![]() |
| Ilustrasi |
Banyuasin Pos – Membaca bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan pintu menuju dunia yang lebih luas. Karena itu, menanamkan minat baca sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting untuk membekali generasi muda menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Langkah paling sederhana dimulai dari rumah. Membacakan cerita pada anak sejak mereka masih bayi ternyata mampu menumbuhkan kecintaan terhadap kata-kata. Dari buku-buku bergambar hingga cerita sederhana, pengalaman ini bukan hanya mempererat hubungan orang tua dan anak, tetapi juga menanamkan fondasi literasi sejak dini.
Tak kalah penting, orang tua bisa memperkenalkan buku papan dan buku bergambar yang sesuai dengan usia anak. Ilustrasi menarik dan cerita ringan membuat anak merasa membaca adalah kegiatan menyenangkan, bukan beban.
Di tengah perkembangan teknologi, aplikasi edukatif juga bisa menjadi jembatan. Permainan interaktif seperti teka-teki kata atau buku digital dengan animasi membuat anak belajar membaca sambil bermain. Namun, tentu saja peran pendampingan orang tua tetap sangat dibutuhkan.
Mengajak anak berkunjung ke perpustakaan juga menjadi pengalaman berharga. Suasana tenang, deretan buku, hingga kebebasan memilih bacaan sendiri memberi kesan positif yang mendorong anak semakin dekat dengan buku.
Selain itu, teladan dari orang tua dan guru juga berperan besar. Ketika anak melihat orang dewasa di sekitarnya rajin membaca, mereka cenderung meniru kebiasaan itu. “Anak-anak belajar bukan dari kata-kata, tapi dari contoh,” ujar salah seorang guru di Banyuasin.
Membaca juga bisa dimasukkan ke dalam rutinitas harian, misalnya sebelum tidur atau saat waktu senggang. Bahkan, berbincang tentang cerita yang baru saja dibaca akan membuat anak lebih antusias dan mengasah daya imajinasinya.
Di beberapa keluarga dan sekolah, sesi membaca bersama sudah mulai rutin dilakukan. Kegiatan ini tidak hanya mempererat ikatan, tetapi juga mengajarkan anak tentang pentingnya berbagi pengalaman lewat buku.
Membangun perpustakaan kecil di rumah atau sekolah juga bisa menjadi strategi jitu. Dengan begitu, anak memiliki banyak pilihan bacaan sesuai minatnya.
Yang terpenting, membaca harus selalu dihadirkan sebagai kesenangan, bukan kewajiban. Memberi anak kebebasan memilih apa yang ingin mereka baca adalah kunci agar minat baca tumbuh dengan alami dan berkelanjutan (***)


