![]() |
| Ilustrasi Kuau Raja dan Dusun yang Penuh Jerat |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Di tepian rawa yang dipagari hutan lebat Tanah Banyuasin, hiduplah seekor burung Kuau Raja yang terkenal paling sibuk mengurusi rasa penasarannya sendiri. Pagi itu embun masih menggantung di pucuk gelam ketika ia melihat asap tipis mengepul jauh di balik pepohonan. "Wah, awan kok turun ke tanah?" gumamnya. Burung Punai yang sedang mematuk buah rambai buru-buru berkata bahwa itu bukan awan, melainkan asap dari sebuah dusun Melayu. Namun, larangan itu justru membuat Kuau Raja semakin ingin tahu.
Tanpa berpikir panjang, ia mengepakkan sayapnya mengikuti arah asap. Mula-mula ia melewati kebun kelapa, lalu pohon duku, hingga akhirnya tiba di sebuah dusun kecil yang dipenuhi rumah panggung beratap seng. Dari bawah rumah tercium aroma ikan salai, sambal tempoyak, dan gulai rebung. Perut Kuau Raja langsung berbunyi keras sampai seekor ayam kampung menoleh sambil berdecak, "Burung hutan pun bisa keroncongan rupanya."
Belum sempat menikmati pemandangan, terdengar suara anak-anak berteriak, "Eh... ada burung cantik!" Seketika beberapa bocah berlari membawa jaring kupu-kupu, sementara seekor anjing kampung ikut menggonggong seolah menemukan harta karun. Kuau Raja panik. Ia terbang rendah, lalu malah masuk ke halaman rumah seorang nenek yang sedang menjemur padi.
"Celaka! Aku tersesat!" bisiknya.
Ia mencoba terbang tinggi, tetapi benang jemuran melintang seperti jebakan laba-laba raksasa. Sayapnya hampir tersangkut. Kuau Raja buru-buru mendarat di dekat lesung kayu sambil berpikir keras. "Kalau lari begini terus, aku pasti jadi tontonan sekampung."
Matanya lalu menangkap seekor ayam jantan yang sedang berkokok gagah di atas pagar. Ayam itu tampak sangat bangga dengan suaranya. Kuau Raja tersenyum usil.
"Hai, Ayam. Berani adu suara denganku?" katanya.
Ayam itu langsung berdiri tegak. "Mana mungkin aku kalah!"
Kuau Raja sengaja berkokok dengan suara aneh, campuran siulan dan bunyi burung rawa. Ayam jantan tersinggung. Ia membalas lebih keras. Kuau Raja mengulanginya lagi. Tak lama kemudian semua ayam di dusun ikut berkokok bersahut-sahutan.
Anjing yang tadi mengejar Kuau Raja tiba-tiba bingung. Ia berlari ke sana kemari mengejar ayam-ayam yang ribut. Anak-anak pun ikut tertawa sambil mengejar ayam yang beterbangan ke segala arah. Halaman dusun mendadak lebih gaduh daripada pasar pagi.
"Kesempatan!" bisik Kuau Raja.
Ia melompat ke atas batang kelapa yang tumbang, lalu berpindah ke pohon mangga, terus meluncur ke rumpun bambu di tepi sungai kecil. Dari sana ia hampir lolos, tetapi tiba-tiba seorang bapak nelayan melihatnya.
"Wah, burung kuau!" serunya.
Kuau Raja berpikir cepat. Ia memekik nyaring sambil mengepakkan ekornya yang berkilau. Cahaya matahari memantul pada bulunya sehingga terlihat berkilat-kilat. Nelayan itu justru berhenti melangkah.
"Jangan diganggu," katanya kepada anak-anak yang mulai mendekat. "Kalau burung secantik itu sampai masuk dusun, mungkin ia cuma tersesat. Biarkan kembali ke hutannya."
Mendengar itu, Kuau Raja diam-diam mengangguk kecil. Ia tidak menyangka manusia yang baru ditemuinya justru memberi jalan pulang.
Begitu mencapai tepian rawa, ia terbang secepat anak panah. Baru setelah melihat pohon-pohon rumbia yang akrab, napasnya lega. Burung Punai yang sedari tadi cemas langsung menghampiri.
"Bagaimana isi dusun?" tanya Punai.
Kuau Raja menggeleng sambil tertawa kecil.
"Ramai sekali. Ayamnya gampang tersinggung, anjingnya gampang bingung, anak-anaknya larinya cepat, tapi untung masih ada orang yang tahu kalau burung tersesat lebih baik dipulangkan daripada dipelihara."
Burung Punai tertawa hingga hampir jatuh dari dahan. Sementara itu, dari arah dusun masih samar terdengar ayam-ayam yang rupanya belum selesai berdebat, seolah masih mencari siapa sebenarnya lawan berkokok mereka pagi itu (***)
