak tidak selalu mengerti. Tetapi mereka mengingat kalimat itu.
Dan begitulah kisah Beremban Besi hidup. Bukan sebagai dongeng tentang tubuh yang tidak terluka, melainkan sebagai cerita tentang batas. Tentang kekuatan yang tahu kapan harus berhenti. Tentang keteguhan yang memilih menjaga, bukan menguasai.
Jika suatu hari namaku hilang, batin Beremban Besi entah di mana, biarlah sungai ini tetap mengalir dengan cara yang sama.
Nama itu kini tidak lagi berdiri sebagai milik seseorang. Ia melebur ke dalam sungai, nipah, dan ingatan orang-orang Banyuasin.
Dan selama Sungai Banyuasin terus mengalir, kisah itu akan tetap diceritakan—
bukan untuk mengagungkan satu orang,
melainkan untuk mengingatkan
bahwa pernah ada masa
ketika keberanian memilih diam,
dan keteguhan memilih menjaga.
Tamat.
