![]() |
Kuau Raja dan Pisang yang Tak Pernah Cukup |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pagi itu kabut masih menggantung tipis di atas rawa-rawa Tanah Banyuasin. Cahaya matahari perlahan menyelinap di antara pepohonan, membuat embun berkilau di ujung ilalang. Burung-burung kecil mulai berkicau bersahut-sahutan, sementara aliran sungai mengalir tenang membawa daun-daun kering ke hilir. Di tengah suasana yang damai itu, Kuau Raja berjalan ringan menyusuri tepian rawa sambil mengamati segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya.
Kuau Raja memang dikenal sebagai burung yang selalu ingin tahu. Ia sering menemukan hal-hal aneh yang luput dari perhatian penghuni hutan lainnya. Kadang rasa penasarannya membuatnya terjebak dalam masalah, tetapi lebih sering justru membawanya menemukan jalan keluar yang cerdik. Pagi itu, matanya tertuju pada sebuah rumpun pisang hutan yang sedang berbuah lebat di tepi sungai kecil.
Di sekitar rumpun pisang itu tampak Burung Punai dan Serindit sedang mematuk beberapa buah yang sudah masak. Mereka hanya mengambil seperlunya lalu kembali bertengger di dahan sambil berceloteh riang. Angin yang sejuk membuat suasana pagi terasa begitu menyenangkan. Tidak ada seekor pun yang berniat menguasai seluruh rumpun pisang itu.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari atas pohon.
"Hoi! Jangan ada yang menyentuh pisang itu!" teriak Monyet Ekor Panjang sambil bergelantungan. "Semua pisang ini milikku!"
Serindit mendongakkan kepala sambil mengerutkan dahi. Burung kecil itu berkedip beberapa kali seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Burung Punai juga saling berpandangan sambil menahan tawa. Mereka belum pernah mendengar ada monyet yang mengaku memiliki pohon pisang hutan.
"Lho, sejak kapan rumpun pisang itu menjadi milikmu?" tanya Serindit.
"Sejak aku melihatnya lebih dulu!" jawab Monyet dengan bangga.
Burung Punai hanya menggeleng pelan. Mereka memilih terbang ke tempat lain daripada berdebat dengan monyet yang sedang besar kepala. Serindit pun ikut terbang sambil menggumam bahwa pagi itu Monyet pasti baru saja mimpi menjadi raja hutan. Dari kejauhan, Kuau Raja memperhatikan semua tingkah itu dengan senyum tipis di wajahnya.
Tak lama kemudian, Monyet mulai memetik semua sisir pisang yang ada. Ia mengambil satu demi satu tanpa menyisakan buah untuk siapa pun. Anehnya, banyak pisang hanya digigit sedikit lalu dilempar begitu saja ke tanah. Ada yang jatuh ke lumpur, ada yang hanyut ke sungai, bahkan ada yang mengenai tempurung kura-kura hingga membuat kura-kura itu buru-buru menyelam karena kaget.
Kuau Raja menghampiri rumpun pisang itu sambil berpura-pura baru datang.
"Eh, tinggal sedikit ya?" katanya santai.
"Sedikit? Semua ini punyaku!" jawab Monyet sambil memeluk tumpukan pisang.
"Tapi kau sudah membawa banyak sekali."
"Belum cukup! Kalau ada seratus sisir, semuanya juga akan kuambil."
Kuau Raja mengangguk pelan seolah memahami. Dalam hati ia mulai menyusun akal yang membuatnya terkenal di seluruh hutan. Ia tahu monyet itu sangat senang dipuji dan lebih senang lagi jika menjadi pusat perhatian. Karena itulah, ia memilih menggunakan cara yang lucu daripada berdebat panjang.
"Kalau begitu," kata Kuau Raja, "kau pantas mendapatkan gelar Monyet Terkaya di Hutan Banyuasin."
Mata Monyet langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Tentu. Tapi gelar itu harus disaksikan semua penghuni hutan."
Mendengar usul itu, Monyet langsung bersemangat. Ia membantu Kuau Raja mengundang siapa saja yang ditemuinya. Belibis segera datang bergerombol sambil ribut bergosip. Burung Punai ikut hinggap di dahan-dahan sekitar rumpun pisang, sedangkan Serindit terbang ke sana kemari menyebarkan kabar bahwa akan ada pemberian gelar paling bergengsi di hutan Banyuasin.
Tak lama kemudian, hampir semua penghuni hutan yang sedang berada di sekitar rawa berkumpul. Mereka berdiri melingkar dengan wajah penasaran. Kuau Raja naik ke atas sebatang tunggul kayu agar semua dapat melihatnya. Sementara itu Monyet Ekor Panjang berdiri tegak dengan dada membusung dan senyum selebar daun pisang.
"Saudara-saudara," kata Kuau Raja lantang, "hari ini kita akan menyaksikan kekayaan luar biasa milik Monyet Ekor Panjang."
Monyet melambaikan tangan ke segala arah.
"Silakan tunjukkan semua simpananmu," lanjut Kuau Raja.
Dengan penuh kebanggaan, Monyet membawa semua pisang yang tadi disembunyikannya di balik semak, di atas dahan, dan di antara akar pohon. Namun ketika semuanya ditumpuk di hadapan para penghuni hutan, suasana mendadak hening. Banyak pisang ternyata sudah penyok karena dilempar sembarangan. Sebagian mulai membusuk, beberapa digigit tupai, bahkan seekor landak tampak santai mengunyah satu sisir seolah itu memang jatahnya.
Belibis tak kuasa menahan tawa hingga suara cekikikannya memenuhi hutan. Burung Punai saling berpandangan sambil tersenyum geli melihat wajah Monyet yang perlahan berubah merah. Serindit bahkan menirukan gaya Monyet ketika tadi berteriak bahwa semua pisang adalah miliknya. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi ramai oleh gelak tawa para penghuni hutan.
Kuau Raja mendekati Monyet yang kini sibuk memilah pisang-pisang yang masih layak dimakan. Ia tidak mengejek ataupun tertawa keras. Dengan suara pelan ia hanya memandang tumpukan pisang yang sebagian besar sudah rusak. Senyumnya tetap ramah, tetapi kata-katanya membuat Monyet semakin tertunduk.
"Aneh ya."
"Apa yang aneh?" gumam Monyet lirih.
"Kau takut kehabisan pisang, padahal yang paling banyak terbuang justru pisang milikmu sendiri."
Belibis kembali tertawa sampai hampir tercebur ke rawa. Serindit berputar-putar di udara sambil menepuk-nepuk sayapnya karena geli. Burung Punai perlahan meninggalkan tempat itu sambil membawa beberapa buah pisang yang masih tersisa untuk anak-anaknya. Sementara Kuau Raja melangkah santai menyusuri tepian rawa dengan siul riang, meninggalkan Monyet Ekor Panjang yang buru-buru menutupi wajahnya menggunakan selembar daun pisang yang robek karena tak sanggup menahan rasa malu (***)
